
Tepat pukul 12:00 siang itu, mobil yang dikendarai oleh Bryan terlihat mulai memasuki sebuah halaman rumah yang begitu luas.
Bryan turun lebih dulu, disusul dengan Naysilla. Gadis itu mulai mengedarkan pandangannya, terlihat ia sangat mengagumi halaman rumah itu. Selain karena luas, yang Naysilla sukai adalah adanya taman yang terlihat sangat indah dan tertata sehingga membuat siapa pun yang datang kesana akan terpana melihat pemandangan itu.
Naysilla perlahan melangkah mengikuti Bryan yang sudah beberapa meter didepannya.
Sesampainya didalam, mereka langsung disambut dengan ramah oleh seorang wanita paruh baya yang merupakan kepala pelayan dirumah megah itu.
Naysilla lalu dipersilahkan untuk duduk, sedangkan Bryan terlihat menaiki anak tangga untuk mencari keberadaan mamanya.
Selesai mempersilahkan duduk, kepala pelayan itu pun pamit, untuk membuatkan Naysilla minum.
Naysilla kembali mengedarkan pandangannya ke segala penjuru rumah, meskipun ini adalah kali keduanya ia menginjakkan kaki dirumah bos dinginnya, namun tetap saja gadis itu selalu dibuat takjub dengan arsitektur rumah itu.
Meski Naysilla merupakan mantan orang kaya, namun jika dibandingkan dengan kekayaan yang dimiliki Bryan, kekayaan papanya tidak ada apa-apanya dengan kekayaan Bryan yang mungkin tidak akan habis hingga tujuh turunan.
Saat gadis itu tengah sibuk mengagumi keindahan rumah milik si bos dinginnya, tiba-tiba terdengar sapaan dari Tante Regina, ibunya Bryan, dari arah tangga.
"eh.. Naysilla udah datang.." hebohnya yang masih berada dilantai atas, sambil berlari menuruni tangga layaknya anak kecil.
Naysilla mengedarkan pandangannya untuk mencari asal suara yang menyapanya dengan hangat. Melihat kelakuan Regina membuat Naysilla berdiri spontan karena khawatir jika wanita paruh baya yang energik itu terjatuh dari atas.
"Assalamualaikum Tante" ucap Naysilla sambil meraih tangan Regina dan menciumnya dengan takzim.
Regina tersenyum lembut sambil menjawab salam dari calon menantu bohongannya "wa'alaikumsalam sayang" ucapnya menjawab salam dari Naysilla dan mengusap kepala gadis yang sedang mencium tangannya.
"Tante apa kabar? sehat?" tanya Naysilla setelah selesai dengan kegiatannya, namun tangannya masih di genggam oleh Regina.
"kok Tante sih manggilnya, mami aja sayang kayak Bryan manggil mami" ucap Regina sambil mengelus pelan tangan Naysilla.
"ii..iya ma..mi" ucap Naysilla gagap, sambil melirik kearah Bryan yang terlihat biasa saja, bahkan terkesan cuek.
"nah gitu dong.." ucap Regina yang terlihat senang karena permintaannya terpenuhi, Wanita itu lalu menuntun Naysilla untuk duduk kembali di sofa.
"mami sehat banget sayang, kamu sendiri gimana? seru gak acara pernikahannya kemarin?" ucap Regina kemudian balik bertanya.
"seru kok mami.." jawab Naysilla antusias.
Mereka pun berbincang sebentar seputar acara kemarin, sebelum bersiap untuk jalan-jalan dan berbelanja, dengan Bryan yang akan menjadi supir. Sedangkan sang papi tidak terlihat sejak pertama mereka datang.
Sementara itu ditempat lain, setelah mengudara selama kurang lebih 4 jam, akhirnya Ziana dan Arash tiba di lokasi yang menjadi tujuan honeymoon mereka.
Ziana di buat terpukau dengan pemandangan yang disajikan didepan mata. Bagaimana tidak di sepanjang jalan menuju tempat penginapan, mata mereka di suguhkan dengan keindahan alam yang memukau, sehingga tidak heran jika tempat itu dijuluki sebagai surga yang tersembunyi.
Arash menoleh kearah Ziana dan tersenyum kecil melihat betapa antusiasnya perempuan itu, bahkan sorot matanya terlihat berbinar, itu adalah sesuatu yang tidak pernah Arash lihat sebelumnya dari sosok Ziana.
Berkat informasi informasi dari papa Bagas, yang mengatakan bahwa sejak kecil Ziana sangat menyukai alam jadi Arash sengaja memilih lokasi honeymoon mereka ditempat yang memiliki pemandangan alam yang dapat memanjakan mata mereka.
Setelah beberapa saat mereka pun tiba disebuah villa yang letaknya sangat strategis.
Arash sengaja memilih villa itu agar lebih privasi, karena ini adalah honeymoon mereka. Setelah berkeliling sebentar disekitaran Villa, Arash mengajak Ziana untuk beristirahat sebelum mereka mulai menjelajahi tempat tersebut esok hari
Meskipun masih ingin berkeliling dan menikmati pemandangan, namun Ziana mengikuti keinginan Arash, karena jujur ia sebenarnya sedikit lelah.
Selesai membersihkan tubuh mereka, keduanya pun memutuskan untuk tidur untuk mengembalikan tenaga dan stamina mereka.
Sementara itu di ibu kota terlihat keluarga A yaitu papa Arnan, mama Arianna, Aruna dan Attar baru pulang setelah seharian berbelanja dan jalan-jalan.
Setelah turun dari mobil Attar berlarian memasuki rumah, setelah itu bocah laki-laki itu menaiki tangga masih sambil berlari.
Tujuan utamanya yaitu adalah kamar sang Daddy, namun bukan untuk mencari Arash melainkan untuk bertemu Ziana.
Tangan kecil itu mulai mengetuk daun pintu yang menjulang tinggi di depannya
tok..
tok.
tok..
"Momzi.. Momzi.." ucapnya sambil terus mengetuk pintu kayu tersebut.
"Daddy buka pintunya Attar mau ketemu Momzi.." teriak Attar.
Bocah laki-laki itu terus mengetuk pintu kamar sang Daddy namun tidak ada sahutan dari dalam. "apa Daddy sama Momzi udah tidur ya" pikirnya.
"yaudah deh besok aja ngasih hadiahnya" ucapnya seraya menatap paper bag yang sejak tadi di bawanya.
Akhirnya Attar meninggalkan kamar Arash dan berlalu menuju kamarnya sendiri.
Sementara ketiga manusia yang masih berada di bawah bernafas lega, setelah mendengar bahwa Attar tidak lagi mengetuk pintu kamar milik Arash. Bocah laki-laki itu tidak tahu bahwa kedua orangtuanya tengah honeymoon.
Bukan bermaksud untuk membohongi Attar, sebab mereka pun baru tahu beberapa jam yang lalu saat Arash menghubungi Aruna untuk menitipkan Attar selama beberapa hari kedepan.
"Aruna ke kamar dulu ya Ma, Pa" pamit Aruna kepada kedua orang tuanya.
kedua paruh baya itu mengangguk, setelah itu mereka pun menuju kamar mereka, karena merasa lelah setelah seharian berkeliling menemani anak dan cucunya berjalan-jalan.
...****************...