About Ziana

About Ziana
Chapter 187 Last



Gumpalan-gumpalan awan yang sejak subuh menghitam, kini mulai mengguyur seluruh permukaan bumi, seolah ikut merayakan hari patah hati laki-laki yang masih betah duduk di samping sang istri yang sudah terbujur kaku, dengan kain putih yang menutupi seluruh tubuhnya.


Sejak semalam laki-laki itu masih terjaga  hingga lingkaran hitam di area matanya begitu kentara.


"Rash.. sebaiknya kamu mandi dulu biar lebih segar.." titah sang papa, iba dengan keadaan putra sulungnya.


Arash hanya mengangguk sembari meletakkan buku berisi ayat-ayat yang dari semalam ia lantunkan untuk mengiringi kepergian sang istri kembali ke pelukan sang pencipta.


Sejak semalam, Arash tidak banyak bersuara, kecuali mulutnya yang terlihat komat-kamit membaca doa serta lantunan ayat-ayat suci.


Arash memasuki kamarnya bersama Ziana dengan langkah pelan. Menatap sekeliling sebelum bergegas ke kamar mandi.


Selesai mandi dan berganti pakaian, Arash berdiri dekat jendela yang mengarah langsung ke jalan.


Di luar sana masih diguyur oleh hujan yang kini berganti menjadi rintik.


Arash menarik nafas dalam-dalam sebelum meninggalkan kamarnya ketika melihat mobil para sahabat dari kedua geng, yaitu The Braves dan Bloody Rose memasuki halaman rumahnya yang sudah diisi oleh beberapa mobil keluarga dan rekan kerja yang tiba lebih awal.


__________________________


Isak tangis mengantarkan sang mantan queen mafia ke peristirahatan terakhirnya.


Tidak ada yang tidak merasa kehilangan. Semua yang berada di pemakaman berduka dengan kepergian Ziana yang secara mendadak dan tiba-tiba.


Wanita itu terlalu pintar menyembunyikan sakitnya selama ini. Hingga orang-orang disekelilingnya tidak ada yang menyadari.


Bahkan Arash yang tinggal serumah dengannya pun berhasil ia kelabui.


Satu persatu mulai beranjak setelah tubuh itu telah tertutup sepenuhnya oleh tanah liat, serta doa selesai dilantunkan oleh sang ahli agama.


Namun tidak dengan Arash. laki-laki itu masih setia duduk di dekat gundukan tanah yang masih basah dan dipenuhi oleh taburan kelopak bunga.


Angin mulai bertiup kencang, hujan yang semula rintik pun kian deras. Arash tidak memperdulikan payung hitam yang diterbangkan oleh angin.


Laki-laki itu hanyut dalam pikirannya. Mengingat 3 tahun lebih kebersamaannya dengan sang wanita yang telah memberikan warna baru dalam hidupnya yang monokrom.


Di bawah guyuran hujan, air mata laki-laki itu kembali luruh bersama dengan derasnya air hujan.


Lama dalam posisi duduk, Arash mendongak ketika merasa air hujan tidak lagi mengguyur tubuhnya kuyup.


"Bangun..Zizi gak suka melihat orang lain menangis karena dirinya.." ucap dingin seorang pria berpakaian hitam yang berdiri menjulang seraya memayungi Arash.


Arash tidak bergeming. Laki-laki itu melirik tak suka kepada pria yang sok tahu tentang Ziana "Lo siapa? Dan apa yang lo tahu tentang istri gue?"


"Banyak. Waktu yang kami habiskan pun lebih banyak dibandingkan... maaf, sama lo"


Arash tidak suka mendengar ucapan pria yang tak dikenal tersebut. Dengan gerakan cepat, ia bangkit dan meraih kerah kemeja si pria misterius.


"Tenang bro, gue kesini gak mau berantem sama siapapun. Meskipun terlambat, tapi gue kesini karena ingin meminta maaf untuk yang terakhir kali kepada Zizi.."


