About Ziana

About Ziana
Chapter 89



Setelah melihat keadaan Lyan, Dian pun langsung keruangan Lucas yang letaknya tidak jauh dari ruangan Lyan.


Sejak awal Ziana sengaja meletakkan kamar mereka secara berdekatan supaya bisa dengan mudah untuk mengecek kondisi keduanya.


Sesampainya di ruangan Lucas, Dian tidak mendapati siapapun yang berada di ruangan itu kecuali Lucas yang masih terbaring.


"sampai kapan mau pura-pura lemah kayak gitu" sarkas Dian saat telah mendaratkan bokongnya ke sofa.


"husshh.. bocil diem aja udah" ucap Lucas santai menanggapi Dian.


Gadis itu mendengus "manipulatif" ujarnya tersenyum miring.


Lucas ikut tersenyum tipis menanggapi Dian. "abis ngilang dari mana lo?" tanyanya.


"bukan urusan lo" ucap Dian cuek sambil tangannya sibuk mengetik pesan singkat kepada Ziana.


"ck.." Lucas berdecak pelan karena tingkah kurang ajar gadis itu, namun entah kenapa meskipun kurang ajar Lucas tidak merasa marah, malah lelaki itu menikmati setiap momen ketika berdebat dengan gadis yang terlihat polos itu.


"yang lain pada kemana?" tanya Dian dengan posisi berbaring di sofa panjang tersebut sambil memainkan telpon genggamnya.


"balik ke penginapan mungkin" kata Lucas acuh.


"gimana sama dokter Valerie?" Dian kembali bertanya. "kepo dih bocah" jawab Lucas dengan nada jenaka.


Tanpa basa-basi sebuah botol bekas air mineral tiba-tiba mendarat di kepala Lucas yang tidak siap akan tindakan gadis itu.


"aauuhhh..gila lu ya" keluhnya sambil mengusap kepalanya.


"lebay, botol plastik doang itu" celetuk Dian meletakkan handphonenya lalu membenarkan posisi berbaringnya di sofa.


Lucas hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap Dian, yang sangat jauh dari ekspektasi jika terlihat dari luarnya.



Sore harinya setelah pulang dari kantor, Ziana langsung menuju kediaman Bagaskara, papanya.



Seperti biasa, dia tidak sendiri ada sekertaris Dita yang selalu menemaninya.



ketika memasuki halaman rumah papanya, Ziana terlihat menarik nafas panjang lalu menghembuskannya pelan, dan kegiatan itu dilakukan Ziana selama beberapa kali.



Dita tidak mengatakan apapun, karena dia sudah tahu watak Ziana yang keras, mereka bersahabat bukan hanya setahun dua tahun jadi wajar jika Dita sudah hafal tentang Ziana, begitupun sebaliknya.



Mau dilarang bagaimanapun jika perempuan itu sudah membuat keputusan tidak ada yang bisa merubahnya.



Setelah menenangkan diri dan mengucapkan terima kasih Ziana turun dari mobil yang dikendarai oleh Dita.



Setelah Ziana turun Dita langsung pergi karena khawatir dengan ibunya yang sendirian dirumah, sebab adiknya izin untuk menginap dirumah temannya karena sedang mempersiapkan sesuatu untuk acara sekolah bersama teman-temannya.



Sebelum masuk Ziana kembali menghela nafas panjang, barulah perempuan itu mengetuk pintu. Selang beberapa saat Mbok Tin sudah membukakan pintu.



"Assalamualaikum mbok" sapa Ziana sambil tersenyum.



"Wa'alaikumsalam non, akhirnya non datang" jawab mbok Tin antusias. "memangnya kenapa mbok?" tanya Ziana tidak mengerti maksud dari mbok Tin.



"itu non, Tuan kambuh lagi tapi tidak ingin dibawa kerumah sakit" ucapnya.



"Mbok, nyonya sama nona Zoey sudah membujuknya tapi tidak ada yang didengar oleh tuan" lanjut mbok Tin.



"mbok tenang saja ya, biar Zizi yang akan membawa papa kerumah sakit" kata Ziana menenangkan.



"iya non, ayo non silahkan masuk" kata mbok Tin membuka lebar pintu utama.



"terimakasih mbok"



Setelah mengobrol sebentar dengan mbok Tin barulah Ziana bergegas untuk masuk kedalam kamar Bagas.



*tok


tok



Ziana mengetuk pintu kamar papanya dan tidak lama kemudian Claudia membukakan pintu.



"Assalamualaikum Ma" ucap Ziana sambil mencium tangan Claudia.



