
Ziana tiba di tempat yang sudah dikirimkan oleh Aruna.
"nona yakin ini alamatnya.." tanya manager Jeff ragu.
Ziana tidak menjawab, dia terus saja berjalan menyusuri jalanan tersebut, hingga mereka sampai di sebuah pinggir pantai.
Tempat itu sangat gelap, membuat manager Jeff kembali menanyakan hal yang sama, sementara Ziana terus saja berjalan tanpa rasa takut.
Didalam pikirannya, mungkin saja Arash belum ditemukan jadi Aruna mengirimkan lokasi tempat jatuhnya pesawat.
"Arash.. lo dimana.." teriak Ziana dengan sekuat tenaga.
Hanya terdengar suara deburan ombak, dan hembusan angin yang dinginnya menusuk hingga ke tulang.
Namun semua itu tidak menghalangi Ziana, ia terus berjalan menyusuri pinggiran pantai yang sepi itu.
Manager Jeff pun mau tidak mau terus mengikuti langkah Ziana karena merasa khawatir dengan bosnya itu.
Dari kejauhan Ziana mulai melihat cahaya remang-remang, karena merasa penasaran dia dan manager Jeff mendekati arah cahaya tersebut.
Ziana telah sampai dan betapa kagetnya ia ketika cahaya terang tiba-tiba saja menyilaukan matanya.
"tempat apa ini? siapa yang membuatnya?" gumam Ziana bertanya kepada dirinya sendiri.
Belum selesai keterkejutannya, tiba-tiba terdengar alunan musik yang begitu indah mengalun, disusul dengan suara seseorang yang menyanyikan sebuah lagu yang berjudul Melamarmu yang dipopulerkan oleh Badai.
Di ujung cerita ini
Di ujung kegelisahan mu
Suara itu.. Ziana seperti mengenali suara itu.
Ziana berbalik mencari asal suara dan di ujung sana berdiri seorang laki-laki yang beberapa saat yang lalu membuatnya khawatir, laki-laki itu adalah Arash.
Arash tersenyum seraya menatap Ziana dalam sambil terus bernyanyi.
Ku pandang tajam bola matamu
Cantik dengarkanlah aku..
Arash berjalan mendekat dan berdiri tepat di hadapan Ziana.
Aku tak setampan Don Juan
Tak ada yang lebih dari cintaku
Tapi saat ini ku tak ragu
Ku sungguh memintamu..
Tangan Arash meraih tangan Ziana dan menggenggamnya, kemudian berlutut di hadapan Ziana.
Jadilah pasangan hidup ku
Jadilah ibu dari anak-anakku
membuka mata dan tertidur di sampingku
Aku tak main-main
Seperti lelaki yang lain
satu yang ku tahu
ku ingin melamar mu~~
Musik berhenti, Attar berlari kearah sang Daddy dengan membawa sebuah kotak kecil, dan kemudian memberikannya kepada Arash.
"terimakasih boy" ucap Arash kepada putranya.
Attar mengangguk lalu mengambil posisi berdiri dibelakang Arash.
"aku tahu ini terlalu cepat, tapi aku tidak bisa menundanya lagi" ucap Arash masih tetap pada posisinya.
Arash lalu menarik nafasnya, setelah membuka kotak tersebut yang berisikan sebuah cincin, Arash mengutarakan keinginannya.
Ziana terdiam ditempatnya, dia bingung harus menjawab apa. Saat ini perasaannya campur aduk antara senang, marah, kesal, sedih semua menjadi satu.
Melihat ke terdiaman aunty Zi, Attar tidak tinggal diam, bocah laki-laki itu ikut berlutut disampingnya daddy nya.
"aunty, dari dulu Attar ingin memiliki orang tua yang lengkap, tapi Attar takut." ucap Attar.
" kata teman-temamku semua ibu tiri itu jahat, mereka suka menyiksa anak tirinya.
"tapi Attar percaya bahwa aunty berbeda dengan ibu tiri yang lainnya. Attar sangat berharap aunty mau menerima lamaran Daddy" ungkap Attar.
Ziana terharu mendengar pengakuan Attar, akhirnya dia mengangguk. "i Will" ucapnya.
Segera setelah mendengar jawaban Ziana, Arash langsung menyematkan cincin tersebut ke jari manis Ziana.
Arash pun berdiri dan segera memeluk Ziana yang sebentar lagi akan menjadi istrinya.
Bunyi petasan dan riuh tepuk tangan membuat Ziana dan Arash melerai pelukannya.
Seluruh tim hore keluar dari tempat persembunyian. Semua anggota inti dari The Braves dan Bloody Rose hadir memeriahkan acara lamaran tersebut.
Kedua orang tua dari kedua belah pihak bahkan ikut hadir, mereka berjalan mendekat untuk mengucapkan selamat kepada pasangan Arash dan Ziana.
"hore makan-makan" teriak Fero dan Tristan mencairkan suasana, yang mulai berawan akibat mama Arianna dan Ziana yang saling berpelukan erat.
"lo berdua ya, merusak suasana aja" celetuk Jessica mengundang tawa semua orang.
"ini itu acara bahagia, jadi gak boleh ada yang sedih-sedih"
Arash dan Ziana hanya menggeleng melihat tingkah absurd kedua lelaki itu.
Semua rencana berjalan sesuai dengan rencana Arash, kini mereka semua sedang sibuk membakar daging.
Sementara para orang tua sudah pamit untuk pulang lebih dulu, dengan alasan sudah tidak sanggup terkena angin malam terlalu lama.
Ya, mereka sedang pesta barbeque untuk merayakan lamaran Arash yang berjalan lancar.
Sebenarnya ini tidak termasuk dalam draf, namun karena permintaan mereka semua akhirnya Arash menyetujui.
Niat awalnya hanyalah memesan prasmanan, namun karena para anak muda ingin pesta barbeque jadilah Arash hanya mengiyakan.
Manager Jeff yang tidak terlibat dalam rencana pun ikut menjadi tim sukses, karena berkatnya Ziana bisa sampai kesini dengan selamat.
Bahkan manager Jeff sudah terlihat akrab dengan Tristan dan Fero.
🌹🌹🌹
Sementara itu Luis yang waktu itu ikut dengan Arash ke kota A, hanya memandangi mereka dari kejauhan bersama dengan seorang wanita.
"kenapa kau tidak kesana dan menemuinya" ucap Luis ketika melihat air mata wanita itu menetes namun dengan cepat di seka.
"ini bukan waktu yang tepat..
"kau tidak lihat senyumnya itu? aku tidak ingin merusak kebahagiannya malam ini" kata wanita itu.
"ya ya ya terserah mu sajalah, aku hanya memberitahu"
"aku ingin kembali ke penginapan, kau mau ikut atau tetap disini?" tanya Luis.
"aku masih mau disini, kau pergilah dulu"
"baiklah, tapi ingat kau jangan sampai hilang" kata Luis sebelum pergi.
Setelah kepergian Luis, wanita itu kembali menatap kearah Ziana.
"putriku.. aku turut bahagia melihatmu tersenyum selepas itu" ucap Zara seraya menyeka air matanya yang menetes.
Setelah mengucapkan itu Zara lalu pergi dan menyusul Luis.
****
Happy Reading 💞💞 💞