
"Halo" sapa Bryan kepada sang penelpon.
("Halo Bry, lo ada dirumah gak?") ucap sang penelpon yang tidak lain adalah Lucas.
Bryan nampak mengerutkan keningnya namun tetap menjawab "iya gue dirumah kenapa?" tanyanya balik.
"ok bagus, gue kesana, nanti gue cerita" ujar Lucas cepat lalu mematikan sambungan teleponnya secara sepihak.
Bryan hanya geleng-geleng kepala dengan kelakuan Lucas. Ia kemudian meletakkan kembali handphonenya lalu keluar dari kamarnya menuju ruang tamu.
Bryan memilih duduk di ruang tamu untuk menunggu kedatangan Lucas.
Tidak sampai 10 menit ia duduk bel rumahnya sudah berbunyi.
"biar saya saja bi" cegah Bryan saat melihat pembantunya yang hendak membukakan pintu.
"baik Tuan" kata pembantu itu patuh lalu kembali berjalan masuk.
Cklek
pintu terbuka dan Lucas muncul dengan cengirannya sambil menenteng sebuah kantong plastik berwarna hitam, entah apa isinya Bryan pun tidak tahu. Bryan hanya mengangkat kedua bahunya dan mempersilahkan sahabatnya itu masuk.
"lo kenapa sih, tumben banget mampir apa ada masalah?" tanya Bryan setelah sebelumnya sudah mempersilahkan Lucas untuk duduk.
"ck.. lo mah gak seneng banget kayaknya kalau gue dateng" ujar Lucas berdecak.
"Maybe"
"sialan lo" Umpat Lucas kesal seraya melemparkan bantal sofa kearah Bryan.
"tapi tebakan lo bener sih" ujar Lucas kemudian.
Bryan hanya diam, memberikan kesempatan kepada sahabatnya untuk bercerita.
"ini soal Valerie"
"Valerie kenapa?" tanya Bryan membuka suaranya.
"akhir-akhir ini dia rewel banget karena ngidamnya.."
"permisi tuan ini bibi bawain minum" suara pembantu Bryan menginterupsi cerita Lucas.
"makasih bi jadi ngerepotin" sahut Lucas dengan senyumnya.
"biasa aja tuan Lucas, bibi sama sekali tidak repot kok, kalau begitu bibi kebelakang dulu, permisi tuan, tuan Lucas"
Baru beberapa langkah, Lucas kembali memanggil pembantu Bryan.
"Bi Ning tunggu" teriak Lucas membuat pembantu yang bernama Ningsih itu menoleh.
"iya tuan ada apa?"
Lucas berdiri dan berjalan menghampiri bi Ningsih.
"eeemmm.. Bi sebenarnya saya kesini mau minta tolong sama bibi" ucap Lucas ragu-ragu.
"minta tolong apa tuan?" tanya bi Ningsih heran.
Lucas kembali berlari kecil ke sofa yang tadi ditempatinya lalu meraih sebuah kantong plastik hitam yang tadi dibawanya, setelah itu kembali lagi kehadapan bi Ningsih.
"tolong buatin istri saya Rujak ya bi" kata Lucas dengan wajah melasnya.
"rujak? istri tuan Lucas ngidam?" tanya bi Ningsih secara beruntun.
"iya bi, dan dia sedang ngidam pengen makan rujak tapi belinya harus dari abang-abang, mana ada abang-abang jualan rujak malam-malam begini" gerutu Lucas karena sudah lelah berkeliling mencari penjual rujak.
Bi Ningsih terlihat menahan tawanya setelah mendengar cerita Lucas.
"ketawa aja bi tidak usah ditahan-tahan" celetuk Lucas membuat bi Ningsih refleks menutup mulutnya.
"maaf tuan.." ujar Bibi Ningsih merasa bersalah.
"saya akan membuatkan rujak untuk istri tuan Lucas" kata Bi Ning seraya meraih kantong plastik yang tadi disodorkan oleh Lucas.