"wa'alaikumsalam" jawab Claudia. "kak Zizi" teriak Zoey yang juga sedang berada dikamar Bagas.



Gadis kecil itupun berlari menghampiri Ziana dan langsung memeluk kakaknya yang sudah beberapa pekan ini tidak pernah berkunjung.



Zoey menangis di pelukan Ziana yang sangat dirindukannya. "Loh kok malah nangis?" Tanya Ziana sambil mengusap kepala dan punggung adiknya yang bergetar.



"Zoey kangen kak Zizi" ucap anak kecil itu sesenggukan. "cup..cup..cup sudah ya nangisnya, kan kak Zizi udah disini" bujuk Ziana menenangkan adik kecilnya.



Karena tangis Zoey tak kunjung reda, alhasil Claudia turun tangan untuk menenangkan putrinya itu.



Setengah jam kemudian akhirnya Zoey tertidur di gendongan Ziana. Perempuan itu dengan sabar dan penuh kasih sayang menidurkan Zoey di atas ranjang milik Bagas dan Claudia.



Claudia terharu melihat betapa sayangnya Ziana kepada adiknya , sementara Bagas pura-pura tidur dan hanya sesekali membuka matanya ketika Ziana berjalan menjauh darinya.



Ziana sebenarnya tahu gerak gerik Bagas, namun perempuan itu hanya acuh melihat kelakuan papanya.



Setelah menidurkan Zoey, Ziana duduk di pinggiran tempat tidur bersama Claudia disebelahnya. Perempuan itu langsung to the point meminta Bagas agar mau dirawat dirumah sakit.



Namun sepertinya ucapan Ziana tidak didengar atau pura-pura tidak didengar oleh Bagas.



Pria setengah baya itu memunggungi anak dan istrinya. "apa anda sadar bahwa sikap keras kepala anda itu menyusahkan orang lain? saya kesini hanya karena kasian sama mama Cla yang harus mengurus manusia keras kepala seperti anda" ucap Ziana sarkas.



"saya akan menyiapkan mobil, saya tunggu dibawah" ucap Ziana kemudian berlalu meninggalkan kamar kedua orangtuanya.



Setelah kepergian Ziana, Bagas kembali menghadap kearah istrinya. "maafkan aku yang sudah menyusahkan kamu" ucapnya menatap Claudia.



"tidak mas.. kamu tidak pernah menyusahkan sama sekali" jawab Claudia balas menatap sang suami.



"aku mau dibawa ke rumah sakit" ucap Bagas.



Setelah mengurus semua keperluan Bagas dirumah sakit, Ziana menyempatkan diri untuk melihat keadaan Attar yang juga dirawat dirumah sakit yang sama.


"Aunty Ziii" teriak Attar girang ketika melihat kedatangannya.


Ziana tersenyum "bagaimana keadaan kamu? masih ada yang sakit" tanyanya sambil mengusap pipi bocah laki-laki itu.


Attar menggeleng "udah nggak dong kan Attar strong kayak Iron man" jawabnya bangga. Membuat semua orang yang ada di ruangan itu tersenyum lebar.


"sok strong kemarin siapa yang nangis-nangis gak mau makan?" celetuk Aruna.


"opa" jawab Attar tanpa rasa bersalah sambil menunjuk kearah opa Arnan.


"lah kok opa jadi kebawa-bawa sih, dari tadi opa diam aja perasaan" protes Arnan, yang langsung disambut tawa oleh semua orang.


Entah kenapa Ziana merasa nyaman berada ditengah-tengah keluarga Wijaya yang sangat hangat. Semua anggota keluarganya juga sangat welcome.


Mereka bahkan memperlakukan Ziana seperti anggota keluarga mereka sendiri, mengajak Ziana bercanda dan bercerita banyak hal kepadanya.


Keluarga seperti inilah yang selalu diinginkan oleh Ziana, memiliki seorang papa yang bisa diajak bercanda, seorang Mama yang penyayang dan mengerti keinginan semua anak-anaknya, seorang kakak yang selalu melindunginya dan juga seorang adik yang baik dan penurut.


Setelah Attar tidur, Ziana pun pamit setelah membuka ponselnya dan melihat pesan masuk yang dikirimkan oleh Dian.


Arash sempat menawarkan diri untuk mengantarnya pulang, namun Ziana menolak dengan alasan membawa mobil sendiri.


Lalu tanpa sepengetahuan siapapun, malam itu juga Ziana mengambil penerbangan menuju kota S untuk mengecek sendiri keadaan Lyan.


*****


Happy Reading 💞💞 💞