About Ziana

About Ziana
Chapter 176



"Anda sudah datang nona," sapa Robin seraya menundukkan kepalanya ketika Ziana baru saja tiba dan berdiri di samping mobilnya.


"Hmm, tidak perlu seperti itu paman" Ziana merasa tidak nyaman jika diperlakukan hormat seperti itu oleh Robin, pria yang lebih tua dan lebih hebat darinya dalam hal apapun.


"Karena semua sudah datang, bagaimana kalau kita mulai saja" Robin berucap dengan tidak sabaran, pria dewasa itu terlihat gelisah setelah mendapat kabar bahwa Tuan Abian tidak pulang ke rumah sejak tadi malam.


"Ada apa paman? Apa terjadi sesuatu dengan kakek?" Hanya dengan sekali melihat gelagat Robin, Ziana bisa menebak jika sesuatu telah terjadi dan itu berkaitan dengan sang kakek. Tidak ada hal yang bisa membuat pria dingin itu cemas selain tuannya, yaitu Abian Ravindra.


"Tidak terjadi hal apapun nona" Robin mungkin bisa membohongi semua orang, tapi tidak dengan 2 orang, siapa lagi jika bukan Ziana dan kakek Abian.


Mendengar jawaban tersebut membuat Ziana memutar bola matanya, percuma saja menuntut jawaban dari Robin. Robin dengan pendiriannya yang kuat sangat sulit untuk di pisahkan, meski sudah bisa ditebak pun, jawaban pria itu akan tetap sama.


"Daripada itu, saya punya satu pertanyaan untuk anda, tuan Robin" sela Arash menatap Robin.


"Silahkan Tuan" ucapnya sopan, mengingat siapa Arash yang sebenarnya.


"Apa anda yakin, kalau anak saya ada didalam sana?"


"Lucas tidak pernah salah dalam memberi informasi" sela Bryan.


Mendengar nama Lucas di ucapkan Arash terdiam, membenarkan ucapan Bryan jika sahabat mereka itu memang tidak pernah salah dalam memberikan informasi.


"Baiklah saya percaya, jadi apa rencana kalian?" Menatap mereka satu-persatu menunggu, rencana apa yang telah Bryan, Robin, dan Ziana susun.


Selagi Ziana menjelaskan rencananya, anak buah Robin sudah mulai bergerak mengelilingi rumah tersebut, mencari celah untuk bisa masuk kedalam sana.


~


~


~


Tamara sedang bersantai saat seorang anak buah suaminya datang menghadap.


"Katakan, saya tidak punya banyak waktu" dengan angkuh wanita itu berucap tanpa mengalihkan tatapannya dari ponsel yang berada digenggaman.


"Terjadi kekacauan dibawah, sekelompok orang tidak dikenal tiba-tiba menyerang saat anak-anak sedang beristirahat" jelasnya terburu.


"APA? Terus kenapa kamu masih disini? Cepat turun dan bereskan mereka semua sebelum Mas Yudha kembali" takut, panik, dan perasaan lainnya tiba-tiba melanda wanita itu apakah itu kamu, mas? tidak, itu tidak mungkin kamu Tamara menggeleng, mencoba menepis pikirannya sendiri


Haaaahhh


Menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Setelah cukup tenang wanita itu meletakkan ponselnya kemudian berdiri dari kursi pijatnya.


"Attar" Tamara bergumam, wanita itu baru mengingat bahwa ia mengurung Attar di kamar mandi. Menoleh kearah jam dinding yang kini menunjuk angka 12 Tidak.. Attar maafin mommy perasaan bersalah menelusup kedalam hati wanita itu.


Bagaimana tidak, sejak pukul 7 pagi hingga sekarang pukul 12 siang Attar ia kurung di kamar mandi tanpa makan dan tanpa minum.


drap drap drap


Tamara berlari menuruni tangga dengan tergesa, tujuan utamanya adalah kamar mandi yang berada di samping dapur tempat dimana ia mengurung Attar, Tanpa menyadari siapa yang kini berdiri di belakangnya.


"Lama tidak bertemu, kukira kau sudah berubah dan menjadi orang yang lebih baik.." mendengar suara yang dikenalnya, Tamara menghentikan langkahnya.


Tamara menegang saat sebuah tangan menyentuh bahunya dan mencengkeramnya erat hingga wanita itu meringis dengan gigi yang saling bergemelatuk saking kuat cengkraman Arash.


"Dimana putraku"


"Bukankah kamu sendiri yang memintaku untuk menjauhinya, lantas sekarang kenapa kamu malah mencarinya disini?" Meski seorang model, namun Tamara memiliki minat dalam dunia akting, jadi tidak heran jika wanita itu sangat pandai bermain sandiwara.


Tamara berbalik badan lalu menepis tangan kekar Arash "wahh apa seperti ini adab dan tata cara bertamu yang kelurga kalian ajarkan?"


