
Hallo.. Ziana is back..
Sebelum lanjut ke cerita saya ingin mengucapkan Minal aidzin wal faidzin mohon maaf lahir dan batin bagi para pembaca yang merayakannya ✨🤍
Disini saya juga ingin mengucapkan beribu maaf kepada para pembaca About Ziana karena saya telah hiatus selama kurang lebih 3 Minggu huhu..🙇🙇 percayalah saya tidak bermaksud demikian..🙏 namun banyak hal terjadi yang tidak bisa saya jabarkan.
dah segitu aja🙏
Happy reading 🤍🤍
Regan yang tidak sabaran menunggu ucapan dari sang dokter kembali berucap "dok.. Bagaimana keadaan istri dan calon anak saya?" tanyanya sedikit membentak
Dokter tersebut memaklumi perbuatan Regan jadi ia hanya memperlihatkan wajah tenang "istri anda wanita yang kuat.." ucap dokter tersebut dengan senyum tipisnya.
"lalu bagaimana dengan anak saya.. dia.. dia selamat kan?" tanya Regan dengan tatapan yang penuh harap.
"mohon maaf pak, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi Tuhan berkehendak lain.." ucap dokter itu dengan berat hati menyampaikan kabar duka tersebut.
Deg
Regan menggeleng, mencoba meyakinkan diri bahwa apa yang ia dengar tidaklah benar.
"ini hanya prank kan?" ucap Regan menoleh menatap Lucas dan Valerie bergantian.
"katakan kalo semua ini hanya prank, ini pasti kerjaan lo kan?" ucap Regan lagi sambil tertawa menunjuk Lucas, namun melihat sang sahabat menggeleng pelan membuat Regan akhirnya luruh dengan bahu yang bergetar hebat.
Lucas terpaku
Perbuatan Regan yang terlalu tiba-tiba membuatnya tidak tahu harus berbuat seperti apa, beruntung ada Valerie yang selalu berada disampingnya. Karena sebagai seorang dokter, tentu saja Valerie sudah terbiasa dengan hal seperti itu.
"sayang.. kenapa hanya diam, kita harus menghibur Regan?" bisik Valerie lembut, menyadarkan sang suami dari keterpakuannya, sementara dokter yang
tadi sudah pergi setelah memberi tahukan keadaan Gretha dan bayinya kepada Valerie, rekan sesama dokternya.
Keesokan harinya saat sang fajar masih malu-malu menampakkan sinarnya, Ziana sudah terbangun dengan keadaan yang jauh lebih baik dari pada semalam.
Ruam pada kaki dan salah satu punggung tangannya sudah mulai menghilang berkat Arash yang telah merawat dan menjaganya semalam.
Ziana menoleh ke samping, kemudian disudut bibirnya tersungging sebuah senyuman kecil ketika ia mendapati Arash yang masih tertidur lelap dengan tangan yang setia melingkar di perut ratanya.
*Drrttt...
Drrttt*..
Dering handphone yang berada di atas nakas samping tempat tidur berhasil mengalihkan pandangan Ziana dari wajah tampan sang suami
Dengan gerakan pelan, Ziana memindahkan tangan kekar yang melingkari perutnya, lalu turun perlahan, untuk melihat siapa gerangan yang menghubungi pagi-pagi buta begini.
Dari nomor tidak dikenal
Dengan malas wanita itu kembali meletakkan ponselnya di tempat semula, kemudian berjalan menuju kamar mandi. Ziana paling malas jika ada nomor tak dikenal yang menghubunginya. Ini bukanlah kali pertama Ziana mendapat panggilan dari orang asing, tapi sering. Namun selama ini ada sekertaris Dita yang dengan sabar mengurus semua panggilan dari orang misterius tersebut.
Setelah keluar dari dalam kamar mandi, handphone Ziana kembali bergetar namun wanita itu mengabaikannya.
Hingga pada panggilan yang entah ke-berapa barulah wanita itu bangkit dan meraih handphone tersebut
Dengan malas, Ziana menggeser tombol berwarna hijau pada layar kemudian mendekatkannya ke telinga.
