About Ziana

About Ziana
Chapter 186



...Sebelum lanjut ke cerita, author mau ngingetin bahwa cerita ini cuma fiksi, hanya karangan absurd author semata. Terimakasih 🙏🙏...


Tangis haru serta ucapan rasa syukur dari keluarga serta para sahabat Arash panjatkan begitu terdengar suara tangis bayi dari dalam ruangan yang hampir 3 jam tertutup rapat.


Beberapa menit kemudian suara ceklekan pintu terdengar diikuti dengan pertanyaan dari dokter wanita yang baru saja selesai melakukan operasi caesar kepada Ziana "keluarga pasien atas nama Ibu Ziana?"


"Saya dok.. saya suaminya.." sahut Arash cepat, menghampiri sang dokter yang seperti hendak menyampaikan sesuatu mengenai kondisi istrinya.


"Istri anda kehilangan banyak darah, dan membutuhkan transfusi secepatnya. Namun sebelum itu ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan terlebih dahulu.." dokter tersebut menjeda ucapannya lalu menatap Arash dan semua yang ada di sana secara bergantian.


Tidak ada yang berani menyela, semua menunggu dengan tenang perihal pertanyaan yang dimaksud oleh dokter tersebut.


"Apa ibu Ziana sebelumnya pernah mengalami kecelakaan atau benturan keras pada bagian kepalanya?"


Arash mengangguk, ingatan laki-laki itu jatuh pada saat Ziana pergi dari kantornya karena salah paham, hingga ia mencari kesana-kemari sang wanita seperti orang gila, dan berakhir menemukan Ziana di rumah sakit berkat bantuan seseorang yang tidak dikenal mengirimkannya foto sekaligus alamat rumah sakit tempat di mana Ziana dirawat kala itu.


"Apa ibu Ziana sering mengeluh sakit kepala setelah insiden tersebut?" Tanya dokter itu lagi, memastikan.


Arash berusaha mengingat kapan istrinya itu mengeluh, namun sepertinya Ziana tidak pernah mengeluh ini dan itu kepadanya. Ziana selalu berusaha menampilkan senyum terbaik ketika berada dihadapannya.


"memangnya apa yang terjadi dengan menantuku, dok?" Sela mama Arianna yang kini diselimuti rasa penasaran akut.


"Kami masih belum bisa memastikan dengan pasti sebelum melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Namun ketika ibu Ziana baru tiba, beliau memegangi kepalanya karena merasakan sakit yang teramat, juga adanya darah yang keluar dari hidung. Jika dilihat dari gejala yang ada, sepertinya ada pendarahan pada otak pasien" jelas dokter tersebut panjang lebar


"APA..!!!" Seru mereka semua kompak.


_________________________


Ziana terbangun di atas ranjang besi yang berada di tengah-tengah taman. Wanita itu menatap sekelilingnya, namun tidak menemukan siapapun, sejauh mata memandang hanya ada hamparan tanah luas yang ditumbuhi banyak bunga mawar.


Ziana turun dari ranjang dengan senyum mengembang. Bukan hanya netranya yang merasa dimanjakan oleh keindahan yang terbentang, jiwanya pun merasa damai berada ditempat tersebut.


Wanita itu mengusap perutnya, namun terkejut ketika mendapati perutnya yang telah rata


Deg...


Apa yang terjadi dengan perutku? Kemana perginya bayiku?


Ditengah perasaan bingungnya, Ziana kembali di kejutkan oleh suara seseorang yang sangat familiar di telinganya.


"Kau sudah sadar, Nak?"


Ziana menoleh dan melihat seorang pria yang tidak lagi muda berdiri dan memberikan senyuman hangat kearahnya "kakek Abian?" Panggilnya lirih.


Yang disebut namanya semakin melebarkan senyumnya "apakah kau tidak merindukan kakek mu ini, gadis nakal?" Ujarnya seraya merentangkan kedua tangannya.


Ziana berlari dan langsung berhambur ke dalam pelukan kakek Abian "Zi kangen banget sama kakek.."


Kakek Abian segera merengkuh Ziana dan mengusap punggungnya yang terasa bergetar.


Setelah dirasa cukup tenang, kakek Abian melerai pelukannya kemudian mengusap bekas air mata yang masih membekas di pipi Ziana.


"Kamu kenapa bisa berada disini?" Tanya kakek Abian menatap Ziana dengan pandangan serius.


Bukan hanya kakek Abian, namun Ziana pun ingin menanyakan hal yang sama, tapi kakek Abian sudah lebih dulu menanyakannya "memangnya ini tempat apa, kek?" Tanya Ziana, kembali mengedarkan pandangannya ke segala arah.


"Kakek tidak bisa menjelaskannya, tapi kamu belum seharusnya berada di tempat ini. Kamu harus pergi dari sini!" Ujar kakek Abian lalu pergi meninggalkan Ziana.


"Kek..kakek..kakek jangan tinggalin Zi.." Ziana berlari mengejar kepergian sang kakek, namun tidak ditemukannya lagi keberadaan pria itu.


Ziana terduduk di atas rumput sambil menangis.