"iya tuan" ucap Bi Ning mengangguk
"makasih bi, makasih" kata Lucas yang tiba-tiba memeluk wanita paruh baya itu.
Bi Ningsih adalah orang yang mengasuh Bryan sejak Bryan tinggal di kota A bersama kakek dan neneknya, sementara kedua orangtuanya yang sama-sama gila kerja tinggal di luar negeri.
Bryan sangat menghormati Bi Ning karena telah menganggap wanita itu seperti ibunya sendiri, begitupun dengan Lucas yang sudah bersahabat sejak lama dengan Bryan.
Dulu, Lucas sangat sering berkunjung ke rumah Bryan, namun setelah The Braves terbentuk, mereka lebih sering berkumpul di markas bersama Arash dan juga anggota The Braves yang lainnya.
"Sama-sama tuan, yasudah bibi pamit kebelakang dulu buat bikinin rujaknya" pamit bi Ningsih yang langsung diangguki oleh Bryan dan Lucas tentunya.
🌹🌹🌹
"kamu gak salah ngajak aku ketempat ini?" tanya Ziana ketika Arash membelokkan mobilnya ke cafe LLC.
"loh emangnya kenapa?" tanya Arash balik.
"ya ini kan tempat nongkrong para ABG kayak Aruna, jadi tempat ini udah gak cocok sama umur kita" kata Ziana sembari tertawa kecil.
"ya gpp, kan kita kesini buat pacaran" seloroh Arash dan langsung disambut kekehan oleh Ziana.
Perempuan itu merasa geli sendiri mendengar ucapan Arash, sebab seumur hidupnya dia belum pernah melakukan hal seperti ini.
Mereka pun turun dari mobil dan berjalan beriringan dengan tangan yang juga saling bertautan, layaknya pasangan kekasih.
Ziana nampak bingung karena tempat itu sangat sepi padahal ini adalah malam minggu, Ziana tidak tahu saja bahwa sebelumnya Arash sudah memesan semua meja yang ada disana.
Mereka disambut bak raja dan ratu, membuat Ziana menatap curiga kepada Arash.
Setelah duduk di kursi yang sudah disediakan, Ziana mulai mewawancarai Arash sembari menunggu pesanan mereka datang.
"ini pasti kerjaan kamu kan?"
"kerjaan apa sayang?" Kata Arash pura-pura tidak tahu.
Ziana mendelik "kamu pasti sengaja kan mengosongkan tempat ini?"
"ee-- enggak" jawab Arash gugup karena takut ketahuan.
Ziana tersenyum lembut "makasih ya, udah lakuin ini semua"
"eehhh.." beo Arash bingung.
"iya makasih, dengan begini tidak akan ada orang yang liat kita disini" kata Ziana lagi.
"memangnya kenapa kalau ada yang liat?" tanya Arash tidak mengerti.
Pasalnya Arash sengaja memesan semua meja disana karena tidak ingin ada suara berisik yang akan mengganggu ketika dirinya sedang bersama Ziana.
"Emang kamu gak malu kalau ada rekan bisnis kamu yang liat kita ditempat nongkrong para ABG?" tanya Ziana dijawab gelengan oleh Arash.
"kenapa harus malu? ini kan tempat umum, jadi siapa aja berhak datang ke sini"
"permisi Tuan, Nona" ujar salah seorang waiters yang mengantarkan makanan pesanan mereka.
"oh iya mba silahkan" ujar Ziana.
Waiters itupun mulai menata semua pesanan Arash dan Ziana diatas meja, setelah itu dia pun pamit.
Setelah waiters itu pergi, baru saja Ziana berniat untuk melanjutkan obrolannya yang tadi sempat tertunda namun Arash dengan cepat menempelkan jari telunjuknya didepan bibir Ziana.
"shuutt.. udah ya sayang, kita makan dulu yuk" ucap Arash dengan lembut.
Kali ini Ziana mengalah karena jujur dirinya memang sudah sangat lapar.
****
Happy Reading 💞💞 💞