
Ziana sedang berada di dapur, berkutat dengan alat-alat masak saat bel di pintu utama berbunyi.
"Biar Attar aja mom yang buka pintunya"
Attar yang sedang berada di ruang tengah, menonton dua bocah botak yang menjadi film kartun favoritnya menawarkan diri untuk membukakan pintu.
"Attar bisa?"
"Bisa dong.." sahutnya bangga.
"Ya udah boleh. Makasih ya sayang"
Anak lelaki itu mengacungkan jempolnya "sama-sama Momzi" ucapnya, lalu bergegas menuju pintu utama, sementara Ziana kembali ke dapur.
Cklek
"Assalamualaikum.."
"Wa'alaikumsalam"
"Kok Attar yang bukain, Daddy sama Momzi kemana sayang?"
Mama Arianna celingukan mencari keberadaan anak dan menantunya yang tidak ikut menyambut kedatangannya.
"Masuk Oma, opa, sama aunty"
Ketiga tamu dadakan itu pun masuk sesuai instruksi dari Attar.
"Daddy sama Momzi kemana?" Mama Arianna mengulang pertanyaan yang belum dijawab sebelumnya.
"Momzi lagi masak"
"Kalau Daddy?"
"Di kamar. Daddy lagi istirahat, tadi muntah-muntah"
Ziana yang mendengar suara ribut-ribut keluar. Melihat siapa yang datang, wanita itu menyalami tangan kedua mertuanya "kok gak ngabarin kalau mau datang?" Tanyanya ikut bergabung di ruang tengah.
"Sengaja, tadinya mau surprise, tapi malah kita yang dapat surprise"
"Arash sakit apa? Kata Attar tadi dia muntah-muntah" gantian papa Arnan yang bertanya.
"Iya pa, kayaknya masuk angin deh"
"Udah telpon dokter?"
"Udah Ma, mungkin masih di jalan"
Baru saja di omongin, bel kembali berbunyi "mungkin itu dokternya sudah datang"
"Biar Aruna aja yang bukain, kak" gadis yang sejak tadi diam itu mengajukan diri untuk membukakan pintu.
~
~
~
"Bagaimana keadaan putra saya dok?" Tanya mama Arianna tidak sabar.
"Semuanya normal, tidak ada yang perlu di khawatirkan"
"Tapi sejak pagi tadi suami saya muntah-muntah dok, beberapa hari ini juga kelakuannya aneh" Ziana ikut menimpali. Wanita itu merasa tidak puas dengan penjelasan dari dokter tersebut.
Ziana menceritakan tentang keadaan Arash akhir-akhir ini yang membuatnya sedikit khawatir.
"Mungkin tuan Arash hanya masuk angin biasa. Atau kalau anda ingin melakukan pemeriksaan lebih lanjut, anda bisa datang ke rumah sakit"
"Tidak perlu dok, sepertinya saya tahu apa yang terjadi" sela mama Arianna cepat.
Dokter tersebut mengangguk, "baik Bu, pak, kalau begitu semuanya saya permisi" pamit dokter tersebut setelah meresepkan obat untuk Arash tebus.
~
~
~
Setelah sarapan bersama yang agak terlambat, Mama Arianna mengumpulkan semua anggota keluarga di ruang tengah, kecuali Ziana dan Aruna. Keduanya masih berada di dapur, mencuci piring bekas mereka makan.
"Ada apa sih, Ma?" Tanya Arash.
Laki-laki itu memberengut, dirinya masih lemas tetapi sang mama memintanya untuk ikut bergabung.
"Sabar ih, tunggu pemeran utamanya datang dulu" dengus Mama Arianna, membuat Arash mencebikkan bibirnya.
Beberapa menit kemudian Ziana dan Aruna ikut bergabung setelah menyelesaikan tugas mereka di dapur.
"Ada apa nih?" Tanya Aruna duduk di samping Attar yang sedang bermain mobil-mobilan di atas karpet bulu.
"Zi..duduk sini sayang, mama mau bertanya sesuatu sama kamu" menepuk sofa kosong di sisinya, yang sengaja dia siapkan untuk sang menantu.
"Gak boleh. Ziana istri aku, jadi duduknya harus didekat akulah" protes Arash seraya menarik tangan Ziana untuk duduk disampingnya
"Mama cuma mau bicara sebentar sama mantu mama" bujuknya
"Bicara aja dari sana, istri aku masih bisa denger kok, iya kan sayang?" Meminta persetujuan dari sang istri, namun Ziana hanya menatapnya datar.
"Pa.. anak kamu tuh selalu aja ngejawab kalo dibilangin" sungut mama Arianna
"Anak mama juga" sahut papa Arnan santai. Bapak beranak dua itu tidak ingin ikut terlibat dalam perdebatan istri dan anaknya yang tidak ada ujungnya. Setiap bertemu pasti ada saja hal tidak penting yang mereka debatkan.
"Tetap aja anaknya papa, kan papa yang nyumbang benih"
"Tapi kan keluarnya dari rahim mama"
Mama Arianna melototkan matanya kepada sang suami, membuat papa Arnan merutuki dirinya sendiri yang sudah menjawab pernyataan sang istri. Pria itu hanya bisa berdoa dalam hati, semoga malam ini ia tidak tidur di luar kamar.