Genggaman pada kerah kemeja pria itu pun terlepas. Arash mundur dan kembali duduk didekat pusara sang istri diikuti oleh si pria misterius yang tidak lain adalah Agler.


______________________________


Diantara mereka tidak ada yang membuka suara. Seolah masih tidak percaya dengan kenyataan, dimana Ziana yang telah pergi lebih dulu menghadap sang pencipta.


Rasanya baru kemarin mereka berkumpul dan bercanda ria di acara pertunangan Tristan dan Jessica, dan kini wanita itu sudah berbeda alam dengan mereka.


Terlihat sekretaris Dita masih berusaha menahan air mata yang seolah tidak pernah habis jika mengingat tentang Ziana yang merupakan seorang sahabat, kakak, bos sekaligus panutan baginya.


Bukan perihal siapa yang paling dekat atau siapa yang lebih dulu kenal, sebab semua memiliki tempat tersendiri di hati mereka untuk seorang Ziana Calista Lavanya.


Setengah jam berlalu namun belum ada tanda-tanda jika Arash akan kembali.


"Sepertinya Arash masih butuh waktu untuk sendiri.." ucap Bryan memecah kesunyian.


Sebagai sahabat sekaligus pernah merasakan di posisi Arash yang ditinggal pasangan menghadap sang pencipta, (bedanya Arash sudah berstatus suami istri, sementara Bryan masih berpacaran) tapi sedikit banyaknya Bryan tahu bagaimana perasaan sahabatnya itu saat ini.


Regan menyahuti ucapan Bryan "benar apa kata Bryan. Sebaiknya kita semua pulang dulu.."


Mereka semua mengangguk dan satu persatu mulai berpamitan kepada bunda Claudia yang masih berada di rumah tersebut.


"Terimakasih sudah menyempatkan waktu kalian untuk hadir dan mengantarkan Ziana ke peristirahatan terakhirnya" ucap Claudia haru. Masih tidak menyangka jika putri sambungnya yang selama ini terlihat pendiam dan sedikit tertutup ternyata memiliki teman sebanyak ini.


Sementara mama Arianna beserta papa Arnan dan Aruna, langsung ke rumah sakit setelah dari pemakaman, sebab bayi Arash masih harus menjalani perawatan khusus diruang NICU (maaf kalau salah🙏).


_______________________________


Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun pun berganti. Tidak terasa sudah 3 tahun kepergian Ziana, namun rumah Arash tidak pernah sepi. Para sahabat serta orangtua Arash maupun orangtua Ziana datang silih berganti untuk menengok baby Zee yang memiliki kemiripan dengan ibunya.


Alinea Zeeya Avantika adalah nama yang Arash berikan untuk sang putri tercinta. Tidak ada arti spesial, Arash hanya suka saja dengan nama tersebut.


Zee, begitulah orang-orang akan memanggilnya.


Arash berjanji pada dirinya, ia akan menjaga dan membesarkan sang buah hati dengan penuh cinta dan kasih sayang seperti permintaan terakhir sang istri.


Berkat kehadiran baby Zee yang selalu memberinya senyum dan merecokinya setiap hari membuat Arash bisa melewati hari-harinya dengan cukup baik, walau tanpa kehadiran sang istri.


Meskipun sosok Ziana Calista Lavanya sudah tidak bersama mereka lagi, namun kenangan tentangnya akan tetap ada di hati dan memori setiap mereka yang mengenalnya.


Selesai~~~


*******


Aku tahu cerita ini sangat jauh dari kata bagus. Namun, Ziana adalah karya pertama ku yang berhasil sampai garis finish, yeeaay. Meskipun endingnya tidak sesuai dengan keinginan dari sebagian atau mungkin semua pembaca, tapi gapapa, manusiawi.🤗


Disini, saya ingin mengucapkan terimakasih untuk semua yang sudah meluangkan waktunya membaca cerita yang absurd ini, terimakasih juga untuk like dan komennyaaa.. ✨


Semoga kita bisa bertemu lagi di cerita-cerita selanjutnya~~~~


Author izin pamit.


Babay👋👋