
Beberapa jam sebelum kecelakaan.
"Aku minta kau ikuti perempuan yang ada difoto itu, alamatnya ada di balik foto" ucap seorang wanita paruh baya kepada salah seorang pria yang merupakan anak buahnya.
Wanita paruh baya itu bernama Melissa, istri kedua kakek Abian.
"baik nyonya" ucap pria suruhannya patuh.
Setelah mendengar jawaban anak buahnya, Melissa pun mengeluarkan amplop coklat yang berisi uang. "kalau kau bisa melenyapkannya, akan kuberi tiga kali lipat dari ini" ucapnya berbisik pelan sambil menyodorkan amplop coklat tersebut.
Anak buahnya meraih amplop tersebut dengan senang hati, lalu membukanya "itu pekerjaan gampang nyonya" balasnya seraya tersenyum sombong.
"bagus.. saya tunggu kabar baiknya" ucap wanita itu seraya berdiri dan pergi dari sana.
Tidak lama setelah itu, anak buahnya pun ikut meninggalkan tempat tersebut
Bukan rahasia umum lagi jika Melissa begitu amat tidak menyukai Ziana sejak dulu, namun tidak ada yang akan mengira jika wanita yang tidak lagi muda itu akan berbuat hingga sejauh ini.
Selesai bertemu Melissa pagi tadi, orang suruhan itu pun mulai mencari Ziana di alamat yang tertera dibelakang foto tersebut.
Setelah mendapatkan alamat tersebut, orang itu bersama dua orang rekannya mulai mengintai di sekitaran perusahaan Ziana.
Pria tersebut pun menunggu disana cukup lama, sampai akhirnya dia melihat perempuan yang menjadi targetnya keluar dari gedung itu bersama dengan seorang laki-laki yang tidak mereka ketahui. Namun masa bodo dengan laki-laki itu, karena yang menjadi target utama mereka adalah perempuan itu.
Akhirnya siang itu orang suruhan Melissa pun memulai aksinya, mereka mengikuti Ziana hingga disekitaran resto, dan saat mereka melihat Ziana hendak menyeberang jalan seorang diri, mereka seperti mendapatkan sebuah anugerah, tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada didepan mata, akhirnya tanpa pikir panjang mereka langsung tancap gas.
Namun disaat yang bersamaan, Zara juga berada ditempat kejadian, karena dia pun sama, mengikuti Ziana namun dengan maksud yang berbeda tentunya.
Melihat mobil yang melaju kencang itu, Zara tidak bisa tinggal diam, dia langsung berlari sekuat tenaga kearah Ziana dan langsung mendorongnya hingga ke pinggir, karena kaget Ziana pun berteriak.
Sementara Zara yang tidak sempat menyelamatkan diri itu pun menggantikan posisi Ziana dan
Bruukkk
Suara benturan keras itu membuat Zara terlempar hingga beberapa meter kedepan.
Di rumah sakit
Ziana masih terlihat syok, bukan karena kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya, namun karena wanita yang menolongnya.
Dia masih ingat wajah itu, wajah seseorang yang pergi meninggalkannya beberapa tahun silam, namun entah darimana datangnya orang itu tiba-tiba datang dan mengorbankan diri sendiri hanya untuk menyelamatkannya, menyelamatkan seorang 'anak' yang tidak pernah diharapakan kehadirannya.
Entah Ziana harus senang atau sedih.
Bahkan otak pintarnya masih belum bisa mencerna semua kejadian yang baru saja dialaminya.
Saat perempuan itu sibuk dengan semua isi pikirannya, ditambah memori-memori kelam masa lalunya yang berkelebat, tiba-tiba dokter yang menangani Zara akhirnya keluar setelah hampir 2 jam melakukan tindakan operasi, memecah konsentrasinya.
"dengan keluarga pasien?" tanya dokter saat Arash dan Ziana berdiri dihadapannya.
"iya dok.." jawab Arash karena tidak ada jawaban dari Ziana. "bagaimana keadaannya?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.
"lakukan yang terbaik dokter, saya akan bayar berapapun" ujar Arash.
"tapi masalahnya stok darah AB saat ini sedang kosong" beritahu dokter dengan raut wajah kecewa.
"apa? anda jangan bercanda, masa rumah sakit terbaik dan nomor 1 kehabisan stok darah" bentak Arash karena emosi.
"kami benar-benar minta maaf pak, tapi itulah yang sedang terjadi."
Arash terlihat mengepalkan tangannya geram. Melihat itu, perlahan Ziana mendekat dan menggenggam kepalan tangan itu.
"tenangkan dirimu" bisiknya pelan tepat ditelinga Arash.
Lalu Ziana berbalik kearah dokter "ambil darah saya saja dok, saya anaknya" pinta Ziana karena kebetulan golongan darah mereka sama.
Arash sempat menentang permintaan Ziana, namun Ziana yang memiliki pendiriannya kuat bisa meyakinkan Arash, kalau dirinya pasti baik-baik saja.
'*ini hanya balas budi karena dia yang telah mengandung dan melahirkan aku kedunia*' Batin Ziana meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang dia lakukan adalah tindakan benar.
Sementara itu di kediaman kakek Abian, terlihat Melissa sedang berbicara ditelpon dalam keadaan marah, karena kabar baik yang ia tunggu tidak sesuai harapannya.
"sekarang juga kalian tinggalkan kota ini, pergilah sejauh mungkin karena jika sampai kalian tertangkap, kalian hanya akan menyusahkanku saja" perintah Melissa yang tidak bisa diganggu gugat.
("tapi nyonya..")
"jangan membantahku, karena yang kalian hadapi adalah seorang mantan mafia"
("baik nyonya kami akan pergi malam ini juga") ucap anak buahnya setelah mendengar bahwa perempuan yang hampir ditabraknya merupakan mantan mafia.
"bagus, kalau perlu ganti identitas kalian" ucap wanita paruh baya itu lalu mematikan ponselnya, kemudian melepaskan SIM card nya ia juga mematahkan SIM card tersebut untuk berjaga-jaga jika para anak buahnya yang bodoh itu tertangkap, agar tidak ada bukti tentang keterlibatannya dalam kasus kecelakaan ini.
Melissa tahu bahwa Ziana adalah murid Abian, sekaligus mantan pemimpin geng mafia. Sedangkan laki-laki yang tadi pagi dia lihat mengantar Ziana adalah Arash Wijaya yang juga merupakan mantan bos mafia sekaligus calon suami Ziana.
Bukan hal sulit untuknya mencari tahu semua itu, karena ia mempunyai seorang informan terpercaya, terbukti hanya dalam waktu beberapa jam saja semua informasi tentang Arash Wijaya sudah ada dalam genggaman tangannya.
"selesai.. dengan begini tidak akan ada orang yang tahu tentang keterlibatan ku" ucapnya tersenyum licik, seraya menepuk kedua tangannya setelah selesai membuang SIM card nya kedalam tempat sampah yang ada dalam kamarnya.
Happy Reading 💞💞 💞