
"kamu.." ucap Naysilla dan bos tersebut secara bersamaan.
"Bryan.. kamu kerja disini juga? ya ampun aku gak nyangka" seru Naysilla heboh, sedangkan Bryan hanya menelan ludah, dia tidak bisa membayangkan jika harus kerja bersama perempuan itu, dan mendengarkan mulut cerewetnya terus mengoceh setiap hari, membayangkannya saja sudah membuatnya pusing.
"Anda kesini untuk melakukan interview bukan? jadi tolong jaga sikap anda, karena saya bos disini" ucap Bryan datar.
mendengar perkataan Bryan, membuat Naysilla langsung menunduk takut "eehh.. iya pak maaf, saya hanya terlalu senang karena ternyata ada orang yang saya kenal bekerja disini juga" ujarnya meminta maaf.
"Hemmm.." Bryan hanya berdehem kemudian memperkenalkan Naysilla untuk duduk "silahkan duduk" ucapnya seraya menunjuk kursi yang berada di depan meja kerjanya, dan perintah Bryan itu pun langsung dilaksanakan oleh Naysilla.
Bryan merasa lega karena sudah berhasil membuat perempuan itu diam, dengan begitu dia bisa membaca berkas-berkas lamaran dan CV perempuan yang dia ketahui bernama Naysilla itu dengan tenang.
Alis Bryan nampak berkerut "kamu belum ada pengalaman kerja sebelumnya?" tanyanya memastikan, dan langsung dijawab "tidak" oleh perempuan itu.
"sama sekali?" tanya Bryan sekali lagi, dan Naysilla pun memberikan jawaban yang sama pula, sambil menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan
Laki-laki itu terlihat memijit pelipisnya, entah kenapa kepalanya terasa begitu pusing. Bryan tidak habis pikir, bagaimana bisa karyawannya ingin mempekerjakan orang yang tidak biasa bekerja.Dengan perasaan kesal, Bryan meraih gagang telepon yang berada diatas mejanya, lalu menghubungi seseorang "kamu keruangan saya sekarang" ucapnya menahan kesal, setelah itu ia meletakkan kembali telepon itu secara kasar, hingga membuat Naysilla yang duduk didepannya itu berjengit karena kaget.
Tidak sampai 1 menit terdengar suara ketukan pintu dari luar.
tok tok tok..
"masuk.." ujar Bryan berteriak keras membuat Naysilla menutup matanya, karena takut.
"bapak memanggil saya?" tanya Tari yang sudah menyembulkan kepalanya. "saya nyuruh kamu masuk, ngapain kamu disitu" bentak Bryan yang sudah kepalang emosi.
'waduh si bos kulkas dua pintu kenapa lagi nih' batin Lestari bertanya seraya berjalan masuk, karena perintah dari bos adalah mutlak, dan tidak bisa di bantah.
"lihat ini, siapa yang nyuruh kamu meloloskan orang yang belum memiliki pengalaman kerja seperti dia?" bentak Bryan sambil tangannya melemparkan berkas lamaran kerja Naysilla kehadapan Lestari. Namun bukannya takut, Tari hanya terlihat biasa saja. Mungkin karena sudah lama bekerja dengan Bryan, berbeda dengan Naysilla yang sejak tadi sudah menutup rapat kedua matanya.
"maaf sebelumnya pak, tapi saya menerima Naysilla karena ada alasannya pak"
"tapi tetap saja pengalaman kerja dia nol" sahut Bryan menunjuk Naysilla yang masih setia memejamkan matanya erat.
"saya tahu pak, tapi saya rasa tidak ada salahnya untuk memberi dia kesempatan"
"karena dia pintar, begitu?" sela Bryan yang langsung dijawab anggukan oleh Tari "itu salah satunya pak, Naysilla punya potensi dan dia mau belajar, iya kan Nay?" ujar Lestari seraya menepuk lembut pundak Naysilla "ehh iya" sahut Naysilla kaget.
"kamu pikir ini sekolah? saya juga tidak ada waktu buat ngajarin dia" sinis Bryan.
"saya yang akan mengajarinya langsung pak, anda masih punya cukup uang bukan untuk menggaji kita berdua?" canda Tari diakhir kalimatnya agar bosnya tidak terlalu tegang.
Bryan mendengus "saya tidak akan jatuh miskin jika hanya menggaji 2 orang sekertaris seperti kalian" ujarnya.
"jadi dia diterima kerja disini kan pak?" tanya Tari memastikan. "dengan catatan kamu yang akan bertanggung jawab jika ada kesalahan sekecil apapun yang dia lakukan, mengerti"
"siap pak, saya mengerti" sahut Tari cepat, sebelum bos labilnya itu berubah pikiran.
"kamu akan mulai bekerja besok, tapi ingat ini masih tahap percobaan. Jika bukan karena dia" lirik Bryan kearah Tari "Saya tidak akan menerima kamu" lanjut Bryan lagi menatap Naysilla dengan tatapan sinis. "iya pak, saya mengerti" sahut Naysilla yang masih setia menunduk.
Setelah itu keduanya pun keluar dari ruangan Bryan. Sesampainya diluar, akhirnya Naysilla menghembuskan nafas lega, tidak lupa perempuan itu berterimakasih kepada Tari yang sudah membantunya.
"sekali lagi terimakasih ya mba" ucap Naysilla mengucapkan terimakasih. "iya Nay, ini udah yang ke lima kali loh kamu bilang makasih" ujar Tari terkekeh melihat tingkah Naysilla yang menurutnya lucu.
Sementara itu saat Ziana dan Arash selesai sarapan pintu ruangan Zara terbuka.
Terlihat Luis berjalan masuk "selamat pagi semua" sapanya ketika melihat ketiga orang berbeda usia itu berada didalam.
"selamat pagi" sahut Arash dan Ziana bersamaan, minus Attar yang sudah sibuk dengan mainannya.
Ziana sudah mengenal Luis, karena beberapa hari yang lalu Arash dan Luis sudah memberitahunya tentang kehidupan Zara selama ini. Tentang betapa buruknya perlakuan Nico mantan suaminya.
Kesal, tentu saja Ziana kesal, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa. Namun Ziana berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan menghajar pria bernama Nico itu dengan tangannya sendiri jika mereka bertemu suatu saat nanti.
"sepertinya saya datang diwaktu yang tidak tepat ya" canda pria itu dengan bahasa indonesia yang masih belum begitu fasih.
"iyaa.. kau selalu saja mengganggu" ucap Arash yang langsung dihadiahi tatapan tajam dari Ziana. "tidak paman, anda datang diwaktu yang tepat, karena saya kebetulan mau kembali ke apartemen dulu" kata Ziana sambil berdiri.
"biar saya antar" seru Arash cepat.
"tidak perlu, aku bawa mobil sendiri" jawab Ziana memperlihatkan kunci mobilnya. Perempuan itu lalu berjalan kearah brankar Zara untuk melihat keadaannya sebentar. hanya sebentar, dia masih canggung karena belum terbiasa dekat dengan wanita itu.
Setelah itu Ziana mendekati Attar, berbicara sebentar dengan bocah laki-laki itu yang terlihat meminta untuk ikut, namun Ziana bilang hanya sebentar.
Selesai dengan Attar, Ziana pun bergegas pergi, sebelum bocah itu berubah pikiran. Sebenarnya bukan tanpa alasan Ziana melarang Attar ikut, namun ada urusan lain yang harus dia selesaikan, dan Ziana tidak ingin Attar atau siapapun tahu mengenai hal itu.
\*\*\*\*\*\*