About Ziana

About Ziana
Chapter 88



Setelah menyuapi Attar sarapan, Ziana menemani anak laki-laki itu bermain sebentar sebelum akhirnya tertidur karena efek obat.


"apa dia udah tidur?" tanya Arash yang tiba-tiba muncul.


"udah" jawab Ziana singkat. Lalu bangkit dan meraih tasnya.


"mau kemana?" tanya Arash menghentikan langkah Ziana.


"pulang" jawabnya cuek.


"biar aku antar" sahut Arash cepat.


"tidak perlu, Dita udah jalan kesini" tolak Ziana tak kalah cepatnya, lalu kembali melanjutkan langkahnya.


Mendengar nama sekertaris Dita, membuat Arash merasa penasaran sebenarnya ada hubungan apa mereka, karena Dita selalu ada disaat Ziana membutuhkan.


Setahunya Dita bekerja di Callista Group sebagai seorang sekretaris dan jabatan itu tidaklah mudah ditambah lagi Dita kerap menggantikan ceo-nya untuk menghadiri rapat atau acara-acara formal, tapi entah kenapa Dita selalu ada waktu untuk pergi bersama Ziana.


Laki-laki itu pun bertekad untuk mencari tahu lebih jauh tentang siapa sebenarnya Ziana dan pekerjaannya.


Sebelumnya Arash telah mengetahui bahwa Ziana adalah pemilik sekaligus pendiri dari Bloody Rose dan itu cukup membuatnya terkejut, laki-laki itu yakin bahwa masih ada kejutan lain yang belum diketahuinya dan Arash ingin mengetahuinya lebih jauh.


Baginya Ziana adalah sebuah berlian yang tersembunyi, Ziana adalah perempuan langka dan Arash tidak akan menemukan perempuan seperti Ziana lagi di dunia manapun.


.Arash lalu mengikuti Ziana dengan langkah lebarnya, setelah sampai diparkiran Arash melihat Ziana sudah masuk kedalam mobil yang dikendarai oleh sekertaris Dita.


Akhirnya laki-laki itu kembali masuk kedalam, sementara itu di mobil, Dita terlihat memanyunkan bibirnya karena Ziana yang menelponnya tiba-tiba dan memaksa untuk menjemputnya saat itu juga.


"gak usah di monyong-monyongin bibirnya" sindir Ziana, bukannya berhenti Dita malah semakin manyun.


"nanti aku transfer" seloroh Ziana.


"beneran?" ucap Dita tak percaya.


"urusan duit aja cepet" sinis Ziana.


"hehe semua kan butuh duit bos" celetuk Dita membuat Ziana hanya memutar bola matanya.


Sesampainya di apartemen Ziana langsung masuk diikuti oleh sekertaris Dita.


"mama Cla.." ucap Ziana ketika melihat Claudia sedang duduk di ruang tamu didalam apartemennya.


"Zi..kamu udah datang" sapa Claudia sambil berdiri.


Ziana menghampiri ibu sambungnya itu dan mencium tangannya diikuti oleh sekertarisnya.


"ada perlu apa ma? kenapa gak nelpon aja biar Zi yang datang kerumah" Tanya Ziana, perempuan itu akan berubah menjadi hangat dan banyak bicara jika bersama dengan orang yang disayanginya.


Meskipun Claudia hanya ibu sambungnya namun Ziana sudah menganggap wanita itu seperti ibu kandungnya sendiri.


Karena semenjak kepergian ibu kandungnya, Ziana hanya dekat dengan Claudia yang juga merupakan gurunya disekolah.


Namun karena sering diejek oleh teman-temannya karena menganggap ibunya pergi karena Ziana nakal. Sejak saat itu Ziana tidak ingin lagi pergi ke sekolah.


Claudia yang tidak tega dengannya pun memutuskan untuk menjadi guru homeschooling untuk Ziana setelah selesai mengajar disekolah.


"maafin Mama yang gak bilang dulu baru kesini" ujar Claudia tidak enak, sedangkan Ziana hanya tersenyum.


"sebenarnya mama udah nlponin kmu tapi gak aktif" lanjutnya lagi.


"ponsel aku mati, lupa di charge" jawab Ziana apa adanya.


Claudia mengangguk "mama mengerti.." jedanya.


"mama kesini cuma mau menyampaikan kalau papa sedang sakit" lanjut Claudia menyampaikan maksud kedatangannya.


Ziana tidak bergeming untuk beberapa saat ketika mendengar berita tersebut. "terus gimana keadaannya?" tanyanya datar.


"kondisinya masih lemah, tapi menolak untuk dibawah ke rumah sakit" jawab Claudia.


Ziana menghela nafas, karena sudah sangat hafal dengan kebiasaan Bagas yang tidak pernah mau dirawat di rumah sakit. "nanti Zizi akan kerumah" ucapnya kemudian.


