
"ketawa aja terus.. terus.." pasrah Dita seraya menatap jengah kepada bos yang sialnya adalah sahabatnya.
Ziana memegangi perutnya, ini masih pagi dan ia sudah terlalu banyak tertawa. Rasanya sudah lama sekali wanita itu tidak tertawa selepas ini tanpa beban.
Yap, berbicara tentang beban memang beberapa bulan terakhir ini satu-persatu masalah selesai dengan baik. Seperti contoh hubungannya dengan mama Zara yang sudah membaik meski tidak sebaik hubungannya dengan Mama Cla yang menggantikan peran Malam Zara sejak dirinya kecil.
Hubungannya dengan papa Bagas pun sudah mulai ada kemajuan meski masih sedikit kaku. Namun tanpa Ziana sadari akan ada masalah lainnya yang akan segera menghampiri.
Setelah mengatur nafasnya Ziana berubah serius sekarang, merasa kasihan sebenarnya melihat kantung mata Dita yang menghitam, dan sorot matanya yang sendu.
"Sorry Dit gue gak maksud jahat, gue tau lo lagi banyak pikiran.." ucapnya kini menatap Dita sebagai seorang adik dan sahabat bukan lagi sebagai sekretaris, meskipun mereka sedang berada di kantor saat ini.
"Jangan terlalu di pikirkan, Dian ada di suatu tempat dan sekarang dia baik-baik aja" Meskipun bukan ranahnya, namun karena tidak tega jadilah Ziana terpaksa membeberkan sedikit.
Ziana tidak sedang berbohong hanya agar membuat sang sahabat merasa baik-baik saja, Dian memang meminta izin padanya sebelum pergi sore kemarin.
"Apa maksud lo, Kak?" Bukan salah Dita jika perempuan itu menuntut sebuah jawaban, salahkan Ziana yang berbicara setengah-setengah.
Menghela nafas panjang, merasa bingung harus berbuat apa sekarang, dirinya sudah terlanjur mengatakan, jad bisa dipastikan Dian tidak akan berhenti bertanya hingga mendapat jawaban yang diinginkan.
"Kak.." Dian menggoyang lengannya cukup kuat membuat Ziana tersentak dari lamunan.
Mencoba mencari alasan sepertinya tidak mungkin, cara satu-satunya hanyalah menunda "saya tahu kamu khawatir, tapi jangan lupa jika kita masih di kantor" ucap Ziana formal, sengaja agar Dita berhenti bertanya.
Dita hanya bisa menghela nafasnya kasar. Apa yang Ziana ucapkan benar, ia masih punya tanggung jawab yang harus diselesaikan.
"Sekarang perbaiki penampilan kamu, 5 menit lagi kita ada meeting, bukan?" Ujar Ziana pura-pura melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Baik, Bu"
Ziana menarik nafas lega setelah masuk kedalam ruangannya dan menutup pintu rapat-rapat.
Sore harinya, setelah merapikan barang-barangnya Dita mulai mengetuk daun pintu dari ruangan Ziana, bermaksud meminta penjelasan. Sungguh perempuan itu masih terus kepikiran tentang ucapan Ziana tadi pagi, tentang Dian.
"masuk"
setelah mendapat izin dari sang pemilik ruangan, Dita pun memutar kenop pintu dan segera masuk.
"ada apa?" tanpa melihat siapa yang masuk, Ziana sudah tahu bahwa itu adalah Dita.
Mengenal Dita cukup lama membuat Ziana paham karakter sahabatnya itu yang tidak akan menyerah hingga apa yang mengganjal di hatinya terpecahkan.
"kakak pasti tahu maksud kedatangan gue kesini" bahkan Dita kembali melupakan sikap formal yang selama ini ia terapkan sendiri.
Ziana yang tadinya fokus menatap layar monitor kini mengalihkan tatapannya kearah Dita yang juga menatapnya.
*Huffttt*
Entah sudah berapa kali Ziana menghela nafas panjang hari ini dan melihat tatapan Dita, sepertinya ia tidak bisa untuk menghindar lagi. Ziana sadar bahwa Dita berhak tau, meski tidak langsung dari mulutnya.
"baiklah, lo ikut gue sekarang" Ziana beranjak dari kursi kebesarannya, lalu meraih tas tangannya yang tergeletak di sudut meja, dan berlalu meninggalkan ruangannya, sementara Dita sudah mengekor di belakang.
Arash tiba di depan kantor Ziana setelah menerima pesan dari sang istri yang meminta untuk segera dijemput.
