About Ziana

About Ziana
Chapter 23



Keesokan harinya pagi-pagi sekali Ziana sudah meninggalkan hotel tempatnya menginap.


Wanita itu sengaja pulang lebih awal karena ada jadwal meeting penting yang sudah menunggunya di kota A.


Ziana sampai di kantornya jam 9 pagi dan sudah di sambut oleh Dita di lobi.


"gimana Dit pertemuan kemarin dengan Wijaya grup?" tanya Ziana ketika mereka masuk kedalam lift.


"Beres.. tinggal nunggu tanda tangan dari ibu aja"


Ziana mengangguk.


"oh iya bu ternyata laki-laki yang waktu itu dirumah sakit adalah CEO dari Wijaya grup masa?" Ucap Dita antusias.


sementara Ziana tampak mengerutkan kening.


"laki-laki yang mana?" tanya Ziana bertepatan dengan pintu lift yang terbuka.


"pagi bu.." sapa salah seorang karyawan yang berpapasan dengan mereka.


Dibalas anggukan oleh Ziana dan juga Dita.


"itu loh bu, yang waktu itu ibu tabrak pas dapat kabar Zoey masuk rumah sakit, inget gak?"


"ooohhh yang bajunya kena minuman itu?" Ziana balas bertanya.


"gak salah lagi bu"


"bisa kebetulan banget ya" herannya.


"iya bu, kemaren saya juga bingung pas ngeliat muka dia, dianya juga cengo" ucap Dita berusaha menahan tawanya waktu mengingat ekspresi Arash.


Sementara Ziana hanya geleng-geleng kepala mendengar ocehan sekertarisnya itu.


kini mereka pun sampai didepan ruangan Ziana dan keduanya berpisah disana setelah mengakhiri obrolan tidak penting itu.


Beberapa jam berlalu setelah mengakhiri meeting kini mereka tampak sedang duduk di kursi sebuah restoran menunggu makanan mereka datang.


keduanya pun kembali terlibat obrolan.


saat tengah asik berbincang seseorang menginterupsi obrolan keduanya.


"permisi mba" ucap orang tersebut memegang bahu Ziana


"iya bu ada apa ya" tanya Ziana menoleh.


"mba yang waktu itu nolongin saya kan di toilet?" ucap orang tersebut yang tidak lain adalah Arianna.


"oh ibu yang waktu itu hampir terjatuh di toilet" Ucap Ziana berdiri diikuti oleh Dita.


"silahkan duduk bu" ucap Ziana lagi.


"tidak perlu, saya buru-buru"


"saya kesini cuma ingin berterimakasih soal waktu itu, karena saya belum berterimakasih secara benar dulu" ujar Riana panjang lebar.


"tidak perlu berterimakasih bu, saya ikhlas nolongin ibu" ujar Ziana tersenyum.


"oh iya ibu belum tahu nama kamu siapa?"


"Arianna" ucap perempuan itu membalas uluran tangan Ziana kemudian melirik kearah Dita.


"kalo yang ini teman saya Bu, Dita"


"Dita Bu," Dita pun melakukan hal sama dengan Ziana.


Detik berikutnya handphone Ariana berdering.


"sebentar ya" pamitnya untuk menerima telepon.


"Halo Assalamualaikum"


"Wa'alaikumsalam Ma, udah dimana kok lama banget." tanya Arash diseberang telpon.


"udah selesai kok, ini udah mau keluar"


"cepetan ya Ma, Arash bentar lagi ada rapat"


"iya iya yaudah mama tutup"


setelah mengucapkan salam Arianna mematikan panggilan dan berjalan kembali ketempat Ziana dan Dita.


Mereka tadi makan siang disini juga, namun sebelum pulang Arianna izin untuk ke toilet terlebih dahulu, sementara Arash menunggunya di parkiran.


"aduh maaf ya Ziana sama Dita, ibu harus pergi, ini anak ibu sudah nunggu di parkiran" ucap Arianna tak enak.


"iya Bu, gak apa-apa" balas Ziana dan Dita hampir berbarengan.


"oh iya ibu boleh minta nomor telepon kalian?" tanya Arianna sebelum melangkah.


"oh iya boleh Bu"


setelah ketiganya bertukar nomor akhirnya Arianna benar-benar pergi dari sana.


"Kok lama Ma, antri banget ya?" tanya Arash ketika melihat Arianna berjalan kearahnya.


Sambil pria itu membukakan pintu untuk Arianna masuk.


"tadi mama ngobrol bentar sama perempuan yang nolongin mama, yang waktu itu mama ceritain" kata Arianna menjelaskan.


"oh dia disini juga, bisa kebetulan banget ya" ucap Arash dengan nada sindiran.


"maksud kamu?" tanya Arianna bingung.


"nggak maksud apa-apa, cuma pas aja gitu bisa kebetulan makan ditempat yang sama dua kali malah dalam waktu yang hampir berdekatan"


Arianna menaikkan sebelah alisnya mendengar penuturan anaknya itu.


"kamu tuh ya jangan suudzon sama orang"


"aku gak suudzon Ma.." sangkal Arash.


"dahlah terserah kamu"


setelah itu tidak adalagi perbincangan Arash memilih sibuk mengemudi sedangkan Arianna sibuk dengan ponselnya.


*****