"terimakasih sayang" ucap Claudia tulus.


Ziana tersenyum mengangguk sambil memeluk Claudia "sama-sama Ma".


Setelah melepaskan pelukannya, Claudia pamit karena harus merawat dan menemani Bagas yang sedang sakit.


"lo yakin mau kerumah orang tua lo?" tanya Dita, bukan sebagai sekertaris melainkan sebagai seorang sahabat.


Ziana nampak diam sejenak sebelum akhirnya mengangguk.


"gue ke kamar dulu" ujar Ziana berdiri dan berjalan cepat meninggalkan Dita diruang tamu.



Sementara itu, di kota S, Lyan sudah sadar, pria itu terlihat memanggil manggil seseorang yang bernama Riana.



Seorang suster telah berusaha menghubungi Ziana untuk mengabari hal tersebut, namun ponselnya tidak dapati tersambung.



"bagaimana sus, apa sudah bisa dihubungi?" tanya seorang dokter yang sedari awal menangani Lyan.



"maaf dok, tapi nomornya tidak aktif" jawab suster tersebut sopan.



"Yasudah kamu coba hubungi nomor yang ini" kata dokter sambil menyodorkan secarik kertas yang berisi nomor telpon yang ditinggalkan Ziana waktu itu.



Suster itu pun langsung mengambil kertas tersebut lalu kemudian melakukan sesuai yang diucapkan oleh sang dokter.



"gimana?" tanya dokter tersebut tidak sabaran. "aktif dok" jawab suster.



"syukurlah" ucap dokter tersebut sembari menghembuskan nafas lega.



Dian yang sedang berada di kantin rumah sakit bersama Jessica dan Valerie pun bingung ketika mendapatkan panggilan masuk dari nomor asing.


"saya izin angkat telepon dulu" pamit Dian lalu berdiri dari tempatnya untuk mencari tempat aman untuk berbicara.


"halo.." ucap Dian pertama kali.


"halo, apa benar ini dengan saudara Dian?" tanya seseorang diseberang sana.


"iya benar, ada apa ya?" tanya Dian penasaran.


"maaf mengganggu waktunya, kami dari pihak rumah sakit Medika ingin mengabarkan bahwa pasien yang bernama Lyan sudah sadar" ucap orang tersebut panjang lebar.


"benarkah? baik kalau begitu saya kesana sekarang" ucap Dian kemudian mematikan sambungan teleponnya dan bergegas untuk ke ruangan Lyan.


Sementara itu Jessica dan Valerie yang sedari tadi menunggu kedatangan Dian yang hanya pamit untuk mengangkat panggilan namun belum kembali pun menjadi khawatir.


Berulang kali Jessica menghubungi nomor Dian, namun gadis itu sama sekali tidak mengangkat panggilannya.


Mereka pun bergegas menuju ruangan Lucas untuk memberitahu yang lain tentang Dian yang tiba-tiba menghilang.


Saat memasuki kamar ternyata Lucas sudah sadar, dan bahkan dia terlihat sudah bercanda dengan Regan dan juga Bryan.


Valerie yang melihat itu pun sangat bahagia, tanpa sadar perempuan itu berlari menghampiri Lucas dan langsung memeluk lelaki itu sambil menangis.


Semua yang berada di ruangan itu dibuat melongo oleh perbuatan Valerie yang mendadak itu.


Karena tidak ingin mengganggu kedua temannya, mereka bertiga pun mengambil inisiatif untuk meninggalkan keduanya didalam ruangan.


Sementara Lucas dan Valerie masih saling memeluk, Jessica pun mulai menceritakan tentang Dian yang hanya izin mengangkat telepon namun tidak kembali sampai sekarang.


Jessica juga memperlihatkan puluhan missed call nya kepada Dian namun tidak diangkatnya.


Namun berbanding terbalik dengan Jessica, Regan malah terlihat acuh, dengan santainya pria itu berucap "udah biarin aja, dia pasti ngabarin kalo terjadi sesuatu"


"maaf bang tapi tetap saja saya khawatir" ucap Jessica.


"Sifat dia itu persis seperti Ziana, jadi kamu tidak perlu khawatir, dia pasti baik-baik aja" kata Regan menenangkan.


Jessica mengangguk menyetujui perkataan Regan "semoga saja" gumamnya.


Sifat Dian memang hampir mirip dengan Ziana, sebagai salah satu mantan tangan kanan Ziana, Jessica tahu betul bagaimana sifat perempuan itu. Jessica pun menghela nafas.


Tanpa perempuan itu sadari bahwa sedari tadi beberapakali Bryan terlihat curi-curi pandang kearahnya.


****


Happy Reading 💞💞 💞