Laki-laki itu tersenyum lebar kala melihat Ziana berjalan kearahnya tergesa.
apakah istriku begitu merindukan suaminya ini, sampai dia berjalan secepat itu Arash tertawa, dirinya merasa geli sendiri dengan pikirannya yang mulai kemana-mana itu.
Seburu-buru apapun Ziana wanita itu tidak pernah lupa menjaga kesopanannya kepada sang suami "maaf ya sayang buat kamu nunggu, tadi agak macet" ucap Arash mengusap kepala istrinya yang sedang mencium punggung tangannya.
"gapapa Mas, aku yang harusnya minta maaf ngechatnya mendadak" jawab Ziana merasa tidak enak.
"ini gak dicium juga yank?" pertanyaan nyeleneh Arash lontarkan seraya menunjuk-nunjuk pipinya. sengaja ingin membuat istrinya kesal.
Ziana mendelik orang ngomong apa dia balasnya apa mungkin seperti itulah isi hati wanita itu. Ziana melotot kesal, jika hanya berdua mungkin tidak jadi masalah, tapi lain cerita jika ditempat umum seperti ini, ditambah ada sekretaris Dita yang berdiri tepat dibelakangnya.
"hahaha.. bercanda sayang" Arash tertawa tanpa malu jika dilihat oleh karyawan istrinya yang berlalu-lalang karena jam kerja memang telah usai beberapa menit yang lalu.
"Hem..Hem.." Dita yang hampir stres memikirkan keberadaan adiknya malah disuguhi adegan romantis dihadapannya tentu saja merasa dongkol setengah mampus.
"sorry Dit.." Ziana juga memiliki seorang adik perempuan bernama Zoey, meski masih kecil tapi Ziana mencoba memahami perasaan Dita yang mengkhawatirkan Dian, adiknya. Ziana menempatkan dirinya diposisi Dita, dirinya pasti akan se-khawatir itu jika yang hilang adalah Zoey.
"ayo, Mas kita harus pergi sebelum hari semakin malam" ajak Ziana.
Meski tidak tahu ada urusan apa Ziana dan sekretarisnya ke kota B, namun Arash tetap akan mengantarkan kedua perempuan itu sampai ke sana.
Nilai plus Arash yang Ziana sukai adalah Arash yang tidak banyak tanya seperti laki-laki lain, suaminya itu selalu sabar menunggu hingga Ziana sendiri lah yang memutuskan untuk bercerita padanya.
"apakah ada informasi akan kemana tujuan mereka?"
"maaf tidak ada nyonya, tapi sepertinya mereka akan keluar kota" ucap pria rambut cepak itu
"apa kamu yakin?"
"maaf tidak nyonya, saya hanya menduganya dari jalur yang mereka ambil" jawabnya menunduk, tidak berani menatap wajah istri dari bosnya.
"haiisshh... terus pantau mereka dan kabari saya secepatnya" titah wanita itu.
"baik Nyonya, kalau begitu kami permisi"
Setelah mendapat anggukan dari wanita yang menjadi bosnya, ketiga pria berbadan kekar itu pun berlalu dari rumah megah tersebut.
Wanita itu termenung setelah ketiga anak buah suaminya meninggalkan ruang tamu *Sebentar lagi... sebentar lagi apa yang* **memang** *menjadi milikku akan segera kudapatkan* *kembali* ucapnya dalam hati.
Namun, lamunan wanita itu buyar saat sebuah tangan besar tiba-tiba memeluk lehernya dari belakang "astaga Mas, ngagetin tau nggak" rajuknya kala menyadari pemilik tangan tersebut yang tidak lain adalah suaminya.
"lagi ngelamunin apa sih, sayang? serius banget" pria itu melepas pelukannya dan beralih, memilih duduk di samping istrinya.
"bukan apa-apa kok" sangkal wanita itu dengan senyum yang dipaksakan.
Pria itu menyadari jika istrinya sedang menyembunyikan sesuatu darinya, namun ia tidak ingin bertanya lebih, takut jika akan merusak mood istrinya.
Pria itu tahu jik wanita cantik yang juga merupakan mantan model yang dinikahinya
2 tahun lalu itu begitu terpukul ketika dinyatakan tidak bisa hamil oleh dokter, sekitar 1 bulan yang lalu.
Karena cintanya untuk sang istri yang begitu besar, jadi sebisa mungkin pria itu akan menjaga perasaan istrinya agar kejadian bulan lalu yang hampir merenggut nyawa wanita itu tidak sampai terulang kembali.
\*\*\*\*\*