About Ziana

About Ziana
Chapter 177



Art tersebut lalu menceritakan kejadian yang membuat Attar bisa sampai di kurung didalam kamar mandi, oleh Tamara.


Ziana mengepalkan tangannya setelah art itu selesai bercerita "bisa antar saya ke sana, bu" meskipun dalam keadaan marah, tapi Ziana tetap berucap sopan dan tidak melampiaskan kemarahannya pada art tersebut.


"mari nyonya, ikuti saya"


Ziana mengangguk dan tanpa mengucap apapun lagi segera mengekor di belakang sang art yang tidak diketahui namanya itu.


~


~


~


"disini?" tanya Ziana memastikan yang langsung dijawab anggukan "iya nyonya, dan ini kuncinya" ujarnya menyerahkan sebuah kunci yang segera diraih oleh Ziana.


"terimakasih, bu" tidak lupa wanita itu mengucapkan terimakasih.


Cklek


"ATTAR.." Ziana segera berjongkok dan meraih tubuh Attar, memeluknya yang sudah meringkuk didalam sana.


"Momzi.. Attar takut disini" dengan sisa tenaganya, bocah laki-laki itu mendongak dan berucap lirih, namun masih bisa didengar oleh Ziana dan art tersebut yang masih berdiri dibelakang sana.


"jangan takut sayang, Momzi, Daddy, sama uncle Bryan akan bawa Attar pergi dari sini" Ucap Ziana menghujani wajah pucat Attar dengan kecupan kecupan kecil, membuat bocah laki-laki itu tersenyum sebelum akhirnya tidak sadarkan diri.


"ATTAR.."


"Attar..bangun..buka matamu sayang, jangan membuat Momzi takut" Ziana mengguncang tubuh Attar dan menepuk-nepuk wajahnya pelan, namun Attar tidak bergerak, dia pingsan.


Arash dan Bryan yang baru saja turun dari lantai dua dan mendengar teriakan Ziana, mereka segera berlari mencari wanita itu.


Tidak butuh waktu lama keduanya menemukan Ziana dikamar mandi dan melihatnya terduduk dengan Attar yang berada di pangkuannya.


"Ya Tuhan Attar, sayang apa yang terjadi dengannya?" Arash tak kalah paniknya melihat putranya tak sadarkan diri dengan wajah pucat nya.


"Panjang ceritanya mas" Ziana berucap lirih, sambil terus berupaya membangunkan Attar dengan caranya sendiri.


"Sebaiknya kalian segera bawa Attar ke rumah sakit, urusan disini biar saya dan tuan Robin yang akan menyelesaikan" ucap Bryan.


Arash mengangguk dan segera mengambil alih Attar kedalam gendongannya dan segera berjalan keluar dengan langkah lebar, sedangkan Ziana mengekor dibelakangnya kknn


~


~


~


Saat ini mereka sudah berada di rumah sakit, dan Attar sedang di tangani oleh tim medis, sedangkan Arash tengah memeluk Ziana, menenangkan wanita itu yang terlihat gelisah.


"Tenanglah sayang, aku yakin tidak akan terjadi apa-apa dengan putra kita, dia itu anak yang kuat" Arash berusaha menenangkan Ziana meskipun dirinya sama khawatirnya, namun sebagai laki-laki dan kepala keluarga, ia harus berusaha terlihat baik-baik saja. Siapa lagi yang akan melindungi anggota keluarganya jika ia lemah.


Dari kejauhan terlihat papa Arnan datang dengan tergesa, padahal baru sekitar satu jam yang lalu ia bersama mama Arianna dan Aruna meninggalkan rumah sakit. Tapi, setelah menerima kabar dari anak buahnya yang ia tugaskan untuk mencari Attar, tanpa berpikir dua kali pria paruh baya itu segera kembali lagi ke rumah sakit ini lagi karena kekhawatirannya kepada sang cucu sudah tidak terbendung.


Melihat siapa yang datang, dengan perasaan tidak rela Arash melepaskan rengkuhannya pada sang istri. Laki-laki itu segera berdiri dan mencium tangan sang papa, diikuti oleh Ziana "Attar masih ditangani oleh dokter" menunjuk ruang IGD dimana Attar berada.


Menghela nafas panjang seraya memanjatkan doa dalam hati, hanya itu yang bisa Arnan lakukan saat ini untuk cucunya.


______________________


Sementara itu dikediaman Wijaya tengah berlangsung pengajian untuk mendoakan kakek Abian sebelum mengantarkannya ke peristirahatan terakhirnya, sesuai permintaan Aruna.


