
Arash tiba di rumahnya dengan keadaan yang sangat kacau.
Mama Arianna yang kebetulan sedang duduk di ruang keluarga sambil menikmati teh hangatnya kaget melihat penampakan putra sulungnya yang terlihat tidak baik-baik saja.
"ya ampun Arash.. kamu kenapa nak" teriak mama Arianna saking kagetnya.
Arash hanya berlalu tanpa menjawab pertanyaan sang mama.
Saat akan menaiki tangga, Arash bertepatan dengan Aruna. "ya ampun kakak kenapa?" tanyanya ketika melihat penampilan sang kakak yang nampak kacau.
karena tidak ada jawaban dari kakaknya itu Aruna berniat untuk memegang kening Arash, namun tangannya di tepis oleh Arash.
"lo kenapa sih kak?" tanya Aruna lagi, namun Arash hanya berlalu tanpa menjawab.
Aruna tidak tinggal diam, gadis itu mengejar Arash kemudian berdiri di hadapannya, sambil merentangkan kedua tangannya.
"minggir" ucap Arash menatap Aruna tajam.
"lo belum jawab pertanyaan gue" jawab Aruna balik menatap Arash tidak kalah tajamnya.
"gue bilang minggir" bentak Arash. Ini adalah kali pertama dirinya membentak adiknya itu.
"lo kenapa sih kak" tanya Aruna lagi dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Arash memalingkan wajahnya karena merasa bersalah telah membentak adik kesayangannya.
"please Na, gue butuh waktu sendiri"
Aruna mengangguk "baik, kalau itu mau kakak" ucapnya seraya menggeser posisinya.
Setelah itu Arash pun melanjutkan langkahnya menuju ke kamarnya untuk membersihkan diri, setelah berjam-jam mencari Ziana.
Sementara itu Aruna pun juga melanjutkan langkahnya untuk kebawah menemui mama.
"mama..." rengek Aruna sambil memeluk Arianna.
"kamu kenapa sayang?" tanya Arianna membalas pelukan putri bungsunya.
Aruna melerai pelukannya kemudian menceritakan tentang dirinya dan Arash di tangga tadi.
"udah gak usah nangis, kakak kamu pasti tidak sengaja melakukannya" ucap Arianna menenangkan.
"kakakmu itu sepertinya lagi ada masalah" kata Arianna lagi sambil mengusap lengan Aruna.
Aruna mengangguk "iya Ma" ucapnya kemudian kembali memeluk Arianna, dan di balas dengan usapan lembut oleh mama Arianna.
🌹🌹🌹
tok
tok
tok
pintu kamar Arash di ketuk dari luar, namun laki-laki itu sedang tidak ingin bertemu dengan siapapun untuk saat ini.
"Rash..ini mama" ucap Arianna dari luar.
"mama tahu kamu denger, ayo buka pintunya, atau mama dobrak" ucap Arianna lagi karena Arash tidak kunjung membukakan pintu.
Arash akhirnya mengalah dan mau membuka pintu kamarnya, karena dia tahu bahwa dirinya dan mama Arianna sama-sama memiliki karakter yang keras.
Dan dia tidak akan menang jika melawan mama Arianna yang lebih keras kepala darinya.
"mama mau ngapain kesini?" tanya Arash tanpa basa-basi.
"tidak ada, mama cuma mau lihat anak laki-laki mama, emang salah" kata Arianna seraya berjalan masuk dan duduk di ranjang Arash.
Sementara laki-laki itu masih berdiri di ambang pintu sambil memutar kedua bola matanya.
"mau sampai kapan kamu berdiri disana?" tanya mama menyeringai.
Arash menutup pintu kamarnya dan ikut duduk di samping Arianna.
"apa kamu tidak ingin menceritakan sesuatu kepada mama?"
"tidak ada hal yang harus Arash ceritakan Ma"
"heemm.. Arash mau istirahat, jadi sebaiknya mama keluar dari kamar Arash"
"kau mengusir mama? setelah tadi membentak adikmu, kini kau mengusir mamamu?" ucap Arianna dramatis.
"mama plis.. Arash lagi banyak masalah" ucap Arash frustasi.
"masalah? masalah apa?" tanya Arianna secara beruntun.
"masalah di kantor" bohongnya.
"Arash.. kamu tahu..
"mama yang mengandung kamu selama 9 bulan, meskipun mama terlihat seperti ini, namun mama tahu kapan anak-anak mama bahagia, dan kapan mereka sedang dalam masalah.."
"insting seorang ibu itu tidak bisa dibohongi, kamu tahu kenapa mama ada disini sekarang?"
Arash menggeleng.
"karena mama tahu, kamu sedang ada masalah dan butuh tempat untuk bercerita"
Arash menunduk selama beberapa menit "Ziana ma.." gumamnya kemudian dengan nada lirih.
"Ziana salah paham.." Arash memulai ceritanya.
Arash menceritakan semuanya kepada wanita yang telah melahirkannya ke dunia ini, wanita yang selalu ada untuknya, wanita yang selalu mengerti perasaannya.
"jadi dia kembali?" tanya Arianna memastikan, setelah Arash menyelesaikan ceritanya.
"iya ma, dan Ziana sudah salah paham dengannya"
"lalu apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?"
Arash menggeleng "aku gak tau mau"
Arianna menghela nafas berat "sekarang mama tanya, apa kamu benar mencintai Ziana?"
Arash mengangguk cepat.
"kalau dia, apa kamu masih mencintainya?" tanya Arianna lagi.
"dari dulu sampai sekarang Arash tidak pernah cinta padanya Ma"
"lantas apa yang membuatmu ragu?"
Arash menunduk, dia tidak bisa menjawab pertanyaan yang dilontarkan sang mama.
"Rash.. mama tahu perasaan kamu, tapi kamu berhak untuk bahagia, masalah perempuan itu biar mama yang akan jelaskan kepada Attar nanti"
"kamu harus memperjuangkan cintamu"
"sudah terlambat Ma, Ziana sudah pergi, Ziana udah ninggalin Arash" adu Arash kepada Arianna seperti seorang anak kecil yang mengadu kepada mamanya.
Arianna tersenyum kepada putra sulungnya "belum terlambat nak, kamu harus menjelaskan semuanya kepada Ziana tentang siapa perempuan itu sebenarnya, dan juga tentang kesalahpahaman tadi siang"
"Ayo cepat bersiap dan cari calon menantu mama sekarang" kata arianna memberikan semangat.
Arash tersenyum dan memeluk Arianna "terimakasih ma, Arash janji akan menemukan calon menantu mama secepatnya"
Arash bangkit dari duduknya dan berjalan kearah walk in closet nya.
Setelah bersiap, dia pun pamit kepada Arianna.
🌹🌹🌹
Sementara itu beberapa jam yang lalu di halte bus, saat orang itu sudah berjalan pergi meninggalkan Ziana, tiba-tiba saja Ziana ambruk.
"Zi.." teriaknya sambil berlari menghampiri Ziana kembali.
Karena terlambat, kepala Ziana terbentur pada bangku hingga kepalanya mengeluarkan banyak darah.
"bertahanlah, gue akan nyelametin lo" ucap orang itu dengan panik seraya mengangkat tubuh Ziana yang sudah tidak sadarkan diri untuk masuk ke dalam mobil.
****
Happy Reading 💞💞 💞