
Setelah pertemuan haru itu berakhir, Ziana dan Arash kembali ke atas pelaminan dan kembali menyambut para tamu yang datang memberikan mereka ucapan selamat dan mendoakan pernikahan keduanya agar selalu langgeng dan bahagia sampai maut yang memisahkan.
Zara yang tadinya ingin pulang, urung setelah Ziana memintanya untuk tetap berada tinggal, mengingat setelah acara resepsi berakhir, masih ada acara lain yang telah dipersiapkan oleh para keluarga dan sahabatnya.
Tepat pukul 22 : 45 ruangan resepsi itu telah sepi karena para tamu undangan telah pulang, hanya tersisa para keluarga dari kedua pihak yaitu Arash dan Ziana dan juga para anggota Bloody Rose dan The Braves.
Ziana merasa lega karena acara lebih cepat selesai dibanding prediksi, itu artinya ia memiliki sedikit waktu untuk beristirahat sebelum perayaan malam puncak pergantian tahun, yang akan dirayakan di taman hotel. Malam ini mereka semua akan menginap di hotel tersebut.
Perempuan itu kembali ke kamar lebih dahulu untuk beristirahat, mengisi tenaga yang terkuras setelah pesta yang melelahkan. Berbeda dengan Arash yang memilih untuk menemui para sahabatnya lebih dulu sebelum menyusul sang istri.
"wiihhh.. pengantin baru kita nyamperin" celetuk Lucas menunjuk kearah kedatangan Arash, yang langsung disambut meriah oleh mereka semua.
"cerah banget bro muka lo" celetuk Regan menambahkan, seraya menepuk bahu sang pengantin baru, saat Arash sudah duduk tepat disebelahnya.
"gimana gak cerah Re, ntar malem ada yang mau berbuka tuh setelah bertahun-tahun puasa" seloroh Lucas yang langsung mendapat hadiah cubitan dari Valerie yang sedari tadi duduk disebelahnya. Wanita hamil itu kesal karena mulut suaminya yang begitu lemes, otaknya selalu encer kalau itu menyangkut masalah ranjang.
"aawww... yank..KDRT ihh" keluhnya sambil mengusap pinggangnya yang menjadi target sang istri.
"biarin, siapa suruh bicara kotor" seru Valerie "dek.. nanti kalau kamu udah gede jangan kayak papa ya mulutnya" ujarnya lagi seraya mengusap-usap perutnya yang sudah membuncit karena usia kandungannya yang sudah menginjak usia 4 bulan.
"maafin papa ya dek, kelepasan mulu" ucap Lucas menimpali sambil ikut mengusap-usap perut buncit Valerie.
pemandangan itu tidak luput dari mata semua orang yang ada di meja tersebut, termasuk para jomblo yang melihat pasangan itu dengan tatapan iri.
"banyak nyamuk ya disini" celetuk Fero "Yoi bro bikin gatel aja nih" celetuk yang lainnya menimpali yang langsung disambut tawa ria oleh mereka semua.
"oh iya, sebenarnya dari tadi ada yang mau gue tanyain" celetuk Arash setelah tawa mereka reda.
Ucapan dari Arash tersebut langsung mengalihkan atensi semua orang. "nanya apa?" tanya mereka semua hampir bersamaan.
Arash melirik kearah Bryan yang sejak tadi hanya diam tidak menimpali ucapan mereka sama sekali "gue penasaran sama cewe disebelah sahabat dingin kita" ujarnya menunjuk Arash dengan dagu.
Sebenarnya sejak tadi Arash ingin menanyakan hal tersebut, namun belum menemukan momen yang tepat.
Sementara yang di maksud hanya acuh, berbeda dengan sang gadis yang sudah menunduk malu, karena mendapat perhatian dari semua orang.
"pacar baru bro" celetuk Lucas lagi.
