
"Gue gak nyangka ternyata bang Agler selicik itu" ucap Fero ketika Tristan selesai bercerita.
Fero tidak habis pikir dengan Agler, pria yang dulu dianggapnya sebagai seorang panutan ternyata adalah seorang penghianat.
"jangan kasih tahu queen soal ini" peringat Tristan kepada mereka semua.
"tapi kenapa?" Tanya Arash.
"Queen pasti akan sedih kalau sampai tahu bahwa laki-laki yang dianggapnya kakak telah menusuknya dari belakang" jawab Tristan dan keempat laki-laki itu pun mengangguk.
"karena kalian sudah tahu siapa orangnya, terus apa yang akan kalian lakukan?" Fero bertanya kepada Arash, Bryan dan juga Lucas sambil menatap mereka bertiga secara bergantian.
"gue sebenernya gak ada urusan sama geng Scorpion, urusan gue sama Alex Fernandez" ucap Arash tenang.
"tapi karena mereka duluan yang ngusik kehidupan gue, jadi gue gak akan tinggal diam" Ucap Arash diakhiri dengan senyum devilnya. Sepertinya jiwa mafia Arash telah bangkit kembali, setelah sekian lama.
"apa rencana lo?" tanya Bryan.
"cari tahu dulu bagaimana kondisinya baru kita susun rencana" Kata Arash.
mereka semua mengangguk setuju dengan ucapan Arash. Setelah mengobrol sejenak tentang pekerjaan akhirnya mereka semua bubar dan pulang, kecuali Arash yang masih berada di rumah sakit untuk menemani Attar yang belum ingin keluar.
Sebelum masuk kedalam ruangan Attar, laki-laki itu menyempatkan diri untuk masuk ke ruangan Ziana terlebih dahulu.
Sementara itu Ziana yang masih belum bisa tidur, pura-pura tidur ketika melihat Arash masuk.
'itukan bapaknya Attar, mau ngapain kesini' batin Aruna.
Arash mulai mengambil duduk di samping tempat tidur Ziana.
Laki-laki itu terdiam lama sebelum akhirnya buka suara "hai.. maaf baru sempat liat keadaan kamu, maaf juga karena gara-gara aku kamu jadi ngalamin ini semua, coba aja kamu gak usah nolongin aku dan biarin aku yang tertembak, pasti kamu tidak akan seperti ini" Ucap Arash panjang lebar, laki-laki itu masih diliputi rasa bersalah setelah penembakan itu.
Arash lalu meraih tangan Ziana dan menciumnya takzim seperti seorang anak mencium tangan ibunya, sambil terus mengucap kata maaf secara berulang-ulang.
Tanpa sadar air mata Arash menetes dan jatuh tepat di atas tangan Ziana.
Ziana kaget dengan perlakuan laki-laki yang dianggapnya tidak punya hati, dia keliru, laki-laki di depannya saat ini ternyata sangat perasa.
Ziana memutuskan untuk menyudahi aktingnya. "eeennghh" Ziana melenguh.
Arash langsung melepas tangannya dari Ziana, laki-laki itu tidak ingin ketahuan, dirinya tidak mau di cap sebagai laki-laki kurang ajar karena telah memegang tangan seorang perempuan tanpa izin.
"kamu sudah sadar?" tanya Arash cepat.
"lo siapa?" Ziana balik bertanya, dan pura-pura tidak mengetahui Arash.
"aku..aku orang yang kamu selamatkan dari penembakan itu" Ucap Arash gugup.
"owhh" Ziana hanya ber oh saja.
"bagaimana keadaan kamu? apa ada yang sakit?" tanya Arash terlihat dari raut wajahnya, bahwa laki-laki itu khawatir.
"gue gapapa, cuma lemes aja" jawab Ziana apa adanya.
"aku panggilin dokter kalo gitu" Arash beranjak dari duduknya, namun Ziana menahan Arash dengan cara menarik tangan laki-laki tersebut.
'dingin banget tangannya' batin Ziana.
"gak usah, gue cuma butuh istirahat" ucap Ziana. perempuan itu tidak sadar, dan masih belum melepaskan tangannya dari Arash.
"maaf" ucap Arash melihat kearah pergelangan tangannya yang masih di genggaman oleh Ziana.
"sorry" ucap Ziana malu sendiri dengan kelakuannya.
Arash hanya mengangguk.
"yasudah, kamu istirahatlah aku akan kesebelah menemani Attar" kata Arash pamit.
"Attar kenapa?" tanya Ziana.
"dia hanya demam, tapi sudah lebih baik" Ujar Arash menjelaskan, membuat Ziana mengangguk.
"saya permisi" pamit Arash lagi, dan lagi-lagi Ziana hanya mengangguk.
Setelah Arash keluar, Ziana memutuskan untuk kembali tidur.
******
Happy Reading 💕💕💕