"Cukup basa-basi nya nyonya Tamara Octavia Wirayudha yang terhormat, saya tidak punya banyak waktu untuk mendengarkan omong kosong anda" Tidak banyak yang tahu bahwa Tamara adalah istri dari Wirayudha, seorang pejabat negara yang memiliki sepak terjang cukup bagus dimata masyarakat, dan Robin tahu semua informasi itu.


Siapa sebenarnya orang ini? dalam hati Tamara menebak-nebak tentang Robin yang mengetahui statusnya sebagai istri pejabat, padahal statusnya tersebut masih dirahasiakan oleh Wirayudha sendiri.


"saya tidak tahu maksud ucapan anda, jadi sebaiknya kalian keluar dari sini sebelum orang-orang saya kemari dan menghabisi kalian semua" menatap keempat manusia yang berdiri di hadapannya secara bergantian, berharap gertakannya bisa membuat mereka cepat pergi dari sana.


"Oh silahkan saja. Silahkan panggil orang-orang mu itu, karena kami sama sekali tidak takut" dalam keadaan khawatir, Robin kerap menjelma menjadi pria cerewet dan menyebalkan. pria yang selalu bersikap dingin itu selalu saja menyahut setiap perkataan yang Tamara ucapkan.


Terlihat kedua tangan Tamara mengepal, tanda bahwa wanita itu sedang kesal "baiklah karena kalian sendiri yang meminta"


"PENGAWAL...PENGAWAL..PENGAWAL.." Suara Tamara bergema, membuat Ziana refleks menutup kupingnya yang berdengung akibat teriakan Tamara.


si*lan kemana perginya mereka Tamara mengumpat dalam hati, suaranya bahkan sudah serak tapi tidak ada satupun dari anak buahnya yang datang.


Robin yang semakin gelisah pun tidak bisa menahan diri untuk lebih lama lagi berada di sana "kalian cepat geledah rumah ini, wanita itu biar saya yang menghadapi" titahnya dingin, dan tidak bisa dibantah.


Dengan patuh ketiganya mengangguk dan segera berpencar mencari keberadaan Attar.


"Hahaha...jangan harap kalian bisa menemukan Attar disini, karena saya tidak akan membiarkan kalian menjauhkan ku lagi dari putraku" Mengingat dimana Attar saat ini berada, Tamara tertawa karena telah merasa menang.


Ziana tidak menghiraukan perkataan Tamara dan terus mencari "Attar...kamu dimana..ini Momzi sayang, keluarlah.." Ziana terus menyusuri rumah tersebut dan membuka semua pintu yang ia temui, namun masih belum menemukan bocah laki-laki itu.


Saat sedang sibuk mencari, Ziana dikagetkan dengan sebuah tangan yang tiba-tiba menariknya. Hampir saja Ziana melayangkan kepalan tangannya kearah pemilik tangan tersebut jika tidak mendengar suaranya "ampun nyonya, jangan pukul saya.." ucapnya dengan suara bergetar karena ketakutan.


Ziana menoleh dan melihat seorang perempuan yang berusia sekitar 40 tahunan sedang menutup kepalanya menggunakan kedua tangan, sebuah gerakan refleks untuk melindungi diri, mungkin.


"tenang, saya tidak akan menyakiti anda, tadi hanya refleks karena anda mengagetkan saya" Dengan lembut Ziana mengusap bahu wanita yang ia tebak adalah seorang art, jika dilihat dari pakaian yang dia kenakan.


Art tersebut pun melepaskan tangannya setelah mendengar ucapan Ziana "saya minta maaf sudah mengagetkan anda, nyonya" ucapnya menunduk. "apakah kalian sedang mencari anak laki-laki yang tadi bersama nyonya Tamara?" setelah beberapa menit terdiam art tersebut bertanya dengan sedikit berbisik, takut ketahuan oleh majikannya.


"benar, apa ibu melihatnya? dimana dia?" tanya Ziana tidak sabaran, tetapi art tersebut kembali terdiam.


"apa hubungan anda dengan anak itu?" art tersebut mengajukan satu pertanyaan untuk meyakinkan dirinya bahwa apa yang ia lakukan adalah hal yang benar.


Sejujurnya art itu merasa kasihan melihat Attar yang diseret paksa dan dikurung dikamar mandi oleh Tamara hanya karena tidak sengaja memecahkan guci yang bisa majikannya beli lagi, mengingat bahwa uang yang mereka miliki tidak akan habis hingga tujuh turunan.


"Attar anak sambung saya yang diculik oleh ibu kandungnya sendiri secara paksa"


Art tersebut memberanikan diri untuk menatap Ziana dari atas hingga bawah sebelum ia membisikkan sesuatu di telinga Ziana.


*******


Happy Reading 💞💞