About Ziana

About Ziana
Chapter 144



Satu jam berlalu, hujan yang tadi cukup deras, perlahan mulai reda, hanya menyisakan tetesan tetesan kecil saja.


Arash yang tak bisa tidur pun bangun dan melihat ke arah ranjang, dimana Ziana dan kedua bocah itu tidur dengan posisi kedua bocah itu memeluk Ziana yang tidur secara terlentang dari sebelah kanan dan kirinya.


Melihat pemandangan itu Arash tersenyum kecut, gara-gara kedua bocah itu dirinya tidak bisa tidur sambil memeluk istrinya sendiri. Arash pun bangkit dari atas sofa yang ditidurinya, daripada kesal karena cemburu dengan kedua bocah itu mending dia keluar mencari angin, fikir Arash.


Arash keluar dari kamarnya dengan pelan, karena takut mengganggu tidur Ziana yang peka terhadap suara disekitarnya.


Setelah berhasil keluar, Arash melangkah menuju taman yang tadi mereka tempati. Dari kejauhan, Arash melihat seseorang sedang duduk seorang diri di bangku taman tersebut.


Karena penasaran, akhirnya Arash terus melangkah kearah bangku tersebut, kening laki-laki itu terlihat berkerut saat menyadari bahwa orang tersebut adalah sahabatnya sendiri, dia adalah Bryan.


Arash akhirnya mendekati sang sahabat yang terlihat tidak baik-baik saja. sesampainya disana, Arash langsung duduk didekat Bryan. membuat pria itu menoleh saat menyadari ada seseorang disebelahnya.


"lo ngapain disini?" tanya Bryan lebih dulu tanpa menoleh, sebenarnya Bryan sudah menyadari kehadiran Arash yang sejak tadi mengendap-endap kearahnya.


"lo sendiri?" tanya Arash balik.


Bryan hanya mengangkat kedua bahunya, pria itu terus menatap lurus kedepan, seperti seseorang yang sedang menanggung banyak beban, namun tidak tahu harus melakukan apa.


Arash mengeluarkan rokok dari saku celananya, kemudian meletakkannya di tengah antara dirinya dan Bryan "kalo lo butuh tempat cerita, gue siap dengerin" seru Arash sambil memantik korek api yang berada ditangan kanannya.


Bryan tidak menjawab, pria itu terlihat menghela nafas panjang. Tangannya terulur untuk meraih rokok yang diletakkan oleh Arash tadi.


Keduanya sama-sama diam sambil mengepulkan asap rokok yang mereka hisap.


"bokap nyokap gue kembali" ucap Bryan setelah lama terdiam.


Arash menoleh tanpa mengucapkan apapun, sengaja untuk memberikan kesempatan kepada sang sahabat untuk bercerita.


"Mereka mengancam untuk menjodohkan gue dengan wanita pilihan mereka jika gue tidak memperkenalkan pacar gue kepada mereka.." ucap Bryan lagi sambil menerawang ke kejadian 2 hari yang lalu, saat kedua orangtuanya yang tiba-tiba sudah berdiri di depan ruangannya di kantor.


Flash Back On


Siang itu Arash sedang sibuk menandatangani berkas-berkas yang menumpuk di atas meja kerjanya saat suara ketukan pintu menghentikan aktivitasnya


"masuk.." sahut Bryan tanpa menoleh, karena mengira yang datang adalah salah satu sekertarisnya.


"begini cara kamu menyambut kedatangan orang tuamu?" ucap papanya yang bernama Bara Alister, dengan kesal.


Bryan mendongak setelah mendengar suara yang sangat dikenalnya, ada keterkejutan saat Bryan melihat kedua orangtuanya yang sudah berdiri di depan pintu ruangannya.


"mami..papi.." ucapnya kaget.


"begini cara kamu menyambut orang yang sudah menciptakan kamu di dunia ini?" sentak Bara yang membuat Bryan hanya bisa mengepalkan kedua tangannya tanpa sepengetahuan kedua orangtuanya.


Sekuat tenaga Bryan menahan kekesalannya terhadap ucapan sang ayah "maaf.. saya tidak tahu kalau kalian akan tiba secepat ini" ucap Bryan meminta maaf.


"kenapa? apa kamu tidak senang karena kami datang?" sinis Bara lagi.


Wajah Bryan sudah memerah, akibat perkataan pria yang berstatus sebagai ayahnya itu.


"sudah..sudah, kalian ini selalu saja ribut setiap kali bertemu" seru Regina ibu Bryan, menghentikan perdebatan yang selalu terjadi antara anak dan suaminya jika bertemu.


Regina melangkah masuk, wanita itu mendekat kearah sang putra kemudian memeluknya erat "mami sangat merindukanmu sayang" ucapnya dalam pelukan Bryan.


Bryan hanya mengangguk menanggapi ucapan sang mami, sambil tangannya membalas pelukan itu.


