
"papa kenapa? Kok kayak gelisah gitu?" Arash sudah dari tadi memperhatikan gelagat papanya yang terlihat gelisah dan tidak nyaman, pun akhirnya bertanya.
"Emang keliatan banget, ya?" Bukan langsung menjawab, papa Arnan justru balik bertanya, karena dirinya merasa sudah berusaha untuk tetap terlihat tenang.
Arash mengangguk, sementara Ziana tidak begitu memperhatikan, wanita itu tidak melepas pandangannya dari pintu kayu berwarna coklat yang menjulang, dan memiliki jarak hanya beberapa meter saja dari tempatnya duduk.
Haaaahhh
Terlihat papa Arnan menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya secara perlahan. Dan itu dilakukannya bukan hanya sekali, tapi hingga beberapa kali.
"Papa sudah berbohong sama mama" setelah jeda yang cukup lama, akhirnya ketakutan itu ia tumpahkan kepada anak dan menantunya.
Tidak ada sahutan dari Arash, ia hanya melirik sang papa dan menunggu ucapan selanjutnya yang akan papanya ucapkan.
"Papa belum cerita, ya?" Pertanyaan tersebut membuat salah satu alis Arash terangkat ke atas
"cerita yang mana?" Arash yang tidak tahu apa-apa balik bertanya.
"Soal pengajian, di rumah"
Pernyataan tersebut bukan hanya membuat Arash terkejut namun juga Ziana, yang sontak menoleh begitu mendengar kata pengajian yang keluar dari mulut papa mertuanya itu.
~
~
~
"Attar mana, kok gak keliatan? padahal saya udah kangen banget"
Terlambat, mama Arianna sudah bertemu dengan bunda Claudia, dan Aruna hanya bisa terpaku didepan pintu lift, menatap mereka dengan perasaan campur aduk.
"Eemm..barusan Daddy-nya datang buat jemput, mungkin sebentar lagi mereka sampai" Aruna menghela nafas lega mendengar jawaban yang diberikan oleh bunda Claudia.
Tapi tunggu, dari mana bunda tahu? Aruna menatap Claudia bingung, namun yang ditatap menoleh dan mengedipkan sebelah matanya seolah mengatakan tenang saja, saya bisa mengatasinya
Aruna mengangguk, merasa lega luar biasa. Tidak penting bunda Claudia tahu darimana. Yang paling penting saat ini, kejadian tentang Attar diculik, tidak, atau belum diketahui oleh sang mama.
"CK..anak itu memang benar-benar, ya" samar Aruna mendengar decakan sang mama, sebelum ia kembali ketempat, dimana pengajian masih berlangsung.
_____________________
"lebih cepat lagi, Rash" dengan tidak sabaran, papa Arnan meminta Arash menambah kecepatan mobilnya.
"ya udah deh kalo gitu papa aja yang nyetir" celetuk Arash. Merasa kesal karena sejak tadi papanya begitu cerewet dan mengganggu konsentrasinya mengemudi dasar suami takut istri
"gak usah ngatain papa dalam hati, bilang aja secara langsung" entah sejak kapan papanya bisa membaca pikiran. Arash jadi ngeri sendiri jika sang papa benar-benar bisa membaca isi pikirannya.
"siapa juga yang ngatain" celetuk Arash orang fakta kok sambungnya dalam hati.
"kebaca di jidat kamu yang lebar itu"
"kok papa ngeledek sih? lebar gini tuh ya karena turunan papa" tidak terima jidatnya dikatakan lebar, membuat mulut Arash mulai semakin kurang ajar.
Ziana yang duduk dibelakang segera mengambil tindakan dengan cara menarik pelan telinga Arash. Takut suaminya semakin mengatakan hal-hal yang tidak baik terhadap papa Arnan. Ziana tidak ingin suaminya durhaka kepada orang tua.
"aaww...sakit, yang..kok kamu jadi kayak mama sih, suka tarik-tarik telinga aku" Arash mengeluh ketika merasakan tangan lentik sang istri menyentuh telinganya, yang menjadi salah satu bagian sensitif dari laki-laki itu.
"Daddy lebay" celetuk Attar yang juga duduk dibelakang, tepatnya di samping Ziana.