"halo.." sapa Ziana datar
("sepertinya tuan putri baru saja bangun dari mimpi indahnya..") terdengar suara bariton dari seorang pria yang berucap dengan nada mencibir
Ziana mengernyit mendengar ucapan orang tersebut "anda ini siapa? dan ada urusan apa anda menghubungi saya" ucapnya datar.
("tidak penting siapa saya..")
"lalu ada perlu apa anda menghubungi saya" ucap Ziana bertambah datar.
("saya hanya merasa heran, bisa-bisanya kalian bersantai dan menikmati bulan madu sementara sahabat kalian sedang berduka setelah kehilangan calon anaknya") kata orang misterius itu.
("saya kira anda cukup pintar untuk mengerti maksud ucapan ku nona") ucap orang tersebut lalu mematikan sambungan teleponnya secara sepihak.
Setelah panggilan mereka terputus, Ziana terus berfikir hingga tanpa sadar Arash sudah bangun dan kini berdiri tepat dibelakangnya.
"ada apa sayang? apa ada hal yang mengganggu mu?" tanya Arash dengan suara khas bangun tidur, dengan tangan yang memegang kedua bahu Ziana dari belakang.
Terkejut? tentu saja wanita itu terkejut
"astaga.." serunya yang langsung berdiri
"maaf sayang, aku tidak ada maksud untuk mengagetkan mu" ucap Arash berpindah posisi, berdiri didepan Ziana.
Ziana hanya menghela nafas seraya menganggukkan kepalanya pelan.
"pertanyaan ku belum di jawab" seru Arash kembali ke pembicaraan sebelumnya seraya menuntun sang istri untuk kembali duduk, begitupun dengannya.
Tidak ada pilihan lain, Ziana akhirnya menceritakan semuanya tanpa ada yang
di tutup-tutupi dari sang suami.
"tidak usah terlalu di pikirkan, mungkin saja itu hanya orang iseng" ujar Arash mengusap lembut lengan Ziana.
"tapi perasaanku mengatakan bahwa apa yang orang misterius itu katakan adalah benar" jawab Ziana.
Melihat ke khawatiran sang istri membuat Arash tidak tega juga. Laki-laki itu lalu bangkit dari duduknya untuk mengambil ponselnya, setelah itu ia kembali lagi ke sisi sang istri.
Terlihat Arash mulai mengutak-atik benda pipih berbentuk persegi tersebut, lalu mendekatkan ke telinganya.
"Halo Jhon, saya minta kamu cari tahu soal keadaan istri Lucas dan Regan, sekarang!!" titah Arash yang langsung merujuk kepada istri dari kedua temannya yang memang tengah mengandung.
("tapi tuan...")
*Tut*..
Belum sempat Sekertaris Jhon berucap, Arash sudah mematikan sambungan teleponnya.
"kenapa lagi sih.. udah punya istri sendiri malah nyuruh cari tahu keadaan istri orang lain, sahabat sendiri lagi" gerutu Jhon yang seperti enggan menuruti permintaan ambigu dari Arash.
Namun kembali lagi, titah seorang Arash Wijaya adalah mutlak baginya, jadi mau tidak mau, suka tidak suka ia harus melakukannya, meskipun dibarengi dengan sumpah serapah karena mengira jika bosnya telah jatuh hati dengan istri-istri dari kedua temannya sendiri.
Sementara itu Arash yang sedang menikmati secangkir kopi bersama Ziana tidak sengaja tersedak "uhuk..uhuk..uhuk."
Dengan sigap Ziana meraih air mineral kemasan kemudian memberikannya kepada Arash, setelah membukakan tutupnya
terlebih dahulu.
"terimakasih sayang.." ucap Arash setelah meneguk air pemberian Ziana.
Ziana hanya tersenyum dan mengangguk, kemudian kembali menikmati pemandangan pantai yang terbentang indah didepan matanya.
\*\*\*\*\*