"oh iya, mami datang karena ingin menagih janji kamu" seru Regina tiba-tiba setelah melerai pelukannya dengan sang anak.


"janji yang mana?" tanya Bryan heran, pasalnya ia merasa tidak pernah mengucap janji apapun kepada maminya itu.


"apa kamu lupa dengan pembicaraan kita 1 bulan yang lalu?" kata Regina mengingatkan.


"tapi itu masih setengah bulan lagi mi.."


"mami tahu, tapi mami mau bertemu sekarang dengan calon menantu mami" ucap wanita itu enteng, sambil berjalan menuju sofa diikuti oleh Bara dibelakangnya.


Belum selesai Bryan menyelesaikan ucapannya suara ketukan pintu itu berhasil menghentikan protesnya.


Tok..


tok..


tok..


"masuk.." seru Bryan setengah berteriak.


Cklek


Pintu itu terbuka, dan muncullah wajah Naysilla yang tersenyum canggung karena semua orang yang ada di ruangan itu menatap kearahnya.


"permisi pak.. ini berkas yang anda minta" ucap Naysilla kikuk, seraya meletakkan berkas yang dibawanya keatas meja kerja milik Bryan


"terimakasih Nay.." ucap Bryan.


Perempuan itu mengangguk "saya permisi pak" pamitnya sopan yang hanya dijawab deheman dari si bos dinginnya.


"siapa perempuan tadi?" tanya mami Regina yang sudah kembali berdiri dan berjalan mendekati Bryan dengan tatapan yang entah apa maksudnya, Bryan tidak mengerti.


"dia hanya sekertaris ku mi, jadi kumohon jangan mengganggunya" ucap Bryan dengan nada putus asa.


"benarkah?" kata Regina seolah tidak percaya. Sementara suaminya hanya duduk manis saja menonton kelakuan istrinya yang sedang menginterogasi Bryan.


Bryan terlihat mengusap wajahnya frustasi "baiklah mami tidak akan mengganggunya, tapi nanti malam kau sudah harus membawa calon menantu mami kerumah."


"tapi mi.." Baru saja Bryan ingin kembali protes tapi Regina sudah menyela.


"kami pergi" ucap Regina lagi seraya melangkah meninggalkan Bryan yang masih berdiri di dekat meja kerjanya.


Sore harinya saat Bryan sudah bersiap untuk pulang, tiba-tiba ketukan di pintu menghentikan aktifitasnya.


"masuk" ucapnya sedikit berteriak.


"permisi pak maaf mengganggu.." ucap orang tersebut yang ternyata adalah Naysilla.


Bryan hanya mengangguk dan mempersilahkan sekertarisnya untuk duduk. "ada apa?" tanyanya dengan nada dan wajah yang datar, setelah Naysilla mendaratkan bokongnya pada kursi di hadapannya.


Perempuan itu terlihat menarik nafasnya berkali-kali sebelum membuka suara "begini pak.. saya..saya kesini mau meminjam uang lagi pak.." ucapnya sambil menunduk takut.


"berapa? dan untuk apa?" tanya Bryan, bukan bermaksud untuk kepo, namun dia tidak boleh asal meminjamkan uang kepada karyawan jika bukan untuk sesuatu hal yang mendesak.


"50 juta pak, untuk biaya rumah sakit ibu saya" ucap Naysilla tanpa berani menatap mata bosnya.


"begini.. saya bukannya tidak mau meminjamkan, tapi yang 150 juta saja belum kamu kembalikan" kata Bryan mengingatkan Naysilla tentang uang 150 juta yang pernah ia berikan kepada rentenir yang mengejarnya.


"saya tahu dan saya ingat soal itu pak, tapi saya benar-benar butuh uang 50 juta untuk membayar obat dan biaya rumah sakit ibu saya."


Bryan terdiam, seperti menimbang untuk meminjamkan uang atau tidak kepada sekertaris barunya itu.


"saya janji akan melakukan apapun asal bapak mau meminjamkan uang itu pak" seru Naysilla saat melihat bosnya hanya terdiam.


"apakah kamu yakin dengan ucapan kamu?" tanya Bryan dengan nada dingin.


Mendengar nada dingin dari bosnya membuat Naysilla sedikit takut, namun demi sang ibu ia rela melakukan apa saja, akhirnya perempuan itu hanya mengangguk.


Singkat cerita Bryan pun memberikan cek senilai uang yang di minta oleh Naysilla "nanti malam temui saya di depan kantor, tapi ingat kamu harus dandan secantik mungkin" pesan Bryan sambil tangannya menyodorkan cek kepada Naysilla.


"Baik pak, saya mengerti" ucap Naysilla meraih kertas yang sangat berharga itu. Setelah mengucapkan terimakasih, perempuan itu pun pamit undur diri.


Flash Back Off


...****************...