About Ziana

About Ziana
Chapter 161



Arianna yang sedang duduk didepan ruang perawatan Arash melihat kedatangan tiga orang laki-laki berbeda usia.


Di antara ketiga laki-laki itu hanya satu yang Arianna kenal, yaitu Regan salah satu teman Arash dan Ziana.


Sedangkan yang duanya lagi Arianna tidak tahu dan baru pertama melihatnya. Tapi entah kenapa perasaannya begitu familiar dengan pria tua yang berjalan di urutan paling depan.


Semakin mereka mendekat, jantung Arianna berdetak semakin kencang, seperti seorang yang habis lari maraton.


Hal serupa juga dialami oleh kakek Abian, semakin dekat, semakin jelas dia menatap wajah Arianna, semakin kencang pulalah denyut jantung pria tua itu.


Setelah sampai dihadapan Arianna entah kenapa kakek Abian tidak mampu berbicara, tenggorokannya terasa tercekat.


Melihat itu Robin segera maju untuk berbicara dengan Arianna


"permisi nyoya, apa benar ini ruangan Arash Wijaya, suami dari nona Ziana?" tanya Robin tanpa basa-basi


Arianna mengangguk membenarkan.


"Bagaimana keadaan Arash Tante?" tanya Regan setelah berdiri disebelah Robin.


"Arash baik-baik saja"


"Re, bisa ceritakan kepada Tante sebenarnya apa yang terjadi? bagaimana Arash bisa mendapat luka tembakan" tanya Arianna dengan raut khawatir.


"Regan minta maaf Tante, semua ini gara-gara Regan" ucap Regan menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang menimpa Arash


Arianna mengernyit dalam, wanita paruh baya itu nampaknya belum mengerti


Regan pun menceritakan semuanya tanpa ada yang pria itu tutup-tutupi. Mulai dari ia diculik hingga Ziana, Arash, dan yang lain tiba-tiba datang untuk menyelamatkannya.


Usai cerita Regan berakhir, secara mengejutkan Kakek Abian langsung meminta maaf dan mengatakan bahwa yang menculik Regan adalah istrinya.


"apa? istri anda?" Arianna mengulang perkataan pria tua yang berdiri dihadapannya


"iya nyonya, dan saya kesini selain untuk menjenguk anak anda, saya juga ingin meminta maaf secara langsung kepada anda dan anak anda"


Arianna nampak menghela nafas sebelum mempersilahkan ketiga laki-laki berbeda generasi itu untuk masuk kedalam ruang perawatan Arash.


Cklek


Ketika pintu terbuka pemandangan pertama yang mereka lihat adalah Arash yang terlihat duduk menyandar, sementara Ziana yang duduk dipinggiran tempat tidur dan menyuapi Arash dengan buah yang telah ia kupas dan potong-potong kecil.


Arash dan Ziana kompak menoleh untuk melihat siapa yang datang


"Kakeeekk.." pekik Ziana seraya bangkit dari duduknya.


diletakkannya piring buah yang Ziana pegang, lalu segera menghampiri pria tua yang sangat berjasa dalam hidupnya.


Ziana segera meraih tangan kakek Abian yang telah keriput dimakan usia


Kakek Abian meraih tubuh Ziana dan memeluk perempuan itu selama beberapa sebelum suara deheman Arash yang begitu keras menginterupsi keduanya.


Melihat raut wajah Arash yang tidak bersahabat, Ziana segera memperkenalkan kakek Abian kepada Arash agar suami bucinnya itu tidak salah paham.


'Dasar posesif bodoh, sama kakek-kakek saja cemburu' batin Mama Arianna seraya menahan tawanya melihat wajah suram


sang anak.


Setelah acara perkenalan selesai, Ziana lalu mempersilahkan kakek Abian dan juga Robin untuk duduk di sofa, sedangkan Regan sudah pamit setelah bertemu dan mengetahui kondisi Arash.


Kakek Abian menyampaikan permintaan maafnya kepada Arash dan keluarganya atas apa yang telah Melissa perbuat.


"Kakek tidak perlu meminta maaf seperti ini" ucap Arash merasa tidak enak.


"terimakasih Nak, tapi jujur saya merasa begitu malu dengan kelakuan Melissa.." ujar Kakek Abian sambil menunduk


"tidak perlu terlalu dipikirkan tuan, lihatlah anak saya sudah baik-baik saja" sahut mama Arianna ikut menimpali.


