About Ziana

About Ziana
Chapter 163



Kembali ke kota B


Pertarungan Dian dengan Bang Johan beserta kedua anak buahnya masih terus berlanjut.


Meskipun pertarungan tersebut tidak seimbang 3 vs 1 namun nyatanya baik bang Johan maupun kedua anak buahnya kesulitan untuk melukai Dian.


Gadis itu masih terlihat bersih tanpa ada sedikitpun luka, hanya ada beberapa bulir keringat yang malah membuatnya menjadi semakin cantik.


Berbanding terbalik dengan kedua anak buah Bang Johan yang sudah beberapa kali mencicipi bogeman mentah milik Dian, baik di bagian wajah maupun perut, tidak luput dari sasaran Dian.


Bugh


Lagi-lagi kaki jenjang Dian berhasil mendarat di dada salah satu anak buah Bang Johan hingga pria itu mundur beberapa langkah kebelakang.


Setelah mendapat serangan telak di bagian dadanya, laki-laki itu terlihat memuntahkan seteguk darah yang membuat bang Johan menjadi geram "bod*h kenapa tidak menghindar" makinya kepada anak buahnya.


Lalu tanpa aba-aba Bang Johan menyerang Dian dengan membabi buta


Melihat kemarahan dalam diri lawannya membuat Dian menyeringai.


Dian hanya menangkis serangan-serangan yang diarahkan kepadanya tanpa membalas sehingga membuat bang Johan semakin marah karena merasa diremehkan.


"kenapa hanya menghindar, ayo lawan gue, atau lo merasa takut sekarang?" ejeknya dengan nada yang terdengar angkuh.


Dian bergeming dengan senyum sinis yang tersungging di bibirnya tanpa berniat membalas ucapan lawan yang menurutnya tidak penting


Merasa di abaikan, Bang Johan menambah kecepatannya dalam menyerang Dian.


Tapi itu tidak berarti apa-apa bagi Dian, yang merupakan calon ketua Bloody Rose yang ditunjuk langsung oleh Regan, tanpa sepengetahuan Dian sebab Regan belum membuat pengumuman.


Gadis yang terlihat lugu dan polos itu telah melewati banyak pertarungan selama dirinya terjun ke dunia mafia.


Jika di bandingkan dengan musuh-musuhnya selama ini, pria angkuh seperti bang Johan tidak ada apa-apanya.


Hanya omongannya saja yang besar


Kalau Dian mau, ia bisa saja menjatuhkan bang Johan hanya dalam sekali serang. Namun gadis itu sepertinya ingin bermain-main sebentar sebelum membungkam mulut pria angkuh yang sejak tadi mengoceh itu.


Hingga beberapa saat kemudian, rasa lapar kembali menyerang


Tidak ingin membuang-buang waktu lagi, Dian berbalik menyerang dan beberapa kali mendaratkan pukulannya pada tubuh bang Johan tanpa bisa di tepis saking cepatnya gerakan gadis itu.


Bagh..Bugh..Bagh..Bugh..


Pria yang sedari tadi banyak omong itu mundur teratur ketika melihat Dian mulai memperlihatkan keahlian bertarungnya.


Bahkan pipinya yang barusan terkena pukulan terasa kebas 'sialan gue nggak bisa membaca pergerakannya'


Melihat lawannya terintimidasi merupakan kesenangan tersendiri bagi Dian. Kemudian dengan gerakan cepat, Dian memangkas jarah dan


Bugh


Sebuah tinju berhasil ia lesatkan kearah dagu bang Johan yang tidak bergeming dari posisinya


"aaahh.. dasar j***ng si**an" umpat Bang Johan memegangi dagunya yang di tinju dari arah bawah oleh Dian.


Dian berdecak mendengar umpatan Bang Johan lalu dengan gerakan memutar, Dian mengangkat kakinya dan


Sreet


Sepatu sneakers milik Dian membentur wajah Bang Johan hingga pria itu menoleh ke samping disusul dengan teriakan kesakitan yang keluar dari mulutnya.


"aaarrrggghhh.. dasar gadis sia**n, hei kalian kenapa hanya diam saja, cepat serang perempuan j****g itu" tanpa sadar situasi, Bang Johan memaki dan mengumpat seraya menunjuk kearah Dian.


Melihat Dian berjalan mendekat, keempat anak buahnya segera kabur, karena tidak ingin berurusan dengan orang seperti Dian, dan hanya menyisakan bang Johan yang sudah terduduk di atas tanah sambil memegangi wajahnya yang terasa panas


"jangan lari kalian dasar pengecut ..." lagi, pria itu berteriak memaki saat melihat keempat anak buahnya lari terbirit-birit.