Mendengar celetukan Lucas membuat Arash turut bahagia, akhirnya sahabatnya itu mau membuka hati kembali untuk perempuan lain setelah kepergian perempuan yang paling dia cintai, yaitu almarhumah Delisha.
Bryan terlihat menghela nafas panjang, laki-laki itu menoleh kesamping, setelah itu kembali menatap kedepan, dimana Arash duduk "namanya Naysilla" ucapnya pelan.
"oohh Naysilla" serempak mereka semua secara bersamaan, persis seperti anak SD.
Mendengar teman-teman bosnya menyebut namanya secara serempak membuat gadis itu ingin tertawa rasanya, namun dia tahan karena tidak ingin membuat bos dinginnya itu malu, Naysilla akhirnya mengangkat pandangannya kemudian menyapa semua teman bosnya dengan senyum.
Naysilla tidak menyangka jika bosnya yang super dingin itu ternyata mempunyai circle pertemanan yang asik, dan heboh tapi kenapa bosnya itu dingin sendiri. Bahkan saat digoda dengan teman-temannya lelaki itu hanya diam saja, tidak menimpali.
Setelah rasa penasarannya terobati, Arash pamit dan menyusul sang istri.
Kriiieeettt
setelah pintu itu terbuka Arash mendapati sang istri tengah tertidur dan di apit oleh dua orang bocah, laki-laki dan perempuan.
Tadi kedua bocah itu mendatangi kamar Ziana, dan meminta untuk tidur bersama. Sebenarnya Ziana sudah menolak karena dia memikirkan perasaan Arash. Tapi apa daya, kedua bocah itu sudah bersiap untuk menangis, membuatnya tidak tega untuk menolak permintaan keduanya.
Senyum yang sedari tadi terukir di wajah tampan Arash perlahan pudar. Dirinya kalah cepat oleh kedua bocah itu.
Dengan lemas, pria itu melangkah masuk kedalam kamar mandi, untuk mendinginkan otaknya yang sudah mengepul karena kehadiran dua bocah itu.
Selesai mandi dan berganti pakaian, Arash mengecek jam di ponselnya masih ada waktu sekitar 30 menit sebelum malam pergantian tahun. Arash memutuskan untuk duduk di sofa dan mengecek pekerjaannya.
Sementara di bawah sana seluruh anggota Bloody Rose dan The Braves sudah berkumpul, kecuali Valerie dan Gretha yang sedang hamil, keduanya tidak di perbolehkan untuk turun oleh sang suami. Mereka melakukan pesta barbeque di taman hotel yang begitu luas, mungkin luasnya menyerupai lapangan sepak bola, namun sudah mereka rubah menjadi seperti tempat berkemah. Tentu saja atas izin pemilik hotel, yaitu Bryan Alister, sahabat mereka sendiri.
Kembali ke kamar.
Arash kembali mengecek jam di ponselnya, sekitar pukul 23 : 37 laki-laki itu mendekati ranjang, kemudian mendekati ranjang tersebut untuk membangunkan sang istri yang terlihat nyenyak. Sebenarnya ia tidak tega, namun mengingat jika pesta barbeque tersebut diadakan untuk merayakan pernikahan mereka, dengan terpaksa ia mengganggu tidur perempuan itu, untuk menghargai usaha para sahabatnya yang sudah mau repot-repot melakukan pesta untuk dirinya dan istrinya.
"sayang.. bangun" bisiknya pelan, agar tidak mengganggu kedua bocah yang berada disebelah kanan dan kiri Ziana.
Ziana bukan tipe orang yang susah di bangunkan, mendengar bisikan lembut Arash perempuan itu langsung membuka matanya.
Pemandangan pertama yang dilihatnya adalah senyum manis dari laki-laki yang selalu menjadikannya ratu. Ziana balas tersenyum. "ayo anak-anak udah pada ngumpul tuh di bawah" ajak Arash yang langsung diangguki oleh Ziana.
Keduanya lalu turun secara bersama-sama seraya bergandengan tangan.
*****