"terimakasih atas kemurahan hati kalian.." Kata kakek Abian menatap Arash, Arianna dan Ziana secara bergantian.


Mama Arianna tersenyum dan mengangguk membuat jantung kakek Abian lagi-lagi berdenyut nyeri.


Robin yang peka dengan keadaan tuannya segera mencari cara agar bisa membawa Kakek Abian untuk segera pergi dari sana sebelum terlambat.


Tiba-tiba saja handphone Robin yang berada disaku celananya bergetar.


Panggilan masuk tersebut ternyata dari kepala pelayan dikediaman Kakek Abian.


Kening Robin nampak mengernyit dalam 'apa lagi yang nyonya Melissa perbuat kali ini' batinnya menghela nafas sebelum meminta izin untuk mengangkat panggilan tersebut.


"Ada apa?" tanya Robin tanpa basa-basi


("...........")


"APA" kaget Robin "baik saya akan segera kesana" ucapnya kemudian mematikan panggilan tersebut


Robin kembali kedalam ruang perawatan Arash, sesampainya didalam Robin terlihat membisikkan sesuatu kepada Kakek Abian yang membuat pria tua itu mengepalkan kedua tangannya.


"apa yang terjadi Kek?" tanya Ziana ingin tahu.


"apa perlu Zizi bantu Kek?"


"tidak perlu Nak, kakek masih bisa mengatasinya, kamu disini saja temani suamimu, dia lebih membutuhkanmu" tolak kakek Abian menampilkan senyumnya yang membuat Ziana tidak bisa membantah


Ziana akhirnya mengangguk "tapi kalau kakek butuh bantuan jangan sungkan buat kabari aku, ya"


"pasti Nak, kalau begitu kakek pergi dulu" pamitnya kepada semuanya.




Sore harinya sekertaris Dita baru mengetahui tentang kejadian yang menimpa suami dari bosnya, melalui Jessica.



Entah sejak kapan kedua perempuan itu menjadi sangat dekat, layaknya sahabat.



Setelah jam pulang kantor tiba, sekertaris Dita segera berkemas. Dita sengaja pulang tepat waktu hari ini, karena ia ingin mampir kerumah sakit untuk menjenguk Arash, sekalian mengantarkan berkas-berkas yang harus ditandatangani oleh Ziana.



Dita mengendarai mobilnya sendiri, *maklum jomblo jadi tidak ada yang mengantar jemput*



Sekitar 40 menit Dita sampai di pelataran rumah sakit, setelah memarkirkan mobilnya perempuan itu langsung masuk.



Tadi sebelum berangkat Dita sudah menghubungi Ziana dan menanyakan dimana letak ruangan Arash, sehingga perempuan itu tidak perlu repot-repot lagi untuk bertanya kepada resepsionis



Sementara itu didalam ruang perawatan Arash terlihat ada Bryan dan Lucas beserta sang istri tercinta, dokter Valerie.



Sedangkan Attar sudah pulang bersama Mama Arianna dan papa Arnan.



Ketika kelima manusia itu asyik berbincang tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari arah luar.



Baru saja Ziana bangkit untuk melihat siapa yang datang namun kepala sekertaris Dita lebih dulu menyembul lengkap dengan cengiran khasnya. "permisi Bu..."



"oh elo, kirain siapa ayo masuk.." ajak Ziana sambil membuka pintunya lebar



Tanpa diminta 2 kali Dita langsung masuk sambil membawa parcel buah ditangan kanannya sedangkan ditangan kirinya ia menenteng sebuah tas agak besar yang berisi tumpukan berkas yang membutuhkan bubuhan tanda tangan Ziana.



"nah kalo orang datang ngejenguk tuh gini" ceplos Arash menunjuk parcel buah yang dibawa oleh sekertaris Dita.



"masih untung kita jenguk, ya gak Bry?" celetuk Lucas menoleh kepada Bryan bermaksud meminta dukungan.



Bryan hanya mengangguk malas



"ah nyesel gue minta dukungan dari si muka datar" Rajuk Lucas akibat tanggapan malas yang diperlihatkan oleh Bryan



Sama seperti dulu, Bryan tetap tidak merespon ejekan dari Lucas. Menurut Bryan Percuma meladeni Lucas karena sudah


dapat dipastikan Bryan akan kalah jika


harus berdebat dengan laki-laki cerewet seperti Lucas.



\*\*\*\*\*