About Ziana

About Ziana
Chapter 54



Arash yang berhasil mendapatkan kontrak kerja sama memutuskan untuk segera kembali ke Indonesia hari itu juga.


Namun terlebih dahulu laki-laki itu membeli oleh-oleh untuk seluruh anggota keluarga, itu adalah kebiasaan Arash ketika sedang ke luar negeri.


Setelah berburu oleh-oleh Arash memutuskan untuk segera ke bandara. Tapi saat berada di depan sebuah toko perhiasan matanya tidak sengaja melihat sebuah kalung yang menurutnya sangat indah, dan sangat cocok dengan Ziana.


entah kenapa Laki-laki itu teringat oleh Ziana.


'duhh mikir apa sih lo Rash, sadar' batin Arash, laki-laki menggelengkan kepalanya guna mengenyahkan pikirannya untuk membelikan oleh-oleh buat Ziana.


Laki-laki itu pun melanjutkan langkahnya, namun baru beberapa langkah ia berhenti sejenak, kemudian berbalik arah dan kembali ke toko perhiasan tadi.


Arash memutuskan untuk membelikan kalung itu untuk Ziana karena telah menyelamatkan nyawanya waktu itu.


'ya hanya sebuah ucapan terimakasih tidak lebih' Batin Arash meyakinkan dirinya sendiri.



____________________________________________


Sementara itu di sebuah rumah sederhana milik Leon dan keluarganya, terlihat Aruna yang sedang membantu Riana untuk memasak.


Setiap weekend Aruna pasti menyempatkan diri untuk mengunjungi rumah keluarga Leon.


Sementara Lani masih belum bisa terlalu banyak beraktivitas, jadi untuk sementara waktu semua pekerjaan Riana lah yang harus menghandle.


Beruntung Aruna sering datang, Riana merasa bebannya sedikit berkurang karena bantuan dari pacar adik iparnya itu.


Ya semenjak kejadian di rumah sakit waktu itu, hubungan Aruna dan Leon sudah kembali membaik, bahkan Aruna sering main kerumah Leon tanpa sepengetahuan cowok itu karena sibuk bekerja part time.


Selesai memasak Aruna mendatangi kamar Lani sesuai instruksi dari Riana. Sementara Riana harus menyusui anaknya terlebih dahulu.


tok tok tok


"Ibu.." ucap Aruna pelan, gadis itu masuk setelah mendapat izin dari Lani.


Lani tersenyum hangat menyambut kedatangan Aruna ke kamarnya.


"kemarilah nak" ucap Lani menepuk kasur miliknya.


Aruna dengan patuh duduk di dekat perempuan yang juga telah dianggapnya seperti ibunya sendiri.


Lani meraih tangan Aruna dan menggenggamnya.


"terimakasih nak, sudah mau menerima anak ibu apa adanya, anak itu beruntung bisa dapatin pacar secantik dan sebaik kamu" ucap Lani tersenyum tulus.


"ibu.. justru Aruna yang beruntung dapatin Leon." Aruna balas menggenggam tangan Lani.


Lani mengangguk "ibu berharap semoga Leon tidak seperti abangnya" terdengar nada sendu dalam ucapan wanita paruh baya itu.


Ibu mana yang tidak sedih ketika anaknya menghilang tanpa jejak, dan meninggalkan seorang istri bahkan anak yang belum pernah dilihatnya.


Namun sebisa mungkin Aruna tidak membiarkan wanita itu bersedih, sesuai arahan dokter.


"udah bu, sekarang kita makan yuk tadi Aruna sama mba Riana udah masak loh" ucap Aruna.


"benarkah?" tanya Lani.


Aruna mengangguk "Aruna cuma bantu potong-potong, mba Riana yang masak semuanya" ucap Aruna sedih, maklum saja gadis itu tidak pernah memasak dirumahnya, hanya mama dan Art yang selalu memasak.


Jadi wajar, Aruna bisanya cuma memasak air sama mie instan.


"tidak apa-apa nanti juga jago masaknya" hibur Lani.


Aruna menghambur kedalam pelukan Lani "makasih bu"


Setelah acara peluk memeluk kini mereka semua berkumpul di meja makan dan makan siang bersama.


__________________________________________


"aku gak mau tahu, pokoknya kamu harus datang ke acara pernikahan aku Minggu depan" ucap Regan kepada Ziana melalui panggilan video.


Ziana terlihat memutar bola matanya "Re ampun deh aku udah bosen denger kamu ngomong itu berulang-ulang dari kemarin" Protes Ziana karena beberapa hari ini Regan selalu mengingatkannya untuk datang ke acara pernikahannya.


"kamu kalau gak di bawelin gak akan datang"


"ck iya iya aku akan datang, puas?" Ziana berdecak kesal.


"bener?" Regan masih tidak ingin percaya begitu saja kepada Ziana.


"ck.. iyaa" Perempuan itu kembali berdecak.


"awas kalau nggak datang" peringat Regan.


Entah sudah yang keberapa kalinya Ziana memutar bola matanya menghadapi Regan yang sangat cerewet sekali akhir-akhir ini.


"dah ah, aku banyak kerjaan nih" Ziana mengarahkan kamera ponselnya kearah tumpukan berkas yang berada di depannya.


"yaudah aku matiin, inget kata Valerie kamu jangan terlalu capek dulu" ucap Regan memperingati perempuan yang sudah dianggap seperti adiknya itu.


Ziana yang jengah dengan semua ocehan Regan memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak setelahnya perempuan itu kembali melanjutkan pekerjaannya yang tadi tertunda


********


Happy Reading 💞💞 💞