"anak kecil gak diajak"
"salah mulu" Arash bergumam, namun papa Arnan yang duduk disebelahnya bisa mendengar, meski samar.
lantas papa Arnan menimpali gumaman putra sulungnya "emang salah"
"Opa" kini, Attar menegur opanya karena tidak ingin berhenti dan membuat Daddy-nya terpancing untuk membalas semua ucapannya.
Ziana hanya bisa memijit pelipisnya. Kepalanya yang sakit semakin sakit saja mendengar ketiga laki-laki beda generasi tersebut yang seperti tidak ada habisnya, jika terus dibiarkan.
~
~
~
"Assalamualaikum"
"wa'alaikumsalam..." jawab semua orang secara serentak "Attar..cucu Oma.." Mama Arianna merentangkan kedua tangannya, menyambut Attar dengan sebuah pelukan.
"eeemmm..Oma tuh kangen banget sama kamu tau" ucap Arianna gemas. Sementara Attar hanya bisa pasrah menerima semua kecupan dari sang Oma diwajahnya, karena dirinya masih sangat lemas.
Sebenarnya Attar belum diperbolehkan untuk pulang. Namun, karena tidak ingin membuat sang Oma khawatir, Attar memaksa untuk tetap pulang.
"Attar kok pucat? kalian habis darimana sebenarnya?" menyadari wajah cucunya yang memang terlihat pucat, Mama Arianna mengalihkan tatapannya kepada Arash dan Ziana secara bergantian.
"papa juga, kok bisa datang sama mereka sih? pantas saja dari tadi mama cari-cari gak ada" bukan hanya anak dan menantunya, namun suaminya pun tidak luput dari cercaan wanita tersebut.
"eee..papa..eee" melirik kearah Arash, meminta bantuan, namun yang dilirik hanya melengos pergi setelah berpamitan, tanpa berniat membantu dasar anak durhaka rutuk papa Arnan dalam hati, seraya menatap punggung Arash yang semakin menjauh.
"pa.."
"eh..itu, gini, tadi Arash nelpon papa minta jemput. katanya mobilnya tiba-tiba mogok" Tanpa menaruh curiga, mama Arianna percaya percaya saja. Meski suaminya sedikit berbelit ketika menjelaskan.
huffttt..selamat.. selamat
__________________________
Setelah acara pemakaman kakek Abian selesai dilaksanakan, dan semua orang telah pulang ke rumah masing-masing, dan kini hanya menyisakan para penghuni rumah saja.
Para penghuni rumah diminta untuk berkumpul di ruang tengah oleh asisten pribadi milik tuan Abian Ravindra, yaitu Robin.
"tidak perlu berbasa-basi lagi karena semua anggota keluarga sudah berkumpul, jadi saya akan langsung pada intinya saja" Robin yang memang tidak suka basa-basi, memberi aba-aba agar semuanya fokus dan mendengarkan apa yang akan ia sampaikan.
Lalu, pria berusia sekitar 40 tahunan itu mengeluarkan map, yang berisi surat, dan menyodorkannya kehadapan mama Arianna "anda boleh membacanya sendiri" sela Robin cepat, ketika mama Arianna terlihat seperti ingin mengutarakan sebuah pertanyaan.
Wanita yang masih cantik dan energik diusianya yang tidak lagi muda itu mendengus, namun tetap meraih map tersebut dan membukanya.
Awalnya semua baik-baik saja, namun beberapa saat kemudian semuanya menjadi panik begitu mendengar suara isakan yang berasal dari mama Arianna.
Arash langsung berpindah tempat di samping sang mama "ada apa, Ma?" tanyanya heran dengan satu tangan yang merangkul tubuh bergetar sang mama, dan satunya lagi meraih surat tersebut.
tidak..semua ini hanya mimpi Mama Arianna menolak untuk percaya dan menganggap bahwa apa yang sedang terjadi hanyalah mimpi. Wanita itu sudah sangat nyaman dengan kehidupan yang dijalaninya saat ini dan telah melupakan masa-masa kecilnya yang kelam tanpa kehadiran sang ayah disisinya.
Namun, sebuah fakta yang baru saja terkuak membuat ingatan ingatan tentang masa lalunya yang selalu diperlakukan buruk, karena ketidakhadiran sosok ayah berputar kembali bak kaset rusak.
Membuat mama Arianna tidak tahan dan berakhir tak sadarkan diri.
*******
Happy Reading 💞💞