
Aruna sudah tersadar sesaat setelah sampai di depan rumahnya.
Sebelum keluar dari mobil tidak lupa gadis itu berterima kasih kepada Jessica, karena mengira bahwa Jessica lah yang telah menolongnya dari para penculik itu.
Selesai mengantar Aruna, Jessica lalu mengantar Leon kembali kerumahnya, setelah itu barulah mereka kembali ke markas.
Dian tidak pulang malam ini, dan meminta izin kepada Dita bahwa sedang berada di rumah temannya karena ada tugas dari sekolah yang harus dikumpulkan besok.
Dita percaya percaya saja kepada adiknya itu, karena selama ini Dian adalah adik yang baik dan tidak banyak menyusahkannya.
Justru malah sang ibunya yang seperti menaruh curiga kepada Dian karena akhir-akhir ini anaknya tersebut sering sekali menginap dirumah temannya.
Namun Dita berusaha meyakinkan ibunya bahwa Dian tidak mungkin membohongi mereka.
Dita sebenarnya tahu, bahwa Dian bukanlah adik kandungnya, tapi dirinya tidak pernah mempermasalahkan hal tersebut.
Karena baginya status itu tidak terlalu penting, dari dulu sampai sekarang dirinya sudah menganggap Dian sebagai adik kandungnya, dan akan selalu seperti itu.
Kembali ke tempat penculikan, Ziana dan Bryan keluar dari rumah tersebut, sesampainya di luar keduanya saling pandang karena ternyata sudah sepi.
Kemana perginya para preman tadi? mungkin seperti itulah maksud pertanyaan yang dilontarkan Bryan melalui pandangan matanya.
Namun Ziana hanya menjawab dengan mengendikkan bahunya karena dirinya pun tidak tahu kemana perginya mereka.
Tidak ingin terlalu pusing memikirkan tentang para penjahat itu, Bryan dan Ziana melanjutkan langkah mereka, dan bergegas ketempat mereka memarkir kendaraannya masing-masing.
Keduanya berpisah disana karena arah mereka yang berlawanan, Bryan sudah menawarkan diri untuk mengantar Ziana, karena menurutnya sebagai laki-laki gentle tidak baik membiarkan seorang perempuan pulang sendirian apalagi tengah malam seperti ini. Ditambah lagi sahabatnya Arash sedang dekat dengan perempuan itu.
Namun Ziana menolak tawaran Bryan karena dia bisa menjaga dirinya sendiri, dan lagi dia tidak ingin merepotkan Bryan yang memang tidak begitu akrab dengannya.
Bryan akhirnya pergi menggunakan motornya begitu pun Ziana yang mulai menghidupkan mesin mobilnya dan tancap gas.
Gerald dan ketiga temannya akhirnya bisa bernafas lega setelah melihat mobil Ziana meninggalkan halaman rumah tersebut.
Ziana langsung pulang ke apartemennya dan tidak kembali lagi ke rumah orangtuanya karena malam yang sudah larut.
Sesampainya di apartemennya Ziana langsung meraih handuk dan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sudah berkeringat akibat perkelahian tadi.
Selesai mandi dan mengenakan piyama Ziana lalu melaksanakan ritual sebelum tidur yaitu mengaplikasikan skincare dan body care untuk menjaga agar kulitnya tetap sehat dan terawat.
Selesai dengan semua ritualnya Ziana lalu merebahkan tubuhnya pada kasur queen size miliknya, namun Ziana tidak bisa memejamkan matanya, karena merasa ada yang kurang.
Akhirnya dia bangun dan menghidupkan ponselnya yang tadi sengaja dia nonaktifkan.
Ziana membuka aplikasi chatting yang berlogo warna hijau yang biasa dia gunakan untuk bertukar kabar dengan Arash, guna mengecek apakah ada pesan yang dikirimkan oleh laki-laki itu.
Namun sayangnya sampai hari keempat pun laki-laki itu tidak juga mengabari atau bahkan sekedar say hai kepadanya, hal itu membuat Ziana sedikit resah karena ini adalah kali pertamanya Arash bersikap demikian.
Tidak ingin merusak pikirannya dengan pikiran-pikiran negatif, Ziana bangkit dari tempat tidurnya dan meraih laptopnya untuk mengecek pekerjaannya.
Perempuan itu memilih menyibukkan dirinya dengan pekerjaan daripada harus berspekulasi negatif tentang Arash yang tidak ada kabar.
Setelah 2 jam berkutat dengan laptopnya akhirnya kantuk mulai menyerang Ziana. Dia pun menyudahi aktifitasnya dan mulai merangkak naik ketempat tidurnya lagi.
Tidak sampai 10 menit Ziana benar-benar tertidur lelap.
Pagi-pagi sekali Luis sudah menggedor pintu kamar Arash karena baru saja laki-laki berusia 40 tahunan itu mendapat kabar baik.
Arash membuka matanya dengan berat hati karena masih sangat mengantuk. Dengan terpaksa dia bangkit dari kasur empuknya dan melihat Luis.
Cklek
Arash membuka pintu kamarnya dan langsung bertanya "ada apa?" kepada Luis.
Sementara yang ditanya langsung menerobos masuk tanpa dipersilahkan oleh sang pemilik kamar.
"kamu tahu?" ucapnya dijawab gelengan oleh Arash.
"saya belum selesai"
"ada apa?" tanya Arash lagi sambil menutup mulutnya karena menguap.
"saya berhasil meyakinkan pria Asia itu" ujar Luis dengan ekspresi bahagianya.
"saya juga pria Asia kalau kamu lupa" tunjuk Arash pada dirinya sendiri.
"iya juga ya" gumam Luis.
"tapi bukan itu point pentingnya" lanjut Luis lagi
"lalu?" tanya Arash sedikit penasaran.
"pria Asia itu, siapa namanya.." kata Luis tampak mengingat-ingat nama dari orang yang dia maksud.
"Nico" (ganti nama ya gaes othor lupa namanyaπ₯²) celetuk Arash mengingatkan.
"ya.. si Nico Nico itu bersedia bekerjasama dengan kita" timpal Luis menyebutkan nama pria itu 2 kali karena masih kesal dengannya.
"lalu apa langkah selanjutnya?" tanya Arash lagi.
"setelah kita berhasil mengambil kepercayaan Nico, kita akan dengan mudah mengorek informasi dari pria tua baji*g*n itu" Luis memberitahukan Arash tentang rencananya.
"kalau begitu kita harus bergerak cepat" ujar Arash.
"kenapa terburu-buru?" tanya Luis heran.
Arash memberitahu tentang pekerjaannya yang sedang bermasalah di negaranya dan lagi dia takut jika Ziana akan marah kepadanya karena sudah beberapa hari ini dirinya tidak mengabari.
"baiklah anak muda, kau bersiaplah dulu setelah itu kita temui si Nico itu lalu ajak dia minum anggap saja untuk merayakan kerjasama kita.." ujar Luis bersemangat.
"lalu kita akan buat dia mabuk berat kalau perlu sampai tidak sadar, setelah itu kita bisa bergerak leluasa untuk memeriksa rumahnya" lanjut Luis lagi.l
Arash mengangguk menyetujui rencana Luis, setelah itu Luis pun keluar dari kamar Arash dan kembali ke kamarnya untuk bersiap.
Setelah Luis keluar Arash pun meraih handuk dan bergegas untuk masuk ke dalam kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya.
****
Happy Reading ππ π