
Sesampainya di bawah terlihat Tristan, Aruna, Leon dan Dian sudah berdiri di depan alat pemanggang. Mereka menggunakan 2 alat pemanggang, sementara di alat pemanggang yang lainnya diisi oleh para cewek-cewek yaitu Jessica, Dita, Naysilla, kecuali Fero yang cowok sendiri.
"itu yang bareng Dita siapa?" bisik Ziana bertanya seraya menunjuk perempuan yang baru ia lihat, karena tadi Naysilla tidak ikut naik ke atas pelaminan untuk memberikan ucapan selamat.
"namanya Naysilla, kata anak-anak sih pacar barunya Bryan" ucap Arash.
"oh.." Ziana hanya ber oh ria sambil mengangguk kecil, karena perempuan itu bukan tipe orang yang suka mencampuri urusan orang lain.
Sementara di dekat tenda, para orang tua sudah berkumpul. Ziana menarik sudut bibirnya melihat mama Zara yang berbaur dengan mertuanya dan mama Claudia, Mama Zara juga telah berdamai dengan papa Bagas.
Sesampainya di dekat perkumpulan para sahabatnya celetukan Lucas langsung menyambut keduanya "mau kemana bro gandengan tangan mulu" celetuknya yang membuat semua orang menoleh kearah kedatangan Arash dan Ziana.
Semua orang tertawa mendengarnya tak terkecuali para orang tua yang juga ikut menertawakan pasangan pengantin baru itu.
"pegang terus Rash, jagain jangan sampai kabur mantu mama" seru mama Arianna ikut menggoda anak dan menantunya yang baru saja datang. membuat mereka semua lagi-lagi tertawa.
Arash nampak biasa saja di goda seperti itu, berbeda dengan Ziana yang sudah menunduk malu. wajah yang dulu selalu terlihat datar dan dingin itu kini nampak tersipu, membuat kecantikan perempuan bertambah.
Beberapa menit kemudian, akhirnya malam pergantian tahun pun tiba, bunyi petasan saling bersahut-sahutan membuat langit malam itu menjadi nampak indah dengan cahaya warna-warni dari warna petasan.
"semoga tahun ini gue gak jomblo lagi.." seru Fero yang tiba-tiba berteriak sekeras mungkin, bersamaan dengan suara petasan yang tadi di bakarnya.
Semua orang yang ada disana tertawa karena kelakuan absurd laki-laki itu, namun tak urung mereka bantu mengamini juga "Aamiin" sahut mereka dengan serentak.
Akibat kelakuan Fero tersebut akhirnya semua orang ikut-ikutan meneriakkan permintaan mereka.
"semoga tahun ini cewek yang gue taksir selama bertahun-tahun peka" teriak Tristan ikut meneriakkan harapannya yang langsung diamini oleh mereka semua.
"semoga gue dapat baby kembar" teriak Lucas yang juga diamini oleh para orang tua dan sahabatnya.
Tidak mau kalah, Regan ikut berteriak "semoga gue bisa jadi ayah yang baik" teriak Regan yang juga diamini oleh mereka semua.
"semoga tahun ini mobil impian gue bisa kebeli" seru Jessica ikut berteriak.
"semoga jodoh gue gak tersesat biar bisa nyusul big bos ke pelaminan! " Dita ikut berseru.
Satu persatu dari mereka semua meneriakkan harapan mereka, kecuali para orang tua yang hanya menonton. Para orang tua itu hanya bantu memeriahkan pesta para anak muda dengan meneriakkan kata Aamiin jika ada yang berteriak mengucapakan doa dan harapan mereka.
Berkat ke absurd an yang dilakukan oleh Fero, akhirnya malam tahun baru itu berakhir dengan suara serak karena terlalu lama berteriak, beruntung taman tersebut agak jauh dari hotel, jika tidak, suara mereka pasti akan mengganggu para pengunjung hotel milik Bryan.
Kini mereka semua kembali duduk dengan beralaskan tikar yang sengaja mereka gelar di dekat tenda yang rencananya akan mereka tiduri malam ini. Namun sepertinya rencana hanya tinggal rencana, sebab tiba-tiba hujan turun. Awalnya hanya rintik-rintik, namun lama kelamaan mulai turun hujan deras disertai dengan hembusan angin, membuat mereka berlari ke hotel Alister untuk berteduh.
Mereka pun akhirnya kembali ke kamar hotel yang memang sengaja dipersiapkan oleh sang pemilik hotel, siapa lagi jika bukan Bryan Alister.
Satu persatu dari mereka pamit untuk kembali ke kamar mereka masing-masing begitu pun dengan Arash dan Ziana, menyisakan Bryan seorang diri.
Melihat perubahan ekspresi di wajah tampan Arash membuat Ziana ingin rasanya tertawa, namun disaat bersamaan perempuan itu juga kasihan pada sang suami.
"Maaf.." ucap Ziana pelan.
Arash menoleh dan tersenyum kepada istrinya. "tidurlah.. ini sudah larut, kamu pasti lelah" ucapnya masih sambil tersenyum, tidak lupa tangannya mengusap kepala Ziana dengan sayang.
Mendapat perlakuan seperti itu membuat hati Ziana menghangat, perempuan itu mengangguk "kamu juga istirahat ya" ujarnya yang langsung diangguki oleh Arash. "iya sayang" jawab Arash.
Ziana hanya tersenyum kemudian berbalik menuju ke arah ranjang, namun belum sempat perempuan itu melangkah, tangannya sudah ditarik oleh Arash, membuat Ziana otomatis menoleh.
Dan tanpa aba-aba bibir tebal milik Arash langsung mendarat sempurna di atas bibir tipis milik Ziana, membuat perempuan itu terdiam karena kaget dengan gerakan tiba-tiba dari sang suami.
Arash menyesapnya sebentar, hanya sebentar setelah itu ia buru-buru melepaskannya, takut jika dirinya tak bisa mengontrol. Arash kembali mendaratkan bibirnya di kening Ziana seraya mengucapkan "selamat malam sayang" sambil mengusap kepala sang istri dengan lembut.
Ziana tersadar, perempuan itu akhirnya hanya mampu mengangguk dengan wajah yang sudah memerah, ia lalu segera berjalan cepat kearah ranjang, dimana Attar dan Zoey sudah tertidur pulas, meninggalkan Arash yang masih tersenyum memperhatikannya.
Melihat tingkah sang istri yang baru dinikahinya beberapa jam yang lalu membuat Arash merasa gemas. Ingin rasanya laki-laki itu mengejar Ziana dan menerkam istrinya saat itu juga, namun karena tidak bisa berbuat lebih karena kehadiran dua bocah itu dikamar, akhirnya Arash hanya mampu menghela nafas panjang kemudian menghembuskannya pelan.
Arash lalu ikut membaringkan tubuhnya pada sofa, setelah memastikan sang istri telah berbaring dengan nyaman di atas ranjang.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...