About Ziana

About Ziana
Chapter 123



Pagi harinya Arash bangun sedikit agak siang sebab setelah kejadian semalam ia sudah tidak bisa tidur karena kepikiran dengan Attar, beruntung hari ini adalah hari weekend jadi ia tidak perlu sat set sat set akibat kesiangan.


Karena merasa lapar, Arash memutuskan turun ke dapur untuk mencari apakah ada makanan yang bisa ia makan.


"pagi Pa, Ma" sapa Arash ketika melihat kedua orangtuanya yang tengah bersantai di ruang keluarga.


"pagi" jawab keduanya hampir bersamaan tanpa menoleh, karena keduanya sedang fokus membaca surat kabar dan majalah.


"Attar belum turun ma?" tanya Arash.


"belum kayaknya" jawab Arianna seraya membolak-balik majalah yang di pegang nya.


Arash menghela nafas "yaudah aku mau lihat Attar dulu"


"biar mama aja, kamu mau sarapan kan?" tebak Arianna yang langsung di jawab anggukan oleh Arash "iya Ma"


"yaudah sana kamu makan" kata Arianna sambil meletakkan majalahnya lalu bangkit dari duduknya.


"makasih Ma" ucap Arash tulus "iya sana" balas Arianna yang sudah bersiap menaiki anak tangga.


Tok.. tok.. tok..


"Attar cucu Oma yang paling ganteng bangun yuk sayang sudah pagi loh" teriak Arianna dari luar namun tidak ada jawaban.


Arianna kembali berteriak "Attar kamu ada di dalam kan?"


Kembali tidak ada jawaban, membuat Arianna membuka pintu dan melihat cucunya meringkuk diatas tempat tidur.


Segera Arianna mendekat dan memeriksa suhu tubuhnya "ya ampun Attar kamu demam" ucap Arianna panik.


"rumah sakit" gumam Arianna lalu berteriak "pa..papa cepetan kesini"


Teriakkan Arianna membuka Arnan yang sedang fokus membaca surat kabar menjadi kaget.


Pria yang sudah tidak lagi muda itu berlari cepat menghampiri sang istri "ada apa ma? kenapa berteriak?" tanyanya secara beruntun.


"Attar pa.. badannya panas banget"


Arnan kaget mendengarnya "apa?" lalu segera menghampiri sang cucu yang masih meringkuk di bawah selimut tebalnya.


"kita harus bawa dia kerumah sakit" kata Arnan setelah mengecek suhu tubuh Attar yang memang panas.


"iya pa, ayo"


Arnan langsung menggendong Attar lalu membawanya keluar diikuti oleh Arianna.


Arash yang baru selesai dengan sarapannya ikut kaget melihat putranya di gendong oleh sang papa "Attar kenapa pa?" tanyanya panik.


"badannya panas sekarang kami mau membawanya kerumah sakit" Arnan menjelaskan sambil terus berjalan.


"Aku ikut" ucap Arash mengekori kedua orangtuanya "kamu mandi dulu sana" cegah Arianna.


"tapi Ma.."


"mama benar Rash, sebaiknya kamu mandi dulu setelah itu baru menyusul" ucap Arnan sebelum masuk kedalam mobil.


Setelah mobil Papa meninggalkan halaman rumah, Arash bergegas kembali ke kamarnya untuk mandi dan bersiap.


Sementara itu sesampainya dirumah sakit, Attar langsung mendapatkan penanganan dari dokter. Sedangkan Arianna dan Arnan hanya menunggu diluar karena tidak diperbolehkan untuk masuk.


Selang beberapa menit dokter yang menangani Attar keluar.


"Bagaimana keadaan cucuku dok?" tanya Arianna cepat.


"cucu anda hanya demam biasa, kami sudah memberikan obat penurun panas, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan" ucap dokter itu membuat Arianna dan Arnan akhirnya bisa bernafas lega.


"apa kami sudah boleh masuk dokter?" tanya Arnan.


"pasien akan dipindahkan keruang perawatan, setelah itu kalian boleh menjenguknya"


"baik dok, terimakasih"


Dokter tersebut tersenyum "sama-sama tuan, kalau begitu saya permisi" pamit dokter tersebut dijawab anggukan oleh pasangan suami istri itu.




"gimana keadaan Attar?" tanya Arash dengan nafas yang memburu karena berlari dari lobi, beruntung tadi papa sudah memberi tahu ruangan Attar jadi ia tidak perlu mencari-cari lagi.




"maaf Ma Pa" sesal Arash.



Laki-laki itu pun menghampiri Attar yang sudah tertidur setelah disuapi bubur dan juga obat oleh Arianna.



Arash duduk di sisi brankar kemudian mencium kepala Attar "maafin Daddy" gumamnya merasa bersalah.



Melihat itu membuat Arianna ikut mendekat kemudian menepuk bahu Arash "kamu tidak perlu khawatir Attar sudah baik-baik saja" kata Arianna.



Arash menoleh kearah sang mama "Iya Ma" ucapnya sambil memaksakan senyumnya.



"kamu sudah kasih tau mantu mama kalau Attar dirawat?" tanya Arianna sengaja mengalihkan pembicaraan karena tidak ingin melihat Arash sedih.



"Ya ampun aku lupa kalau hari ini ada janji sama orang WO, Ziana pasti udah nunggu" Kata Arash seketika menjadi panik.



"ck.. pede banget ditungguin" ledek mama, namun Arash sama sekali tidak menanggapi ledekan sang mama seperti biasa membuat Arianna mengerti bahwa saat ini anaknya itu benar-benar sedang panik.



"udah sana jemput calon menantu mama, jangan membuatnya menunggu terlalu lama" usir Arianna.



"tapi kalau Arash pergi Attar gimana?"



"kan ada mama sama papa, iya kan pa?" tanya Arianna kepada Arnan untuk meminta persetujuan.



"benar yang dikatakan oleh mamamu, sebaiknya kau pergilah urusan Attar biar papa sama Mama yang jagain" papa ikut menimpali.



Arash mengangguk senang mendapat support dari kedua orang tuanya, sungguh ia beruntung karena memiliki orang tua yang selalu mendukungnya.



Makasih ya Pa, Ma" ucapnya tulus, sementara kedua orangtuanya hanya mengangguk.



"iya iya udah sana pergi, enggak usah mellow" celetuk sang mama namun langsung di tegur oleh Arnan "Ma.."



"ck.. iya iya mama bercanda" akunya cepat sebelum membuat Arnan marah, sementara Arash hanya menggeleng pelan, karena sudah terbiasa mendengar celetukan-celetukan dari sang mama.



"yaudah kalau gitu aku pergi dulu, titip Attar ya Ma, Pa" pamit Arash kepada papa mamanya sebelum pergi.



\*\*\*\*



Happy Reading 💞💞 💞