About Ziana

About Ziana
Chapter 124



Arash tiba didepan pintu apartemen Ziana, berkali-kali ia mengetuk pintu namun tidak ada yang menyahut, sehingga membuatnya sedikit panik, 'jangan-jangan terjadi sesuatu' pikirnya.


Laki-laki itu terus mengetuk pintu hingga tiba-tiba ada seseorang yang menepuk bahunya dari belakang.


"nyari siapa ya pak?" tanya orang tersebut yang membuat Arash langsung menoleh karena kaget.


"Astaghfirullahaladzim sayang kamu tuh ngagetin aja tau nggak" kata Arash seraya mengusap-usap dadanya.


"Hahaha ya maaf abisnya kamu n*fsu banget gedor pintunya" kelakar orang itu yang ternyata adalah Ziana.


Sedangkan Arash hanya mendengus, ingin marah namun urung karena menurutnya melihat Ziana tertawa lepas seperti itu adalah hal yang langka, karena biasanya perempuan itu hanya tersenyum tipis.


"abis dari mana kamu?" tanyanya kemudian.


Setelah tawanya reda Ziana menjawab pertanyaan Arash singkat "jogging" sambil menempelkan Access card nya.


"kamu nggak lupa kan hari ini?" tanya Arash mengekori Ziana untuk masuk kedalam apartemen.


Perempuan itu menoleh dengan dahi mengkerut "hari ini?" ucapnya bingung.


"iyaa"


"hari Sabtu kan?" dan jawaban Ziana membuat Arash melongo tidak percaya, namun sedetik kemudian ia membuang nafasnya kasar.


Bisa-bisanya perempuan itu lupa sedangkan dirinya sudah buru-buru datang kemari setelah sebelumnya dari rumah sakit, hanya agar perempuan itu tidak marah padanya karena sudah datang terlambat.


Ziana menatap Arash dengan tatapan bingung, namun tidak ingin bertanya.


Akhirnya dengan senyum yang dipaksakan Arash pun membantu Ziana mengingat bahwa hari ini mereka ada jadwal dengan pihak dari Wedding organizer untuk membahas tentang rangkaian acara pernikahan mereka.


Ziana menepuk jidatnya sendiri, sungguh dia benar-benar lupa dengan yang satu itu karena akhir-akhir ini ia sedang mengurus sesuatu bersama Regan, Fero dan Tristan.


Pagi ini pun sebenarnya dia tidak habis jogging melainkan memata-matai seseorang tanpa sepengetahuan Arash.


"yaudah kamu tunggu sebentar aku mandi dan siap-siap dulu" kata Ziana sambil mendudukkan Arash di sofa lalu ia berlari naik ke kamarnya.


Sedangkan Arash hanya bisa geleng-geleng kepala sambil berseru memperingatkan Ziana untuk berhati-hati "pelan-pelan aja yank, gak usah lari nanti kamu jatuh"




Sama seperti hari-hari biasanya Bryan selalu menyempatkan diri untuk lari pagi, namun kali ini bukan di halaman rumahnya tetapi pria itu memilih untuk ke taman, berhubungan sedang weekend.



Saat sedang fokus berlari sambil menggunakan earphone di kedua telinganya tiba-tiba ada seseorang yang menabraknya dengan sangat keras dari arah belakang, beruntung Bryan memiliki pertahanan tubuh yang kokoh jadi dirinya tidak sampai terjatuh.



"maaf.. maaf saya tidak sengaja" ucap seorang perempuan yang tadi menabraknya dengan tergesa-gesa seperti seseorang yang sedang dikejar.



"woi tunggu.." teriak seorang pria paruh baya dari arah belakang perempuan itu.



Perempuan itu pun langsung berlindung dibelakang Bryan.



"serahkan perempuan itu" bentak orang itu setelah berdiri dihadapan Bryan



Sementara perempuan itu memegang erat kaos yang dikenakan oleh Bryan sambil menggeleng sambil memohon "plis tolongin gue".



"sebenarnya ada apa ini?" tanya Bryan yang memang tidak tahu apa-apa.



"perempuan itu tidak bisa membayar hutangnya dan sesuai perjanjian dia harus menikah dengan saya"




Bryan yang tidak bisa melihat seorang perempuan menangis pun tidak ada pilihan selain membantunya.



"memangnya berapa hutang yang harus dia bayar?" tanya Bryan kepada pria paruh baya itu.



"150 juta"



"apa? tapi saya hanya meminjam 50 juta, anda jangan memeras saya seperti ini dong" ucap perempuan itu kaget karena merasa dirinya tidak meminjam uang sebanyak itu.



"50 juta belum termasuk bunganya sayang" kata si pria sambil tersenyum jahat.



"tapi tidak sebanyak itu juga" protes perempuan itu lagi.



"jika tidak bisa bayar kamu cukup jadi istri saya saja, maka semua hutang itu akan saya anggap lunas, bagaimana?" tawar pria itu.



"tidak..saya tidak mau jadi istri ke-5" kata perempuan itu menggeleng cepat.



"saya yang akan membayar semuanya" ucap Bryan membuat kedua orang itu menatapnya.



"lo serius?" tanya perempuan itu dengan mata berbinar.



"apa saya bisa percaya dengan ucapanmu anak muda" ucap pria itu terdengar meremehkan.



Namun Bryan tidak menanggapi, ia sibuk mengutak-atik ponselnya kemudian menelpon seseorang.



"sebentar lagi sekertaris saya akan datang membawakan uangnya" ucap Bryan setelah selesai berbicara di telepon.



Pria tua itu hanya mengangguk kesal karena tujuannya untuk menikahi perempuan muda itu sudah dipastikan akan gagal.



Sementara si perempuan terus menatap Bryan dengan tatapan matanya yang berbinar, sungguh ia merasa beruntung telah bertemu dengan laki-laki yang begitu baik ingin membantunya melunasi hutangnya.



Bersambung~~



\*\*\*



Happy Reading 💞💞 💞