"Jadi aku anaknya siapa?" Celetuk Arash yang langsung mendapat cubitan maut dari Ziana dan tatapan tajam dari papa.
Bukannya mendamaikan suasana, ucapan Arash malah semakin memperkeruh suasana.
_____________________
Keesokan harinya mama Arianna kembali datang untuk menemani Ziana ke dokter kandungan milik anak temannya.
Mama Arianna terlihat begitu antusias meski harus mengantri lama, namun itu sama sekali bukan masalah bagi wanita paruh baya itu. Berbeda dengan Ziana yang terlihat gelisah, takut mengecewakan mertua dan suaminya yang sudah berharap banyak.
Arash menyadari kegelisahan Ziana meraih tangan wanita itu dan menggenggamnya "rileks aja sayang. Apapun hasilnya nanti, aku sama mama tidak akan mempermasalahkan" bisik Arash lembut.
Ziana menoleh dan tersenyum, kehadiran Arash benar-benar membuatnya tenang.
Meskipun sering membuatnya dongkol, namun Arash selalu mampu memberikan ketenangan ketika Ziana dilanda rasa cemas dan gugup.
"Ayo.." mama Arianna berdiri mengajak Ziana, karena sudah tiba giliran mereka.
Tanpa melepaskan genggaman tangannya, Arash menuntun Ziana mengikuti langkah sang mama yang sudah berjalan lebih dulu.
Ziana di minta untuk berbaring di atas brankar, bajunya sedikit di singkap keatas, hingga perutnya yang rata terlihat.
Puk
Arash maju dan menepis tangan asisten dokter yang menurutnya sudah lancang memperlihatkan perut istrinya yang hanya boleh dilihat olehnya "anda jangan kurang ajar ya!" Ucapnya dengan tatapan tajam.
"Arash..! Kamu ini apa-apaan sih, bikin malu aja" mama Arianna memekik melihat kelakuan putranya yang semakin hari semakin diluar nalar, membuatnya malu saja.
"Dia yang apa-apaan" tunjuknya kepada asisten dokter yang kini menunduk.
Arash tidak suka jika apa yang menjadi miliknya diperlihatkan kepada orang lain.
Mama Arianna memijit pangkal hidungnya. Wanita paruh baya itu merasa menyesal telah mengizinkan Arash untuk ikut.
"Sayang ayo kita pergi dari sini, kita cari dokter lain saja"
"Mas...cara pemeriksaannya emang seperti ini"
Ziana pernah beberapa kali menemani bunda Claudia check up saat papanya sedang ada dinas di luar kota.
Mama Arianna berdiri dari kursinya, wanita itu berjalan mendekat dan
Duk
"Aaww..mama apa-apaan sih, sakit" Arash memekik memegangi kepalanya yang baru saja menjadi sasaran kekesalan sang mama.
"Kamu tuh diem aja bisa gak sih? Gak usah malu-maluin? Liat tuh muka istri kamu udah memerah saking malunya punya suami kayak kamu" cerocos mama Arianna sambil berkacak pinggang di hadapan putra sulungnya yang kini beranjak menuju brankar dimana istrinya berbaring.
"Sayang kamu malu punya suami kayak aku?" Tanyanya manja
Ziana menghela nafas pelan. Sudah sekitar dua mingguan ini suaminya berperilaku seperti anak kecil yang berusia 5 tahunan.
Ziana mencoba tersenyum, wanita itu lalu bangun dari tempatnya berbaring "sini.." mengulurkan tangan meminta suaminya agar semakin dekat dengannya
Tanpa ragu Arash mendekat hingga tidak ada lagi jarak diantara keduanya.
"Zi tau mas gak suka, tapi kita harus mengikuti sesuai prosedur. Demi baby kita, Mas mau liat baby kan?" Ziana mulai berbicara, selembut mungkin, dengan tangan yang mengusap punggung tangan Arash. Berharap laki-laki itu akan mendengarkannya, lagi.
Arash terdiam selama beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk "hanya sebentar" ujarnya kepada asisten dokter yang sudah sejak tadi menunduk. Terintimidasi oleh tatapan tajam Arash.
Ziana menghela nafas lega, pun dengan mama Arianna. Wanita paruh baya itu menatap takjub menantunya yang selalu bisa menghadapi sikap kenakan Arash
dengan tenang.
Akhirnya pemeriksaan bisa kembali dilanjut setelah drama yang diciptakan Arash berakhir.
Mama Arianna berpelukan dengan Arash setelah alat yang dipegang oleh dokter menempel di perut rata Ziana.
Meskipun dirinya tidak mengerti apa-apa disini, namun dari gestur tubuh dan ekspresi wajah dari wanita paruh baya itu terpancar kebahagiaan yang teramat.
*********
Holla.. mohon maaf baru bisa update lagi karena satu dan lain hal. Semoga kalian tidak lupa sama alurnya ಥ‿ಥ
Happy Reading 💞💞