About Ziana

About Ziana
Chapter 184



Arash bangun pagi-pagi sekali dan tidak menemukan keberadaan Ziana lagi disisinya.


Laki-laki itu bangkit dari tempat tidur, kemudian berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci muka sebelum menyusul sang istri ke bawah.


Senyum lebar Arash sunggingkan saat menatap punggung Ziana yang terlihat sedang mengaduk sebuah panci yang masih mengepulkan asap.


Aroma masakan langsung menguar begitu Arash menginjakkan kakinya di dapur. Dengan berjalan mengendap-endap laki-laki itu kini tepat berdiri di belakang sang istri.


Hap


"Astaghfirullahaladzim..mas.. ngagetin ishh.." Ziana mendesah kesal, karena terkejut ketika tangan suaminya tiba-tiba memeluk dirinya dari belakang.


"Masak apa sih yank.? Wangi banget" Arash tidak menanggapi kekesalan Ziana. Laki-laki itu mencondongkan tubuhnya ke depan guna melihat isi dari panci yang mengeluarkan bau sedap di hadapannya.


"Soto Lamongan. Mau coba?" tawar Ziana.


"nanti aja deh yank, mas mau joging dulu sebelum lemak di perut semakin banyak gara-gara kamu" tolaknya


Ziana mendelik "Ya udah sana mas minggir, gerah tau.." rengek wanita itu sambil mengecilkan api kemudian berbalik badan. Ziana mendorong kecil tubuh kekar Arash yang nampak enggan menjauhkan tangannya dari sang calon anak yang masih dirahasiakan jenis kelaminnya.


"bentar mom.. Daddy kan masih kangen sama baby girl" ucap Arash manja, sambil tangannya mengusap-usap perut buncit milik Ziana.


Ziana menautkan kedua alisnya "mas tahu darimana kalo baby-nya perempuan?" Tanyanya heran, sebab mereka sudah sepakat untuk tidak menanyakan jenis kelamin bayi nya kepada dokter. Biarkan itu menjadi surprise untuk mereka dan anggota keluarga yang lain.


"Feeling sih" jawabnya sambil nyengir.


Sedang Ziana hanya menggeleng pelan dengan tingkat sok tahu suaminya


"Kan mas yang bikin, jadi menurut feeling mas sebagai penyalur sp*rma, anak kita nanti berjenis kelamin perempuan" ucapnya tanpa filter yang langsung mendapat hadiah berupa cubitan gemas dari sang istri tercinta.


"Aawwhh..sayang..aahh" Arash dengan sengaja mendesah nikmat, hingga Ziana memukul bahu laki-laki itu cukup keras, dan membuat Arash tertawa lebar.


"Daddy sama Momzi lagi ngapain?" Arash langsung menghentikan tawanya begitu mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh sang putra.


Arash berjalan mendekati Attar "Momzi tuh maksa Daddy buat nyobain masakannya. Padahal kan kita mau olahraga"


Ziana melototkan matanya mendengar kebohongan yang diucapkan oleh suaminya. Sedangkan Arash hanya tersenyum nakal sambil mengedipkan sebelah matanya genit.


Attar menatap kedua orangtuanya secara bergantian tanpa mengucapkan apapun.


Anak laki-laki itu lalu mendengus, dirinya bukan lagi seorang anak kecil yang mudah dibohongi, apalagi oleh Daddy-nya. Attar berjalan kearah Ziana, meraih tangan Momzi dan mengecupnya "Attar sama Daddy joging dulu ya Momzi" pamitnya.


Rupanya ayah dan anak itu sudah janjian untuk joging berdua pagi ini.


"Iya sayang. Momzi mau ikut boleh?" Goda Ziana sambil mengusap lembut surai Attar.


"Noo.." sahut kedua laki-laki beda generasi itu serentak hingga membuat Ziana terbahak.


"Sayang kamu jangan aneh-aneh deh" Arash mendekat dengan ekspresi kesal bercampur takut.


"Momzi di rumah aja, ndak boleh capek-capek" timpal Attar kemudian.


Kedua laki-laki itu sangat menjaga dan melindungi Ziana, seolah takut terjadi apa-apa kepada bumil tersebut.


Ziana terkekeh dengan respon keduanya.


~


~


~


Regan berjalan mondar-mandir di depan ruang persalinan menanti kelahiran bayi kembarnya dengan cemas.


Kedua orangtua istrinya pun turut hadir, namun keduanya terlihat duduk dengan tenang, tanpa raut cemas ataupun khawatir. Padahal di dalam sana, Gretha sedang berjuang antara hidup dan mati.


Di ujung koridor terlihat Tristan, Jessica, Fero dan Dian berjalan tergesa. Begitu mendapat kabar bahwa istri Regan akan melahirkan, mereka langsung bergegas ke rumah sakit.


"Gimana keadaan kakak ipar?" Tanya Fero setelah tiba di depan ruang persalinan.


Regan melirik pintu ruangan "mereka masih didalam" ucapnya lirih.


Tristan mendekat "berdoa bang, semoga kakak ipar dan baby-nya baik-baik saja" menepuk pelan pundak Regan, yang sudah di anggapnya seperti kakak sendiri.


Regan mengangguk "terimakasih.."


Fero dan Tristan menuntun Regan dan mendudukkannya di kursi tunggu


Setengah jam kemudian


Ooeekk..oeekk..oooeekkk.


Regan langsung sujud syukur begitu mendengar suara tangisan bayi yang menggema di dalam ruangan.


