About Ziana

About Ziana
Chapter 77



"Berhenti.." seru Ziana berdiri diambang pintu sambil mengarahkan sebuah pistol kearah Agler, diikuti oleh Arash di belakangnya.


"jangan bergerak" ucap Arash sedikit lebih maju ketika melihat Agler bergerak.


"cihhh..kalian pikir saya takut" ujar Agler menyeringai, pria itu lalu mengangkat pistolnya dan mengarahkan kearah Arash dan Ziana bergantian.


Arash dan Ziana saling pandang beberapa saat, kemudian mengangguk seperti memberi sebuah sinyal.


kemudian tanpa aba-aba Arash menarik pelatuknya, namun Agler dengan cepat bisa menghindar dari timah panas yang meluncur kearahnya.


Dor


giliran Ziana yang menarik pelatuknya, dan kali ini pria itu tidak bisa lagi untuk menghindar seperti yang dilakukan sebelumnya.


"tuan..." teriak beberapa anak buah pria itu.


Peluru itu meluncur dan mengenai lengan kanan Agler, membuat senjata pria itu terlepas dan terjatuh dari tangannya.


"shhh..sial" pria itu meringis sambil memegangi lengannya yang terluka.


"jangan ada yang mendekat" peringat Arash saat melihat anak buah Agler mencoba untuk membantu tuannya.


Setelah mereka semua kembali ke posisi semula, Ziana menoleh sesaat kepada Arash lalu perempuan itu berjalan kearah Agler yang sudah terduduk di lantai.


"mau sampai kapan anda bersembunyi dibalik kain penutup wajah itu" ujar Ziana membuat pria itu terkekeh.


"saya sudah mengetahui siapa Anda jadi berhentilah bersembunyi seperti seorang pengecut, tuan Agler Ravindra" desis Ziana tepat didepan wajah pria itu.


Terkejut, tentu saja pria itu terkejut karena tidak menyangka bahwa Ziana telah mengetahui penyamarannya.


Bukan hanya Agler yang terkejut, namun Regan yang berada dibelakang mereka ikut terkejut mendengar ucapan Ziana.


Kemudian tanpa aba-aba Ziana menarik paksa kain yang menutupi wajah pria itu. Agler menunduk setelah beberapa saat barulah pria itu mendongak menatap Ziana dengan senyum menyebalkan.


Arash maju dan tanpa aba-aba langsung memberikan bogem mentah tepat di wajah Agler, membuat pria itu menoleh kebelakang saking kerasnya pukulan Arash.


"brengsek.." gumam Agler memegangi sudut bibirnya yang mengeluarkan darah segar akibat pukulan Arash.


"jangan menatapnya dengan tatapan seperti itu lagi" ujar Arash membuat Agler tertawa.


Arash yang kesal kembali maju namun Ziana buka suara "berhenti.." suara tegas Ziana membuat Arash seketika tersadar akan tindakannya yang bodoh itu.


Regan tersenyum tipis melihat tingkah Arash yang sudah mulai memperlihatkan sifat posesifnya terhadap Ziana.


Saat mereka kembali fokus kepada Agler, tiba-tiba datang seseorang "maaf queen saya terlambat" ujarnya membuat semua orang menoleh termasuk Regan.




Sesampainya didalam ruangan tersebut, terlihat ibunya yaitu ibu Dewi terlihat tertidur nyenyak seorang diri tanpa ada adiknya yang menemani.



"Dian kemana ya?" gumamnya.



Dita lalu berjalan masuk dengan sangat pelan karena takut membuat ibunya terbangun. Kemudian perempuan itu duduk di kursi samping tempat tidur, lalu menatap sang ibu lama, lalu kemudian berjalan keluar untuk menemui dokter yang menangani ibunya untuk menanyakan keadaannya.



Kembali ke markas utama Bloody Rose, Semua orang masih fokus kearah seorang perempuan yang baru saja datang, kecuali Ziana dan Regan.


"ini rekaman yang anda minta, semua bukti ada didalam sini" ujar perempuan tersebut menyodorkan sebuah flash disk kepada Ziana.


Ziana mengambil flash disk yang diberikan oleh orang tersebut sambil mengucapkan terimakasih.


Lalu Ziana mulai menyambungkan flash disk tersebut kepada TV yang ada di pojok ruangan itu.


Sementara itu Bryan dan Lucas yang baru saja datang langsung saja masuk dan ikut melihat semua yang ditampilkan di layar tersebut.


Setelah layar itu mati, Ziana terpaku ditempatnya, perempuan itu tidak menyangka bahwa sosok yang selama ini dianggapnya sebagai figur seorang kakak ternyata telah menusuknya dari belakang.


Meskipun telah mengetahui soal penghianatan yang dilakukan Agler beberapa hari yang lalu, tapi setelah melihat vidio tersebut Ziana tetap saja merasakan sakit dihatinya karena dikhianati.


Sementara sang pelaku hanya bisa menunduk, jauh didalam hatinya pria itu sebenarnya mencintai Ziana, bukan perasaan seorang kakak kepada adiknya tapi sebagai seorang pria kepada wanitanya.


Namun karena iri terhadap Ziana yang selalu saja di puji oleh Kakek Abian membuat pria itu menjadi gelap mata, sebisa mungkin pria itu menekan perasaannya sendiri dan berbalik untuk menghancurkan Ziana.


Tapi malam ini, setelah melihat tatapan benci yang diberikan oleh Ziana membuat Agler merasa bersalah kepada perempuan itu. Pria itu ternyata masih begitu mencintai Ziana, dan kalah oleh perasaannya sendiri.


Agler merasa menyesal telah bertindak sejauh ini dan membuat perempuan itu membencinya.


Tanpa mengucapkan apapun Ziana berbalik arah dan pergi dari sana. Arash yang merasa khawatir dengan perempuan itu akhirnya mengikutinya, setelah memberikan arahan kepada kedua sahabatnya untuk menangkap seluruh anak buah Scorpion lalu membawa Regan dan teman-temannya kerumah sakit.


****


Happy Reading 💞💞 💞