
Selesai dengan urusannya di markas, Arash kembali mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, agar bisa cepat sampai dirumah sakit.
Arash khawatir dengan keadaan Ziana yang di tinggal sendiri, sebab Aruna telah pulang sore tadi, sementara saat ini sudah malam.
Arash tidak langsung masuk, saat melihat seorang pria yang tengah duduk memunggunginya didalam ruangan Ziana.
Laki-laki itu pun mengambil langkah mundur, namun tidak meninggalkan tempat tersebut karena ia menaruh curiga terhadap pria itu.
Arash takut orang itu mempunyai maksud jahat terhadap sang pujaan hatinya. Jadilah Arash bersembunyi dibalik pintu untuk mengawasi, orang misterius itu.
"Zi..ini papa.." ucap orang itu yang tidak lain adalah Bagaskara papa dari Ziana.
"maafkan papa yang baru datang menemuimu, mama Cla tadi sebenarnya mengajak papa, namun papa malu untuk bertemu secara langsung denganmu" Ucap Bagas sambil terisak.
Sementara Arash yang masih menguping di luar terlihat serius mendengarkan perkataan pria itu.
"maafkan papa yang pecundang ini, papa tau kamu pasti benci banget sama papa yang tidak pernah ada disaat kamu butuhkan" jedanya sambil mengusap lelehan air matanya yang terjatuh tanpa bisa di bendung.
"*papa juga tidak ingin seperti ini, namun papa terlalu lemah hingga tidak bisa keluar dari masa lalu papa, dan malah menjadikan kamu sebagai korban*"
"*satu hal yang harus Zizi tahu, bahwa papa sayang sama Zizi, dan papa ingin kamu cepat sembuh sayang*" Bagas terlihat menarik nafas panjang.
"papa pamit dulu ya, papa janji akan datang lagi besok" ucap Bagas kemudian mengecup kening Ziana dalam dan lama.
Arash yang berada diluar dsn mendengar semua ucapan pria itu ikut meneteskan air mata. Dirinya juga adalah seorang ayah, dan Arash bisa merasakan apa yang dirasakan oleh papa Ziana.
Laki-laki itu berjanji akan mempersatukan anak dan ayah itu apapun caranya.
Bagas terlihat bangkit dari duduknya, sebelum keluar pria itu mengusap matanya yang memerah karena sempat menangis.
Arash yang melihat itu langsung bersembunyi, karena tidak ingin ketahuan telah menguping.
Setelah Bagas sudah tidak terlihat lagi, barulah Arash keluar dari tempat persembunyiannya, namun lagi-lagi Arash mengurangkan niatnya untuk masuk setelah melihat Ziana yang sedang menangis.
Ternyata perempuan itu tidak tertidur, dan mendengar semua yang diucapkan oleh papanya. Namun karena tidak ingin membuat suasana menjadi awakward jadilah dia memilih berpura-pura untuk tidur.
Karena tidak ingin mengganggu, Arash memutuskan untuk ke kantin karena sejak tadi siang dia memang belum makan.
Sementara itu di ruangan Ziana, perempuan itu masih terus menangis setelah mendengar pengakuan langsung dari papanya yang mengatakan bahwa ternyata papa menyayanginya.
Ziana tidak bisa membendung air matanya, di satu sisi dia bahagia setelah mendengar pengakuan papanya, namun di sisi lain dia merasa sedih, ternyata sedalam itu mamanya menyakiti papa.
Dia merasa bersalah karena selama ini sudah membenci papanya tanpa mengetahui kebenarannya.
Lama Ziana menangis, tanpa sadar dirinya tertidur karena kelelahan setelah menangis.
Arash masuk setelah Ziana tidur, dia pun membenarkan selimut Ziana, lalu setelah itu berjalan kearah sofa dan membaringkan tubuhnya disana.
Sementara itu ditempat berbeda, Agler baru saja tersadar setelah sempat pingsan akibat obat bius.
Pria itu mengedarkan pandangannya ke segala arah karena merasa tidak asing dengan tempat tersebut.
Sampai disini Agler sudah paham bahwa Robin lah yang membiusnya lalu membawanya kerumah kakeknya yaitu Abian.
"Anda sudah sadar? tuan menunggu anda diruang kerjanya" ucap Robin.
"apa maksudmu? bukankah kakek.."
"maaf tuan muda sebaiknya anda langsung menemui tuan saja dan menanyakan pertanyaan anda secara langsung kepada beliau. Permisi" kata Robin dingin, lalu pergi begitu saja.
Robin sengaja menghindari pertanyaan yang akan ditanyakan oleh Agler, karena takut salah bicara dan akan merusak rencana yang telah di susun oleh tuan Abian, mengingat Agler memiliki sifat yang temperamen.
"cih..selalu saja seperti itu" Gumam Agler mendengus.
Mau tidak mau, karena tidak ada pilihan lain, akhirnya Agler menemui kakek Abian yang telah menunggu diruang kerjanya.
Tanpa sopan santun Agler langsung saja menerobos pintu ruang kerja kakeknya tanpa mengucapkan salam ataupun mengetuk pintu terlebih dahulu.
"apa maksud kakek menculik ku dari tempat penyekapan itu?" tanya Agler tanpa basa-basi.
"duduklah dulu, tidak sopan berbicara sambil berdiri" ujar kakek Abian santai.
"cihh..persetan dengan kesopanan" dengus Agler namun hanya ditanggapi seulas senyum oleh sang kakek. Sementara Robin yang juga berada di satu ruangan itu mengepalkan kedua tangannya mendengar kalimat yang diucapkan Agler.
\*\*\*\*
Happy Reading 💞💞 💞