About Ziana

About Ziana
Chapter 100



Semua orang yang berada di ruangan tersebut dibuat terkejut karena ulah Regan yang langsung menerobos masuk.


"sayang..gimana keadaan kamu?" Regan bertanya sambil memeluk Gretha yang masih duduk bersandar di atas brankar.


Wajah Gretha sudah memerah karena kelakuan tidak tahu malu suaminya yang langsung memeluknya tanpa memikirkan orang-orang disekitar mereka.


Regan juga berkali-kali mengecup kepala Gretha sehingga membuat wanita itu tambah merona. Meskipun telah resmi menjadi pasangan suami dan istri tetap saja Gretha merasa tidak etis jika mempertontonkan adegan mesra kepada orang lain, apalagi kepada seorang jomblo (seperti author misalnya).😌


"aku dan baby baik-baik saja, maaf karena sudah membuatmu khawatir" bisik Gretha yang masih berada didalam pelukan Regan, sambil tangannya mengusap punggung kekar sang suami.


Jujur saja setelah mendapat telepon dari Bi Lasmi art nya membuat separuh nyawa Regan bagai ditarik paksa dari tubuhnya.


Namun setelah mendengar langsung dari mulut Gretha bahwa dirinya dan calon anaknya baik-baik saja Regan sedikit merasa lega, hanya sedikit sebab dia belum mendengar penjelasan langsung dari dokter.


Regan pun perlahan melepaskan pelukannya setelah mendapat bisikan dari sang istri bahwa semua orang menatap kearah mereka.


Seolah tidak terjadi apa-apa dengannya barusan, Regan dengan santainya menyapa semua orang termasuk mertua perempuannya. Barulah kemudian Regan berbicara serius kepada dokter yang menangani istrinya beberapa menit yang lalu setelah dirinya datang.


Setelah mendengar langsung dari dokter barulah Regan bisa bernafas lega, karena posisi jatuhnya sang istri sama sekali tidak membahayakan bayi yang berada di dalam kandungannya.


Pesan dokter hanya harus lebih berhati-hati lagi kedepannya, dan jangan terlalu banyak bergerak dulu karena kaki Gretha yang harus diperban karena mengalami luka.


Malam ini mereka menginap dirumah sakit karena Regan yang tidak ingin mengambil resiko jika terjadi sesuatu pada sang istri tercinta.


🌹🌹🌹


3 hari berlalu setelah kepergian Arash, Ziana masih saja memikirkan keberadaan laki-laki itu, bahkan Ziana menelpon Aruna hanya untuk menanyakan Arash.


Karena tidak mendapatkan jawaban soal keberadaan Arash dari Aruna, setelah pulang dari kantor Ziana memutuskan untuk mampir kerumah orangtuanya.


"Assalamualaikum.." ucap Ziana masuk begitu saja.


"wa'alaikumsalam" ucap serentak semua orang.


"Zizi.. ya ampun akhirnya kamu mampir, kebetulan banget mama abis masak" sapa Claudia ramah seperti biasanya.


Sementara Bagas hanya terduduk di kursinya tanpa menyapa Ziana seperti yang dilakukan oleh istrinya.


"iya Ma, Zoey dimana?" tanyanya setelah tidak menemukan keberadaan adik kecilnya.


"masih di kamarnya, sana gih samperin pasti seneng dia" kata Claudia.


Ziana mengikuti perkataan Claudia untuk menemui Zoey di kamarnya.


Setelah kepergian Ziana kelantai 2 Claudia menegur Bagas "Mas.. katanya mau mencoba dekat sama Zi"


"aku..aku gugup, rasanya sudah lama sekali kami tidak...." Bagas menjeda ucapannya.


"sudahlah, akan aku coba" ucapnya bertekad.


"harus mas.. semangat ya, Cla yakin Zizi pasti akan menerimamu lagi" Claudia berdiri dibelakang Bagas sambil berucap optimis dan memberikan semangat untuk Bagas.