Dokter muda tersebut tersenyum memaklumi tingkah suami dari pasiennya "Alhamdulillah ibu dan si kembar sehat tanpa kekurangan satupun. Hanya saja──


"Hanya saja apa dok?" Regan langsung menyela ucapan dokter. Pria itu sudah ketar-ketir, takut sesuatu buruk terjadi kepada istri dan bayi kembarnya, seperti yang pernah terjadi sebelumnya.


"Tenang bang, jangan menyela, biarkan dokter menyelesaikan ucapannya dulu" ucap Fero menepuk pelan punggung Regan


"Silahkan dilanjut Bu dokter" kata Fero lagi setelah melihat Regan bisa menguasai diri.


"Hanya saja sepertinya ibu Gretha tertidur karena kelelahan" tuturnya lembut, membuat mereka langsung menarik nafas lega


"Apa saya sudah bisa bertemu istri dan anak saya?"


"Bisa pak, tapi setelah istri anda di pindahkan ke ruang perawatan. Di sana anda bisa sekalian mengadzani si kembar" jelas dokter tersebut.


"Baik dok terimakasih"


Dokter tersebut pun mengangguk kemudian berlalu, menuju ruangannya.


_________________________


"Mas udah selesai belum?" Teriak Ziana dari lantai bawah.


"Sebentar yank.." Arash balas berteriak, membuat Ziana mendengus sebal.


"Mas Arash ngapain sih di atas, lama banget" gerutunya sambil melirik jam dinding.


Ziana sudah tidak sabar ingin segera melihat bayi kembar Regan, namun Arash begitu lama bersiap.


"Yuk..mas udah siap" Ajak Arash begitu keluar dari pintu lift sambil menggandeng tangan Attar.


Semenjak Ziana hamil, Arash memang sengaja memasang lift di rumah mereka, agar Ziana tidak perlu capek harus naik turun tangga lagi.


Ziana berdiri "ngapain aja sih di atas? Lama banget" omelnya berjalan lebih dulu.


Arash dan Attar mengekor dibelakang "maaf Momzi.. tadi Daddy abis nyetor dulu" Arash mengusap perutnya setelah duduk di kursi kemudi.


Ziana tidak merespon lagi. Wanita itu mengalihkan tatapannya keluar jendela. Sementara Attar yang sudah sangat sering mendengar perdebatan kedua orangtuanya tidak ambil pusing dan memilih bermain game online.


Kedua orangtuanya tidak pernah benar-benar bertengkar nanti juga baikan lagi pikir Attar.


Tidak butuh waktu lama, mobil yang Arash kemudikan berbelok ke dalam halaman rumah sakit yang luas.


Setelah memarkir mobilnya pada tempat parkir, ketiganya langsung turun.


Arash menggandeng tangan Ziana dan Attar di sisi kanan dan kirinya, dan berjalan dengan santai, seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Pun dengan Ziana yang sudah melupakan kekesalannya beberapa saat yang lalu terhadap sang suami.


Tidak sulit menemukan ruangan istri Regan, sebab sebelum berangkat, Dian sudah memberitahu dimana letak ruangannya.


cklek


Arash membuka pintu ruangan dan langsung di sambut oleh suara tangis salah satu dari bayi kembar Regan.


"Belum juga uncle ganteng apa-apain udah nangis aja kamu nak" celetuk Arash narsis.


Sementara Ziana langsung mendekat ke arah ranjang di mana Gretha nampak kesulitan menenangkan bayinya.


"Mungkin dia laper mbak.."


"Ini susunya aja gak di abisin kak" ucap Dian mengangkat dot bayi di tangannya.


"Coba sini sama aunty" Ziana mengambil alih bayi berjenis kelamin laki-laki itu ke gendongannya "pantes nangis ternyata kamu pup ya.." ucap Ziana mencolek hidung mancung bayi tersebut, pelan.


Ziana lalu meletakkan bayi laki-laki tersebut kemudian dengan telaten mengganti popoknya dengan yang baru.


"Aura calon ibu emang beda ya.." celetuk Jessica takjub dengan kepiawaian Ziana dalam mengurus bayi, yang notabenenya merupakan mantan ketua mafia.


Tidak heran jika Ziana pintar mengurus bayi, sebab sebelum pindah ke apartemen, Ziana sering membantu bunda Claudia mengurus Zoey sewaktu adiknya itu masih bayi.


"Mau coba gendong boleh nggak?" Jessica memang sudah sejak tadi ingin merasakan bagaimana rasanya menggendong bayi bayi menggemaskan itu namun tidak berani.


"Jangan Zi.. Jeje gak pernah gendong bayi" cegah Regan, takut anaknya kenapa-kenapa jika di gendong oleh Jessica.


Jessica mendelik "iishh.. bang Re pelit banget deh" celetuknya lalu berjalan menuju sofa dan mendaratkan bokongnya di samping Tristan yang tersenyum ke arahnya.


Ziana menimang-nimang bayi tersebut hingga tertidur. Setelah itu barulah ia meletakkannya di box bayi yang saling bersebelahan.


Ziana tersenyum menatap kedua bayi berbeda jenis kelamin itu sedang tertidur pulas. Namun sesaat kemudian tatapannya berubah menjadi sendu semoga mommy masih di beri kesempatan untuk bisa menggendong dan mengganti popok mu sayang.. batinnya seraya mengusap perut buncitnya.


*******


Happy Reading 💞💞