"Nak.. ayo berdirilah.. apa kau sudah berpamitan kepada cucu dan cicit ku sebelum datang kemari?"


Ziana mendongak saat mendengar dan merasakan sebuah tangan yang mengusap bahunya pelan seraya berucap lembut.


"Anda siapa?" Tanya Ziana sopan kepada seorang wanita tua yang berjongkok di sebelahnya.


Wanita tua itu lantas tersenyum lembut "saya adalah istri dari pria tua nakal itu" tunjuknya kepada seseorang yang berdiri tidak jauh darinya dan juga sedang memperhatikan mereka "sekaligus nenek dari suamimu.." lanjutnya lagi.


~


~


~


Di tatapnya wajah Ziana yang terlihat pucat "sayang.. ayo buka matamu.. apa kau tidak ingin melihat anak kita? Dia cantik, sama sepertimu. Tapi hidungnya lebih mancung darimu, dia mewarisi hidungku" Bisik Angga lirih di dekat telinga Ziana seraya mengusap kepala wanita yang masih betah memejamkan mata itu.


"Dadd..lihat tangan Momzi bergerak.." pekik Attar kala netranya tak sengaja menangkap pergerakan kecil pada tangan Ziana.


Mengetahui bahwa Ziana sedang berada di rumah sakit, anak laki-laki itu memaksa mas Malik dan mba Yuni untuk mengantarkannya menemui Ziana sepulangnya dari sekolah. Dan hingga selarut ini pun, Attar tetap tidak ingin beranjak dari ruangan Momzi nya.


Arash mengikuti telunjuk putranya lalu dengan gerakan cepat pria itu segera menekan tombol dan membuat dokter serta para suster berlari keruangan yang saat ini Ziana tempati.


"Maaf tuan, selagi dokter melakukan tugasnya, silahkan kalian tunggu di luar" ucap suster dengan sopan.


Arash mengangguk "tolong selamatkan istri saya.." kalimat permohonan Arash ucapkan sebelum berlalu dari ruangan sang istri.


Suster tersebut hanya menampilkan senyum singkat, tidak bisa berjanji sebab ada Tuhan yang merupakan sang pemilik kehidupan. Mereka hanya bisa berusaha sebaik dan semaksimal mungkin, selebihnya adalah urusan Tuhan. Jika tuhan sudah berkehendak, maka tidak ada yang mampu mengubahnya.


________________________


Arash berjalan mondar-mandir di depan ruangan Ziana.


Meski para keluarga dan sahabat sudah ribuan kali mengucapkan kalimat-kalimat penyemangat, namun hati ayah dari dua anak itu tetap saja gelisah.


Beberapa saat berlalu pintu yang tertutup rapat kembali terbuka.


"Kepada keluarga pasien diminta untuk masuk, karena pasien ingin bertemu.."


Arash sontak berdiri dan berlari memasuki ruangan begitu mendengar ucapan suster.


"Mas...."


"Iya sayang..mas disini.." Arash menggenggam tangan Ziana dan mengecupinya tanpa henti.


"Maaf..."


"Jangan meminta maaf sayang..kamu tidak salah apa-apa. Mas yang salah karena tidak menjagamu dengan baik"


laki-laki itu merasa bersalah karena tidak mengetahui keadaan istrinya selama ini.


"Zi gak bisa menepati janji untuk bisa bersama-sama kalian terus..."


Arash mendelik tak suka "apa maksudmu berbicara seperti itu?" Tanyanya dengan nada tak suka yang kentara.


Namun Ziana hanya tersenyum tipis "Zi titip anak-anak. Jaga dan sayangi mereka sepenuh hati Mas Arash"


Laki-laki itu menggeleng kuat "Apa yang kamu katakan? Kita akan menjaga mereka bersama-sama!!" ucap Arash penuh penekanan di setiap katanya.


Ziana tidak menjawab perkataan suaminya lagi. Ziana memilih mengalihkan tatapannya ke sisi Arash. Wanita itu mengangkat tangannya untuk mengelus pipi berisi putra sambung yang telah dianggapnya seperti putra kandung, seraya berkata "Momzi boleh minta sesuatu sama Abang?"


Meski ragu, anak laki-laki berusia 7 tahun itu tetap mengangguk


Mendapat anggukan dari Attar membuat Ziana tersenyum "Momzi titip adek sama Abang Attar ya. Tolong jaga dan sayangi adek, seperti Abang yang sudah menyayangi Momzi selama ini, bisa?"


Kembali Attar mengangguk


"Terimakasih sayang... Momzi mencintaimu.. sangat" ucap Ziana seraya menitikkan air matanya yang langsung diseka oleh jemari kecil Attar.


Wanita itu tersenyum kemudian mengalihkan tatapannya kepada sang suami yang juga menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.


"Mas..sebelum pergi, Zi ingin mengucapkan terimakasih dan I love you. Zi mencintai mas..lebih..dari..yang mas Arash...tahu.." ucap Ziana dengan nafas yang mulai tersendat-sendat sebelum kedua mata indah itu tertutup untuk selama-lamanya.


******


Satu bab lagi sebelum ending.


Happy Reading 💞💞