
Siang harinya tiga sekawan yaitu Arash, Bryan dan Lucas berkumpul ke markas utama Bloody Rose untuk mulai mendengarkan rencana dari Scorpion.
"*apa yang akan kita lakukan selanjutnya tuan?"
"untuk sementara kita jangan melakukan apa-apa dulu, kita tunggu sampai mereka lengah baru kita akan bergerak"
"tapi sampai kapan kita tidak bergerak, mereka sudah membuat anda tidak sadarkan diri selama beberapa hari, mereka harus membayar semua itu tuan"
"yaa mereka pasti akan membayarnya, tapi bukan sekarang kita hanya perlu menunggu sampai mereka lengah, tugas kalian hanya perlu mengawasi mereka"
"izin tuan, dari info yang saya temukan mereka ternyata melakukan aliansi dengan geng mafia lainnya, terbukti dari datangnya bala bantuan waktu kedatangan mereka ke markas yang lama, padahal waktu itu mereka sudah hampir kalah"
"ohh benarkah? siapa mereka"
"mereka adalah The Braves tuan"
"oh.. si Wijaya Wijaya itu rupanya" bos mafia itu terdengar tertawa "mereka tidak ada apa-apanya, jadi jangan khawatirkan mereka, fokus utama kita hanya untuk menghancurkan Ziana dan Bloody Rose miliknya mengerti!!" ucap si Bos mafia final.
"baik tuan kami mengerti" ucap mereka secara serentak*.
Sayang sekali mereka tidak berhasil mendapatkan rekaman video, robotnya terlalu tinggi jadi tidak ada wajah siapapun didalam gambar, hanya rekaman suara yang berhasil mereka dapatkan.
"sayang banget gak ada gambarnya" keluh Arash yang penasaran dengan wajah-wajah musuhnya.
"maaf semua ini salah saya" Ucap Jessica tiba-tiba.
"saya tidak menyalahkan siapapun saya cuma menyayangkan karena tidak bisa melihat wajah mereka" ujar Arash.
"sepertinya mereka mengenal lo Rash" celetuk Bryan.
Arash mengangguk "tapi saya benar-benar tidak mengetahui siapa mereka" ujarnya kemudian.
"lalu apa yang akan kita lakukan selanjutnya?" tanya Tristan.
"untuk sementara kita ikuti rencana mereka, tapi kalian harus menambahkan cctv di markas kalian" kata Arash setelah lama berfikir.
"apa gak terlalu beresiko, kita hanya berenam sementara mereka sangat banyak jumlahnya" komentar Fero.
"menurut lo gimana Cas?" tanya Fero meminta saran dari Lucas.
Sementara Lucas hanya mengendikkan bahunya tidak tahu.
"lo kenapa sih Cas, daritadi gue perhatiin lo diem aja" seloroh Bryan yang merasa heran dengan sahabatnya.
"biasanya kalo cewek bilang gapapa pasti ada apa-apanya nih" celetuk Tristan yang juga penasaran dengan diamnya Lucas, karena biasanya laki-laki itu yang paling berisik diantara mereka berlima.
Lucas hanya mendelik mendengar celetukan Tristan yang memang benar adanya. Lucas memang sedang kenapa-kenapa, hatinya yang sedang tidak baik-baik saja, seperti ada sesuatu yang menghimpitnya, terasa sakit namun tidak berdarah. (wkwk lebay)
"udah udah gak usah di paksa kalo gak mau" lerai Bryan yang sudah paham dengan pola pikir sahabatnya itu.
"sebaiknya kita beritahu yang lainnya soal rencana ini, kita gak tau hal buruk apa yang akan dilakukan oleh Scorpion" ucap Tristan tidak ingin ambil resiko.
"gue setuju sama Tristan" seloroh Bryan.
Arash mengangguk, "baiklah kita akan beritahu yang lainnya, tapi pengecualian buat Regan dan Ziana"
"kenapa?" tanya mereka serempak kecuali Lucas dan Jessica.
"Regan masih di luar negeri buat bulan madu jadi sebaiknya jangan mengganggu liburan mereka, sedangkan Ziana, eeemm dia baru saja selesai operasi, jadi jangan buat dia banyak bergerak dulu" ucap Arash sedikit gugup saat membahas tentang Ziana, Namun beruntung laki-laki itu bisa mengendalikan dirinya.
Jessica yang memperhatikan Arash sedikit tersenyum karena menemukan gelagat aneh dari Arash saat membahas Ziana.
Setelah mendapat kesepakatan mereka pun membubarkan diri karena masih banyak hal yang harus mereka kerjakan.
...----------------...
Sementara itu Ziana yang baru saja tiba di apartemennya sudah di sambut dengan ribuan pertanyaan dari Dita.
Sekertaris itu memberondong bosnya dengan pertanyaan yang membuat Ziana jengah.
Perempuan itu hanya bisa menghela nafas mendengar pertanyaan yang di lontarkan Dita seakan tidak ada habisnya.
Tanpa menjawab satu pertanyaan pun Ziana memilih masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya daripada harus mendengar pertanyaan Dita yang panjangnya melebihi rel kereta api.
Dita menggeram kesal karena bosnya itu seakan acuh dan tidak memperdulikan kehadirannya.
"gue tuh peduli sama lo kak" gerutu Dita sambil menghentak hentakkan kakinya perempuan itu keluar dari kamar Ziana.
*****
Jangan lupa Like dan Komennya kakak
Happy Reading 💞💞💞