
Arash kembali membeku saat tangan Ziana mengusap-usap rambut Attar yang berada tepat didepan wajahnya. Bahkan posisi tangan Ziana hanya berjarak sekitar 1 centi lagi dari hidung Arash.
Laki-laki itu memalingkan wajahnya demi menghindari hal yang akan membuat degup jantungnya semakin berdegup kencang. Di usianya yang sudah 34 tahun, ini adalah pertama kalinya Arash merasakan perasaan seperti ini kepada lawan jenisnya.
Bukannya tidak pernah jatuh cinta, namun hanya saat bersama Ziana lah laki-laki itu salah tingkah. Detak jantungnya selalu saja menggila saat hanya berjarak beberapa cm dari Ziana dan ini benar-benar menyiksanya.
Arash pura-pura batuk-batuk demi menetralkan detak jantung yang tidak tahu tempat dan situasi. Karena tidak tega, Ziana menyodorkan air mineral miliknya yang masih tersegel kepada laki-laki yang sedang berada dihadapannya.
Arash meraih botol air mineral itu dengan tangan gemetar, Ziana mengernyit melihat tangan laki-laki itu namun dia hanya acuh.
sedangkan Aruna dan Arianna tengah memperhatikan mereka dari jarak sekitar 5 meter dari meja Arash dan Ziana.
Lain halnya dengan Aruna dan Arianna, Dita hanya fokus memperhatikan layar handphonenya yang menampilkan pria-pria berkulit putih dan bermata sipit yang sedang menari.
Attar yang merasa jenuh mengajak Ziana dan daddy-nya untuk berjalan-jalan disekitar resort.
Kedua manusia dewasa itu tidak punya pilihan lain selain mengikuti keinginan si kecil Attar sebelum anak itu kembali menangis. Sedangkan sekertaris Dita pamit untuk kembali ke kamarnya.
Diluar, Ziana tidak sengaja melihat Robin, ' ini tidak mungkin kebetulan kan, sebenarnya mau apa dia selalu menguntitku, apa ini perintah kakek? tapi kan..' lamunan Ziana buyar ketika Attar menarik-narik tangannya.
"aunty mau kesana" tunjuk Attar sembari menarik-narik lengan Ziana yang tidak meresponnya.
"kenapa?" tanya Ziana sembari tersenyum, namun ekor matanya tetap memperhatikan kearah Robin.
Arash yang penasaran mengikuti arah pandangan Ziana dan mengerutkan keningnya saat melihat pria yang menurutnya tidak asing.
Arash merasa pernah melihat orang itu, namun lupa dimana dan kapan dia melihatnya.
Merasa diperhatikan, Robin segera pergi dari sana, namun karena terburu-buru dirinya tidak sengaja bertabrakan dengan seseorang.
Orang itu memperhatikan wajah orang yang telah menabraknya seperti sedang mengingat sesuatu. "Robin" ujarnya setelah beberapa saat.
Robin menelan ludah karena Arnan pria yang ditabraknya ternyata masih mengingat wajahnya. "iya tuan" jawab Robin sembari menunduk hormat.
"tidak perlu seperti itu Rob, kita ini hampir seumuran meskipun saya lebih tua" ujar Arnan sambil terkekeh.
Robin hanya tersenyum tipis menanggapi bercandaan Arnan. "kalau begitu saya permisi, saya buru-buru" ucapnya.
Arnan mengangguk mengiyakan "titip salam ku padanya Rob" teriak Arnan saat Robin sudah beberapa langkah meninggalkannya.
Robin menoleh sambil mengangguk setelah itu berlalu dari sana.
Ziana dan Arash sedari tadi memperhatikan interaksi Arnan dan juga Robin dengan perasaan dan ekspresi yang berbeda.
Gretha hanya mengiyakan permintaan Regan tanpa bertanya apapun, karena wanita itu pikir urusan Regan jauh lebih penting daripada liburan mereka yang menurutnya hanya menghambur-hamburkan uang.
Setelah menempuh beberapa jam mereka telah sampai di bandara yang terletak di kota A.
Setelah mobil jemputannya tiba, pria itu langsung mengantarkan sang istri pulang kerumah terlebih dahulu, barulah kemudian Regan kembali mengendarai mobilnya ke markas Bloody Rose lainnya yang jarang ditempati.
Sesampainya di sana pria itu langsung disapa oleh beberapa anggota lama yang sudah tidak pernah ikut berpartisipasi dalam misi, karena telah memiliki kehidupan masing-masing.
Ada sekitar 7 orang yang hadir karena permintaan Regan yang tidak bisa untuk mereka tolak.
Setelah mengobrol sebentar tentang kehidupan masing-masing, kini mereka mulai membahas tentang maksud dan tujuan Regan memintanya untuk berkumpul disini karena sebuah misi untuk mengalahkan Scorpion serta membongkar kebohongan dan juga penghianatan yang telah dilakukan oleh Agler terhadap Ziana.
Selesai menyusun rencana mereka lalu berpisah, untuk melaksanakan tugas masing-masing yang telah di berikan oleh Regan.
Sekembalinya dari kota B, Robin langsung menghadap kepada Abian untuk menyampaikan semua yang diketahuinya, termasuk tentang kedekatan Ziana dengan cucu dari Arnan Wijaya.
Mendengar nama Wijaya, pria tua itu langsung terdiam. "Bagaimana kabar mereka?" hanya pertanyaan itu yang terucap dari seorang Abian setelah terdiam selama beberapa menit.
Robin yang paham maksud dari pertanyaan tuannya pun menjawab "mereka terlihat baik tuan, bahkan mereka semua berada di kota B, tepatnya di resort nona Zizi"'
Abian hanya mengangguk, pria tua itu kembali terdiam sebelum akhirnya meminta Robin untuk meninggalkannya sendiri.
Setelah Robin keluar, Abian menghela nafas panjang kemudian menyandarkan punggungnya kesadaran sofa lalu mendongak keatas sambil memejamkan matanya erat.
****
Happy Reading 💞💞 💞