
Sekitar jam 11 malam Ziana tiba di lokasi yang sudah diberitahu Lyan sewaktu di cafe, yaitu bangunan terbengkalai yang berada dipinggiran hutan, yang katanya juga merupakan markas para preman disana.
Ziana memarkirkan motornya agak jauh dari bangunan tersebut untuk berjaga-jaga siapa tahu ada orang didalam sana.
Pengalamannya menjadi seorang mafia tidak diragukan lagi, Ziana sudah menjadi anggota mafia sejak dia masih berusia 14 tahun. Usia yang seharusnya diisi dengan bermain bersama teman sebaya, sebaliknya harus dilalui Ziana dengan latihan keras yang didapatnya dari kakek Abian.
Setiap hari Ziana berlatih tanpa mengenal lelah, namun semua usaha dan kerja kerasnya tidak sia-sia, karena hanya berselang 3 tahun saja Ziana telah mampu membangun geng mafianya sendiri yang dinamainya dengan nama Bloody Rose.
Kecintaannya terhadap bunga mawar menjadi alasan Ziana menggunakan nama tersebut.
Kembali ke topik.
Sebelum melangkah menuju bangunan tersebut, terlebih dahulu Ziana mengenakan penutup wajahnya, setelah itu barulah dia mulai bergerak.
Dengan langkah pelan tapi pasti, Ziana terus melangkah tanpa suara menyusuri jalan menuju bangunan tersebut, namun tatapan matanya terus menatap sekeliling dengan pandangan awas.
Setelah dirasa aman Ziana mempercepat langkahnya, pandangannya tertuju pada keberadaan mobil yang menjadi tujuan utamanya.
Ziana membuka kain penutup mobil tersebut. Mobil itu terkunci jadi Ziana tidak bisa membukanya. Karena tidak membawa persiapan, jadilah Ziana mengambil cara cepat yaitu dengan cara memecahkan kaca mobil tersebut.
Ziana memukul kaca mobil tersebut menggunakan balok kayu, namun akibat suara yang ditimbulkannya cukup keras sehingga memancing 2 orang pria yang sedang berada didalam bangunan tersebut berlari keluar untuk mencari asal suara.
"hei.. siapa disana.." teriak salah satunya.
Keduanya dalam pengaruh alkohol, jadi mengalahkan mereka bukanlah hal sulit bagi Ziana, yang sudah memiliki pengalaman bertemu dengan banyak penjahat.
Hanya dengan sekali pukulan saha keduanya sudah jatuh dan tak sadarkan diri. Setelah mereka berdua pingsan, Ziana memeriksa saku celana dan jaket keduanya untuk mencari kunci mobil tersebut.
Dan benar saja, kunci tersebut berada disaku celana pria yang tadi berteriak. Tanpa ingin membuang waktu lagi, Ziana langsung mengambil kunci tersebut dan langsung membuka mobil tersebut.
Setelah mobil itu terbuka, Ziana langsung masuk dan memeriksanya, siapa tahu ada bukti yang tertinggal di dalam mobil.
Dugaan Ziana benar, ternyata kecelakaan itu telah direncanakan oleh seseorang. Ziana menemukan foto dirinya, dan dibelakang foto tersebut ada alamat apartemen dan juga alamat kantornya. Ziana mengepalkan tangannya. 'siapa orang yang ingin bermain-main denganku' batinnya bertanya-tanya.
Ziana memasukkan foto tersebut kedalam sakunya.
Setelah dirasa cukup, Ziana turun dari mobil tersebut, dan tatapannya tertuju pada dua pria yang masih tergeletak dilantai, kedua preman tersebut masih belum sadarkan diri "mereka pasti tahu sesuatu" gumam Ziana.
("lagi dijalan, ada apa queen?")
"gue butuh bantuan lo, cepet kesini sekarang, nanti gue sharelock, tapi ingat jangan beritahu siapa-siapa termasuk Regan, mengerti" ucap Ziana.
("baik queen, saya mengerti") jawab orang tersebut dengan patuh.
Ziana langsung mematikan sambungan teleponnya setelah mendengar jawaban dari seberang sana. Ia lalu mengirimkan lokasinya kepada orang tersebut.
Selagi menunggu bantuan datang, Ziana mengikat tangan dan kaki kedua preman tersebut agar dia tidak bisa kabur.
Sekitar 40 menit, seseorang yang tadi ditelpon datang menggunakan mobilnya. Orang itu yang tidak lain adalah Jessica, langsung turun dari mobil ketika melihat Ziana menghampirinya.
"ikuti saya" ucap Ziana kemudian berbalik badan, Jessica pun mengikuti langkah Ziana dari belakang. Jessica sedikit kaget ketika melihat 2 orang pria berbadan besar tengah terikat dan dalam keadaan tidak sadarkan diri.
"bantu saya buat bawa mereka ke ruang bawah tanah" ujar Ziana. Jessica hanya mengangguk patuh, meskipun penasaran namun dia tidak berani bertanya untuk saat ini, melihat sikap Ziana yang terlihat dingin.
"baik queen" ucapnya lalu memapah salah satu dari pria tersebut, dan satunya lagi dibawa oleh Ziana, mereka memapahnya dengan susah payah, hingga sampai ke dalam mobil. Lalu setelahnya Jessica pun mulai menghidupkan mesin mobilnya dan meninggalkan bangunan tersebut, begitupun Ziana yang juga pergi dengan motornya.
Sementara itu Lyan masih dalam perjalanan menuju bangunan terbengkalai tersebut, untuk mencari keberadaan Ziana. karena entah kenapa, setelah mendapat telepon dari Arash yang mengatakan bahwa Ziana tidak ada dirumah sakit, feeling nya mengatakan bahwa Ziana ads disana.
Selesai memarkirkan mobilnya, Lyan berjalan mengendap-endap memasuki bangunan tua tersebut. Namun sayang, tidak ada siapapun didalam sana, hanya pecahan kaca dari mobil yang terlihat berserakan. Dan Lyan yakin bahwa semua itu adalah perbuatan Ziana.
Karena sudah tidak ada siapa-siapa lagi disana, Lyan pun memutuskan untuk pulang, karena dia sangat yakin bahwa Ziana pasti dan akan baik-baik saja.
\*\*\*\*\*