Tanpa belas kasih, Dian menendang laki-laki itu dengan keras hingga terjatuh kebelakang, Dian lalu menginjak dada bang Johan yang sudah tergeletak "ternyata hanya segini kemampuanmu" ejek Dian menguatkan pijakannya.


"aaarrrggghhh.. am..pun.." terdengar pria itu memohon ampun dengan suara putus-putus.


"cepat pergi dari sini, dan jangan pernah muncul lagi di depanku" Dian berbalik badan dan berjalan menuju kedai untuk melanjutkan makannya yang sempat tertunda.


Sedangkan bang Johan terlihat berusaha berdiri dengan susah payah, setelah itu dia segera menyeret tubuhnya meninggalkan tempat tersebut sebelum Dian berubah pikiran dan menghabisinya.



Setelah menghabiskan Makanannya, Dian memanggil ibu yang tadi melayaninya untuk segera membayar semua pesanannya dan kembali melanjutkan pencarian



"Bu..." sambil melambaikan tangan



Mendengar ada yang memanggil, pemilik kedai tersebut dengan setengah berlari segera menghampiri "ada apa neng? apa ada yang bisa ibu bantu? oh atau Eneng mau nambah? tunggu sebentar biar ibu──




"khusus untuk Eneng ibu kasih gratis" dengan sumringah ibu tersebut berucap setelah menetralkan perasaan malu karena terlalu banyak mengoceh.



Dian mendelik "saya tetap akan membayar apa yang sudah saya makan, Bu"



"tidak usah Neng, anggap saja ini sebagai ucapan terimakasih Ibu, karena Eneng telah mengusir preman yang sudah banyak meresahkan warga disini" terang ibu tersebut dengan nada yang terdengar tulus.



Menghela nafas, Dian menjawab "bagaimana kalau ucapan terimakasihnya diganti" usul Dian, karena sepertinya ibu tersebut sedikit keras kepala dengan keinginannya.



Dengan senang hati ibu tersebut mengangguk "apa yang Eneng inginkan? karena sepertinya Eneng bukan orang sini" tebak ibu tersebut memandang Dian dari atas hingga bawah.



"saya sedang mencari seseorang, apa ibu tahu alamat ini?" ucap Dian seraya menyodorkan secarik kertas berisi alamat yang didapatnya dari Fero dan Tristan.



Tanpa ragu ibu tersebut meraih kertas tersebut dan membacanya.



"owhh.. masih jauh Neng masih sekitar 2 KM dari sini, tapi anak saya bisa mengantarkan Eneng kalau mau?" tawar ibu tersebut menatap Dian.



Belum sempat Dian menjawab ibu tersebut berteriak memanggil anak yang dia maksud "Wati.. kemari sebentar, Nak.."



Setelah beberapa saat seorang anak perempuan yang gaya dan penampilannya persis seperti seorang laki-laki berlari menghampiri mereka.



"ada apa, Bu?" dengan memberengut gadis yang bernama Wati tersebut menjawab



"Tolong kamu antar Neng itu, ke alamat ini" ucap Ibu pemilik kedai menunjuk Dian dengan dagunya, seraya memberikan alamat tadi kepada sang anak.



"Tapi Bu..." rengek gadis bernama Wati tersebut menatap ibunya dengan tatapan memelas.



"tidak ada tapi tapi, atau besok ibu akan mendadanimu" ancam ibu tersebut yang membuat Wati mengerucutkan bibirnya.



"iya..iya.. ayo Mba ikut aku" ajak Wati yang sudah berjalan lebih dulu.



Setelah membayar pesanannya tadi, tidak lupa mengucap terimakasih, Dian segera mengikuti langkah Wati yang sudah berada di atas motornya.



Keesokan harinya karena keadaan Arash sudah jauh lebih baik, ijin untuk pulang pun akhirnya diberikan.


Ziana dengan setia mendampingi, meskipun dengan perasaan kesal bercampur malu karena tingkah Arash yang terlalu rewel dan manja padanya.


Setelah selesai mengemas barang-barang Arash, Ziana segera memanggil sekertaris Jhon untuk membantunya membawa barang-barang tersebut.


"kita kemana, Tuan?" tanya sekertaris Jhon melirik kearah tuannya yang sedang asyik menyenderkan kepalanya di bahu Ziana, melalui kaca spion.


"ke rumah utama" dengan cuek Arash menjawab sambil memainkan jari-jari lentik sang istri.


Setelah itu hening tidak ada lagi yang berbicara, karena Ziana sedang fokus memeriksa email yang dikirim oleh sekertaris Dita menggunakan tangan kanannya, tanpa memperdulikan kelakuan Arash yang sedari tadi sibuk memainkan tangan kirinya.


Sial, Tuan membuatku iri saja


*****