About Ziana

About Ziana
Chapter 34



Pagi kembali menyapa memaksa ribuan manusia bangun dari tidur lelap dan mimpi indahnya untuk kembali beraktifitas. Namun berbeda dengan Ziana, perempuan itu masih terlihat asik bergelung di bawah selimutnya.


Bahkan saat matahari sudah mulai naik perempuan itu masih tetap setia bersama bantal dan selimut tebalnya.


Hari ini adalah weekend dan Ziana ingin mempergunakan waktu itu untuk istirahat dan bermalas-malasan seharian di apartemennya.


Rasanya sudah lama sekali Ziana tidak menikmati kehidupannya seperti ini, sehari-harinya hanya diisi dengan bekerja dan bekerja. bahkan ketika weekend pun ada saja hal yang mengharuskannya untuk datang ke kantor ataupun keluar kota.


Cause every night i lie in bed~


the brightest colors fill my head~


A million dreams are keeping me awake~


Suara Alexandra Porat menyanyikan lagu A million dreams menggema di kamar milik Ziana. memaksa sang pemilik kamar membuka kelopak matanya yang masih terpejam erat.


dering pertama di abaikan. dering kedua masih di abaikan, namun dering yang ketiga tidak bisa lagi dia abaikan. dengan malas Ziana meraih handphonenya yang tergeletak diatas nakas.


Sebelum mengangkat panggilan tersebut Ziana tidak lupa untuk mengecek nama sang pengganggu yang sudah mengganggu tidurnya pagi menjelang siang ini.


"Ha.." suara Ziana menggantung di udara sebab sudah lebih dulu di potong oleh si penelpon.


"syukurlah telepon gue diangkat, lo sekarang siap-siap kak, gue udah dijalan buat jemput lo." titah seseorang diseberang sana yang tidak lain dan tidak bukan adalah Dita sekertaris sekaligus sahabatnya.


Ziana yang nyawanya masih setengah itu mengerutkan dahinya bingung.


"siap-siap?" ucap Ziana dengan nada bingung.


"nanti gue cerita, sekarang yang paling penting lo siap-siap dulu" setelah berkata seperti itu Dita mematikan panggilannya secara sepihak.


"ini sebenarnya yang bosnya gue apa dia sih" gerutu Ziana karena teleponnya di putus begitu saja.


perempuan itu menghela nafasnya kasar lalu berdiri kemudian meregangkan ototnya sejenak. hal yang selalu dia lakukan setiap bangun tidur. kemudian bergegas untuk membersihkan diri sebelum sekertaris otoriter nya itu datang.


Sementara Ziana mandi, mobil yang di kemudikan oleh Dita sudah memasuki gerbang apartemen milik Ziana.


Berbeda dengan wanita pada umumnya yang butuh waktu lama untuk mandi, Ziana hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit.


tok tok tok


suara ketukan pintu dari luar berpapasan dengan keluarnya Ziana dari kamar mandi.


"masuk" titah Ziana dari dalam kamarnya.


"permisi nona, di luar sudah ada nona Dita" beritahu sang art kepada Ziana yang masih mengenakan bathrobe dan juga handuk di kepalanya.


"bilang pada Dita kalau 15 menit lagi saya turun" ujar Ziana kepala art tersebut.


"baik nona, kalau begitu saya permisi"


selang 10 menit Ziana turun menemui Dita dengan pakaian santainya.


"loh kok belum siap-siap" protes Dita ketika Ziana baru menginjakkan kakinya di anak tangga terakhir.


Ziana hanya berjalan santai menatap ke arah sekertarisnya itu.


"lo gak bilang mau kemana" ucapnya cuek.


Dita menepuk jidatnya melihat kelakuan atasannya itu yang sialnya adalah sahabatnya


"kan gue bilang siap-siap nanti baru gue jelasin kalo udah nyampe" Dita menggeram menahan emosi.


Sementara Ziana hanya menatapnya acuh. hal itu membuat Dita sekuat tenaga menahan emosu dengan mengatur nafasnya. 'kalo bukan atasan udah gue.. hihh' gerutu Dita dalam hati dengan gerakan tangan seperti ingin mencekik.


Ziana memutar bola mata malas " gak usah menggerutu, mending jelasin kita mau kemana"


Dita yang tadi lupa dengan tujuannya kembali tersadar. "Oh iya gue lupa.


jadi gini tadi pagi gue dapat kabar dari kepolisian kalau pak Agus keracunan makanan dan sekarang sedang di rawat di rumah sakit" jelas Dita panjang lebar.


"kok bisa? terus gimana keadaannya?" tanya Ziana penasaran.


"katanya ada yang nganterin makanan atas nama istrinya. belum ada pemberitahuan lagi, tadi pagi masih kritis."


"gue curiga si penjahat ini tahu kalau pak Agus buka suara dan dia merasa tidak aman sekarang" ucap Dita mengemukakan pendapat analisanya.


Ziana mengangguk membenarkan ucapan sang sekertaris.


"ya udah lo tunggu disini gue ambil tas bentar diatas"


Setelah sampai di kamarnya Ziana mengirim pesan kepada Bayu orang yang di pilih langsung oleh Regan untuk membantu Ziana .


^^^Ziana^^^


^^^"target mulai beraksi, jalankan rencana"^^^


^^^Bayu^^^


^^^"baik queen laksanakan"^^^


Setelah mendapat balasan Ziana bergegas menemui Dita untuk ke kota B.


*****


Huuuaa baru sempat up lagii.