
Sementara itu di kamar milik Aruna, gadis itu terlihat kesal, sudah berkali-kali menghubungi sang kekasih namun tak ada yang di jawab satupun.
"Ishh.. kemana sih" gerutunya membanting kecil hp nya.
Setelah lelah akhirnya gadis itu memutuskan untuk tidur, bicara besok sajalah pikirnya.
* * * * *
Pagi menjelang kembali Aruna menghubungi Leon setelah mandi dan mengenakan seragamnya.
Kali ini nomornya malah tidak aktif dan itu sukses membuat hati seorang Aruna yang baru kali ini menjalin hubungan dengan lawan jenis menjadi galau tak menentu.
"Kenapa tuh bibir, masih pagi udah di monyongin gitu?" Celetuk sang papa yang tidak tahu menahu soal masalah percintaan anak gadisnya.
Aruna hanya melengos mendengar celetuk papa yang mengajaknya bercanda di waktu yang tidak tepat.
"Ma.. anaknya kenapa sih?" Bisik Arnan kepada istrinya.
"Papa sih.. anak lagi galau malah di bercandain, bukannya di bujuk" celetuk mama.
"Loh.. kok papa sih" ucap Arnan tidak terima di salahkan.
"Terus siapa masa cicak?" Balas Ariana mendelik ke arah suaminya itu.
"Ck.. kan papa gak tau kalo dia lagi galau" ucap Arnan menunjuk Aruna dengan ekor matanya.
Aruna yang jengah melihat kedua orangtuanya bisik-bisik di hadapannya memilih bangkit dan akan berangkat sekolah bersama supir tanpa menunggu sang papa yang mengantarnya seperti biasa.
"Nah kan ngambek.. papa sih" ujar Ariana kembali menyalahkan suaminya itu.
"Tau ah papa juga ngambek" ucap Arnan bangkit dari duduknya berjalan kearah pintu.
"Loh.. ya udahlah mama juga ngambek" Ariana menghentakkan kakinya kelantai sebelum pergi ke kamarnya.
Attar yang melihat kelakuan Oma opanya hanya mengendikkan bahunya, bocah itu memilih menghabiskan susunya sebelum berangkat ke sekolah bersama sang supir.
Sampai di sekolah Aruna berniat untuk mendatangi Leon di kelasnya. Namun sayang ternyata cowok itu juga absen.
"Ish.. kemana sih, di telepon juga gak bisa" gerutu Aruna sambil berjalan cepat menghentakkan kakinya kasar.
"Aduhh" keluh Aruna saat seorang cewek baru saja menabrak bahu sebelah kirinya.
"Maaf.. maaf saya tidak sengaja" ucap cewek tersebut kemudian pergi begitu saja.
"Dian" teriak Aruna ketika mengenali cewek tersebut.
"Gue gapapa" sela Aruna cepat sebelum Dian menyelesaikan ucapannya.
"Lo mau kemana buru-buru banget?" Ucap Aruna ingin tahu.
"Saya..saya ada keperluan di luar" Alibi Dian.
"Tapi bentar lagi bel, jangan bilang lo mau bolos" tuduh Aruna menatap adik kelasnya itu.
"Iya kak"
"Kenapa lo mau bolos, gue fikir lo anak baik-baik"
"Se.. sebenarnya ibu saya, lagi sakit dan sekarang sedang di rawat di rumah sakit" sangkal Dian yang tidak sepenuhnya salah, karena ibunya yaitu ibu Dewi memang tengah di rawat di sebuah rumah sakit.
"Sorry gue gak tau" sesal Aruna yang memang tidak mengetahui perihal ibunya Dian.
"Saya permisi ya kak" setelah berpamitan cewek berkacamata itu pun bergegas meninggalkan halaman sekolah sebelum ada yang melihatnya.
_____________________________
Sementara itu kini Ziana dan anggota Bloody Rose lainnya berhasil menerobos masuk kedalam markas utama Scorpion setelah sebelumnya melumpuhkan beberapa anggota geng Scorpion yang berjaga di beberapa titik, berkat instruksi dari Fero.
Namun di dalam sana ternyata mereka sudah di tunggu oleh ketua dari geng Scorpion dan kawanannya.
"Selamat datang di markas kami, sebuah kehormatan bagi kami karena kedatangan seorang Queen secara langsung" ucap orang tersebut yang tengah duduk di sebuah kursi sambil membaca sebuah buku di tangannya.
Deg
'siapa sebenernya orang ini' batin Ziana
Namun kemudian orang tersebut tertawa terbahak bahak "sambutan seperti itu kan yang kamu harapkan hahahaha" ucapnya.
Cih
"Saya tidak butuh sambutan apapun dari anda" sarkas Ziana.
"He.. masih saja sombong" dengus orang tersebut sambil menutup buku yang sedari tadi dipegangnya.
Ziana terus saja memperhatikan setiap bentuk dan postur dari ketua geng Scorpion, meskipun menggunakan penutup wajah, namun Ziana mengenali mata pria itu.
*****