Ya, pada akhirnya papa Arnan tetap mengikuti permintaan putri bungsunya akibat tidak tega melihat kesedihan dimata gadis tersebut.


Susah payah papa Arnan menemukan kontak dari asisten pribadi yang selalu mengekor dibelakang Abian Ravindra, untuk menyampaikan kabar duka tersebut, sekaligus meminta izin untuk mengadakan pengajian dirumahnya.


Di lain tempat, terlihat mama Arianna mondar-mandir mencari keberadaan papa Arnan yang tiba-tiba menghilang di pandangannya.


Wanita itu sudah mencari ke seluruh penjuru rumah, namun tidak menemukan keberadaan papa Arnan. Bahkan seluruh pekerja dirumahnya turut membantu namun tetap tidak menemukan pria paruh baya tersebut. Entah kemana perginya suaminya, tiba-tiba saja menghilang di telan bumi "papa kemana sih, di telpon juga gak bisa-bisa" mama Arianna mulai mengomel karena tak kunjung menemukan apa yang dicarinya.


Bagaimana tidak kesal, beberapa menit yang lalu ada pria berwajah datar yang datang dan meminta agar semua anggota keluarga Wijaya berkumpul karena ada hal penting yang mau mereka bicarakan menyangkut Abian Ravindra, dan suaminya itu tiba-tiba saja menghilang tanpa jejak.


"Mama yang tenang, jangan panik seperti ini" ucap Aruna berusaha membuat mamanya tenang dengan memeluknya dari samping dan memberikan usapan lembut pada bahu sang mama.


"Gimana mama bisa tenang Na, kamu gak liat wajah para bodyguard nya seperti apa?" Wanita itu bergidik takut mengingat bagaimana menyeramkan nya wajah para bodyguard yang datang bersama pria berwajah datar yang dia tidak tahu dan tidak kenal.


"Mama gak usah takut, kan disini ada Aruna yang bakal jagain mama, didepan sana ada paman Ben, sama ada Leon juga, Ma"


"Emang ada Leon? Kok mama gak liat dia?" Mama Arianna melepas tangan Aruna yang melingkar di bahunya. Wanita itu terlihat begitu antusias jika membicarakan kekasih anaknya. Selain karena ganteng, Leon juga baik dan sangat sopan, jadi mama Arianna sangat menyukai dan mendukung hubungan Aruna dengan Leon, tanpa mempermasalahkan status sosialnya, asalkan Leon bisa menjaga dan membahagiakan putri bungsunya itu.


"Ada ma, tadi dia nanyain mama, tapi mama lagi sibuk nyariin papa" memang benar, yang paling pertama Leon cari setiap kali cowok itu datang ke rumahnya adalah sang mama


Melihat ekspresi manyun Aruna ketika membahas tentang Leon yang selalu mencarinya terlebih dulu membuat mama Arianna sedikit terhibur dan melupakan ketakutannya tentang wajah menyeramkan orang-orang yang datang kerumahnya beberapa waktu yang lalu.


tok..tok..tok..


Bunyi ketukan pintu mengalihkan atensi kedua ibu dan anak itu. Mereka saling pandang sebelum mama Arianna berteriak meminta orang tersebut untuk masuk.


cklek


"permisi nyonya.. maaf mengganggu, dibawah ada tuan Bagas bersama nyonya Claudia dan nona Zoey"


"berarti Attar juga ikut kan, Bi?" tanya mama Arianna antusias. Baru sehari tidak melihat cucunya ia sudah begitu rindu.


Tanpa mendengar jawaban dari art nya, wanita itu berdiri dan segera berlalu dari kamarnya. "rasanya sudah tidak sabar untuk bertemu Attar" gumamnya tersenyum.


setelah kepergian sang mama, Aruna mengalihkan pandangan kepada art nya. "jadi mama gak tahu kalau Attar di culik?"


Sang art tersebut menggeleng "tidak non, Tuan meminta kami semua untuk merahasiakan tentang hal itu, Tuan hanya mengatakan kepada nyonya bahwa den Attar untuk sementara dititipkan di rumah tuan Bagas dan nyonya Claudia"


"Apa? kalau begitu cepat bawa aku ke bawah Bi, kalau tidak, kita semua bisa berada dalam masalah" Aruna mulai dilanda panik segera meminta bantuan dari art tersebut untuk membawanya menyusul sang mama.


******