
Fero dan Tristan masuk ke ruangan Regan setelah mengetuk pintu terlebih dahulu.
"kalian berdua ngaret banget sih" semprot Regan setelah keduanya duduk di sofa.
Tristan dan Fero hanya menunduk "sorry bang" ucap mereka hampir bersamaan.
Regan mendengus kesal mendengar perkataan maaf dari Fero dan Tristan. Bagaimana tidak kesal sedari tadi ia menunggu kedatangan Ziana dan masih harus menunggu lagi karena ulah Tristan dan Fero. Sementara istrinya yang sedang hamil besar pun juga tengah menunggunya dirumah.
"bisa kita mulai sekarang? gue ngantuk" celetuk Ziana sambil menutup mulutnya sendiri karena menguap.
Regan menghela nafasnya sebelum memulai pembicaraan "maaf" ucapnya yang diangguki dengan malas oleh Ziana.
Sementara itu diluar ada seseorang yang sedang berusaha menguping pembicaraan mereka, siapa lagi jika bukan Panji.
Namun sayang ruangan Regan merupakan ruangan yang kedap suara, jadi percuma saja Panji berdiri disana, toh dia tidak akan mendapatkan apa-apa, dan lagi ruangan tersebut terkunci dari dalam.
"ck.. mereka mau ngomongin apa sih pake dikunci segala pintunya" ucap Panji berdecak.
Karena tidak mendapatkan hasil apapun akhirnya Panji menyerah dan memilih untuk pulang saja ke rumah orangtuanya.
Arash yang sudah selesai dengan ritual mandinya pun keluar dari kamar mandi dengan handuk yang masih melingkar di pinggang.
Arash berjalan menuju walk in closet, setelah menggunakan kaos putih polos dan celana training, laki-laki itu pun berjalan meninggalkan kamarnya.
Malam ini Arash ingin tidur di kamar Attar, jadilah dia memasuki kamar anaknya pelan-pelan, tidak ingin membuat Attar terbangun karena kedatangannya.
Sebelum ikut bergabung bersama Attar diatas ranjang, tidak lupa Arash mematikan lampu.
"selamat malam putra Daddy" ucap Arash seraya mengecup kening sang anak.
"Daddy baru pulang?" tanya Attar tiba-tiba membuat Arash kaget.
"loh ternyata kamu belum tidur?" tanya Arash.
Attar membalikkan badannya menghadap kearah sang Daddy "Attar gak bisa tidur dad" keluhnya kepada Arash dengan wajah yang di tekuk.
Arash bertepuk tangan dan membuat kamar itu seketika menjadi terang. "kenapa boy? apa ada yang mengganggumu?" tanyanya lembut.
"No"
"lalu?" tanya Arash.
"kalau aku bilang apa Daddy akan marah?" Attar balik bertanya.
Arash terlihat bingung dengan ucapan Attar namun ia tetap menjawab tidak, agar supaya anaknya mau bercerita.
"tadi disekolah ada perempuan yang datang ke sekolah aku dan bilang bahwa dia adalah mama ku"
Arash tidak terkejut karena dia sudah memprediksi hal itu akan terjadi "lalu?" tanya Arash mencoba setenang mungkin.
"aku tidak percaya, tapi setelah pulang sekolah, aku bertanya kepada Oma apa benar mommy masih hidup atau tidak"
"terus Oma jawab apa?" Arash kembali bertanya.
Attar menggeleng "Oma minta Attar untuk bertanya langsung kepada Daddy"
Arash menarik nafasnya lalu bangun.
Melihat itu membuat Attar ikut bangun "Daddy mau kemana?" tanya Attar setelah melihat Arash berjalan menuju pintu.
"Daddy ingin menunjukkan sesuatu padamu, kamu tunggulah disini"
Tidak butuh waktu lama Arash telah kembali ke kamar anaknya sambil membawa sebuah album photo.
Attar yang penasaran langsung bertanya "itu apa dad?" seraya menunjuk album tersebut.
"kemarilah" Arash memanggil anaknya untuk mendekat kearahnya.
Attar pun dengan patuh duduk disebelah sang Daddy, karena dirinya yang sudah sangat penasaran.
"apa dia orang yang tadi siang datang ke sekolahmu?" tanya Arash menunjukkan sebuah foto.
Attar mengangguk antusias "iya dad dia orangnya"
"ternyata benar ya" gumam Arash.
Setelah menarik nafas panjang Arash mulai berucap "sebelumnya Daddy mau minta maaf karena selama ini sudah berbohong tentang kematian mommy" Arash menjeda ucapannya.
"sebenarnya mommy kamu masih hidup" sambungnya dengan nada getir.
"jadi yang tadi siang memang benar adalah mommy ku dad?" tanya Attar dan dijawab anggukan oleh Arash.
"tapi kenapa kalian semua berbohong bahwa mommy sudah berada di surga?" cerca Attar dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Arash mencoba meraih sang anak seraya berkata "dengerin Daddy dulu.."
Attar menolak "tidak.. Daddy yang harus dengerin aku" ujarnya.
"apa Daddy tahu kalau selama ini aku sangat merindukan sosok mommy? apa Daddy tahu kalau selama ini Attar selalu diejek oleh teman-teman karena tidak punya mommy seperti mereka?" kata Attar dengan isak tangisnya.
"maafin Daddy boy, Daddy melakukan ini semua karena punya alasan" mohon Arash yang juga ikut merasa sedih mendengar cerita Attar.
Attar menggeleng "Daddy jahat..kalian jahat" teriak Attar sambil menyeka air matanya.
"aku benci Daddy, aku benci Oma, Opa dan aunty, kalian semua jahat.."
"boy dengerin Daddy dulu sayang"
"tolong keluar dari kamar aku dad.." ucap Attar lirih.
"tapi nak.."
"keluar dad" teriak Attar.
"baiklah Daddy akan keluar, kau tidurlah" ucap Arash lalu keluar.
Mengalah, itulah yang saat ini Arash lakukan, dirinya paham bahwa saat ini putranya itu pasti sedang terluka karena merasa dibohongi.
Arash berjalan menuju kamarnya sendiri setelah berdiri cukup lama didepan kamar sang anak.
\*\*\*\*
Happy Reading 💞💞 💞