Bagas mengangguk "terimakasih ya sayang untuk support kamu selama ini" ucapnya menggenggam tangan Claudia yang bertengger di bahunya.


"itu sudah jadi kewajiban ku mas" balas Claudia melingkarkan kedua tangannya dileher Bagas.


Mbok Tin yang tidak sengaja melihat adegan itu ikut tersenyum melihat kemesraan kedua majikannya.


"kak Zizi.." teriaknya keras membuat Ziana refleks menutup kedua telinganya.


"sssttt.. pelan-pelan sayang, jangan teriak seperti itu" kata Ziana menempelkan telunjuk di depan bibirnya.


Zoey hanya cekikikan melihat reaksi kakaknya itu, lalu berlari dan memeluk erat leher Ziana yang sudah berjongkok di hadapannya.


Setelah melepaskan pelukannya Ziana menemani Zoey bermain boneka Barbie sebentar sebelum mama Cla datang dan mengajak keduanya makan malam bersama.


🌹🌹🌹


Selesai makan malam Bagas, Zoey dan Ziana berkumpul di ruang keluarga, kecuali Claudia yang beralasan ingin membuat kopi untuk Bagas.


Padahal kenyataannya itu hanya alibi Claudia untuk membuat pasangan anak dan ayah itu menjadi akur.


"ekhemm" Bagas berpura-pura batuk lalu meminta Zoey untuk mengambilkannya air minum di dapur.


Zoey dengan patuh mengikuti permintaan papanya.


Setelah kepergian Zoey terjadi keheningan diantara keduanya baik Ziana maupun Bagas tidak ada yang membuka suaranya, mereka fokus dengan pikiran masing-masing.


"Pa../Zi.." ucap keduanya bersamaan membuat keadaan menjadi canggung.


"papa duluan saja"


"tidak, kamu saja yang duluan.." sela Bagas cepat.


Ziana akhirnya mengalah agar suasana yang tidak nyaman ini segera berakhir pikirnya.


"bisa papa jelaskan soal ini?" tanya Ziana memperlihatkan ponselnya yang berisikan foto Bagas dan Arash yang terlihat sedang membicarakan sesuatu dengan serius.


"kami hanya membahas soal pekerjaan, itu saja" sebisa mungkin Bagas mencoba untuk tenang, karena Arash memintanya untuk merahasiakan pertemuan mereka, namun entah darimana anaknya mendapatkan foto itu.


"Benarkah hanya itu?" tanya Ziana menyelidik.


Bagas mengangguk pasti "memangnya ada apa? apa telah terjadi sesuatu?" tanya Arash beruntun.


Ziana menggeleng "tidak, saya hanya bertanya" ucapnya gelagapan.


Ziana tidak mengerti sebenarnya apa yang terjadi dengannya, selama 3 hari ini pikirannya terus tertuju kepada Arash yang tiba-tiba saja menghilang dan tidak ada seorangpun yang mengetahui keberadaannya.


Karena Arash dirinya menjadi tidak fokus saat bekerja. Ziana merasa bukan seperti dirinya yang dulu setelah mengenal Arash.


Lamunan Ziana buyar ketika suara Bagas menginterupsi "apa..papa boleh bertanya kepadamu?" ucap Bagas terbata.


Ziana hanya mengangguk, namun sebelum pria itu mengucapkan kalimatnya ponsel Ziana sudah lebih dahulu berdering.


"maaf saya angkat telepon dulu" ucap Ziana datar, membuat papanya tidak punya pilihan selain mengangguk.


Ziana terlihat fokus berbicara melalui sambungan telepon yang entah dengan siapa, namun setelah selesai berbicara dia langsung pamit karena ada hal penting yang harus dia urus.


Raut kekecewaan terlihat jelas di wajah Bagas, namun dirinya tidak bisa berbuat apa-apa, mungkin ini adalah karma untuknya yang dulu sering mengabaikan kehadiran sang anak, hingga anaknya itu tumbuh tanpa dampingannya.


****


Happy Reading 💞💞 💞