About Ziana

About Ziana
Chapter 110



3 hari berlalu setelah acara lamaran, Arash dan Ziana sudah mulai sibuk mengurus pernikahan mereka, yang rencananya akan di gelar bertepatan dengan malam pergantian tahun nanti.


"udah sore ternyata, mau makan dulu gak?" ujar Arash sambil melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.


"boleh.." Ziana mengangguk menatap Arash yang juga menatapnya


"Attar mau makan apa sayang?" tanya Ziana beralih menatap Attar yang berada di tengah antara dirinya dan Arash.


"heemm.." Attar nampak berfikir.


"ayam goreng mentega boleh dad?" seru Attar setelah membayangkan makanan tersebut.


"of course boy" sahut Arash mengacak rambut Attar.


Ziana tersenyum melihat kedekatan yang terjalin antara anak dan ayah itu.


"didekat sini ada restoran cepat saji, bagaimana kalau kita kesana?" usul Arash meminta persetujuan kepada anak dan calon istrinya.


Attar mengangguk antusias, sedangkan Ziana hanya melamun.


Arash dan Attar saling pandang, kemudian mengangguk kompak. Dalam hitungan ketiga, satu..dua..tiga..


"Mommy.." teriak keduanya kompak membuat Ziana terlonjak sedangkan pasangan anak dan ayah itu tengah menertawakan wajah Ziana yang lucu.


"kalian tuh ya hobi banget ngagetin" protes Ziana.


"maaf mom" kata Attar takut jika sampai Ziana marah.


"habisnya mommy melamun sih, hayo lagi mikirin apa" ujar Arash mengedipkan matanya genit


Wajah Ziana selalu memerah setiap kali Arash memanggilnya dengan sebutan Mommy, dan kesempatan itu selalu dimanfaatkan dengan baik oleh Arash.


"kok mukanya merah sih, hayo mommy pasti mikir yang enggak-enggak kan?" tuduh Arash masih mengedipkan matanya.


"ishh apaan sih, ayo ah udah laper nih" ujar Ziana lalu bangkit dengan wajahnya yang semakin memerah bak kepiting rebus.


🌹🌹🌹


Mereka sampai di restoran yang dimaksud oleh Arash, setelah mendapatkan meja kosong, Arash memanggil waiters untuk mencatat pesanan mereka.


Selang menunggu pesanan datang, Arash dan Ziana berdiskusi tentang konsep pernikahan mereka nantinya, sementara Attar tengah fokus bermain game online di ponsel sang Daddy.


"Aku mau pesta yang sederhana namun berkesan, kalau perlu tidak usah terlalu banyak tamu, cukup orang-orang terdekat kita saja yang diundang" kata Ziana menyampaikan keinginannya.


"aku ngikut aja maunya kamu gimana, tapi kalau soal tamu kayaknya gak bisa kan kita sama-sama punya banyak kolega"


"kalau yang diundang hanya sebagian pasti yang lainnya bertanya-tanya kenapa mereka gak diundang sedangkan si A dan si B diundang" lanjut Arash.


Ziana membenarkan ucapan Arash, pasti ada beberapa yang merasa tidak enak jika yang diundang hanya sebagian.


Saat sedang asik mengobrol sedari tadi ada seseorang yang terus memperhatikan mereka.


Arash yang sangat sensitif pun menyadari bila ada yang memperhatikan.


Arash melirik kearah orang tersebut dan melihat ternyata yang duduk di sebelah sana adalah Zara ibu kandungnya Ziana, dia sedang bersama Luis.


Arash pun meminta izin untuk ke toilet bersama Attar, kemudian memberikan kode kepada Luis.


Luis langsung mengerti dengan kode tersebut, kemudian ia pun mengikuti Arash ke toilet, namun sebelumnya terlebih dahulu ia meminta Zara untuk menemui putrinya.


Arash dan Luis berpelukan layaknya seorang teman, setelah itu Arash memperkenalkan Attar kepada Luis.


"bagaimana, apakah kamu betah tinggal disini?" tanya Arash basa-basi.


"ya lumayan, disini cuacanya dingin, dan lagi makanan disini enak-enak, saya suka" jawab Luis sumringah.


"bagus kalau kau suka, apa kau tidak ada keinginan untuk menetap disini?" tanya Arash.


"lalu bagaimana dengan pekerjaanku disana" ujar Luis seraya menggeleng.


Sementara itu Zara yang sedang berjalan kearah Ziana tiba-tiba saja berhenti ketika seorang waiters datang menyajikan makanan di meja Ziana.


Zara kembali duduk di kursinya dan menunggu kepergian waiters tersebut.


Setelah waiters itu pergi Zara kembali melanjutkan niatnya untuk menemui anak yang dulu pernah ditelantarkannya.


Namun lagi-lagi Zara harus mengurungkan niatnya karena datang sepasang pria dan wanita yang menyapa Ziana.


"Zi, kamu disini" sapa Regan ketika melihat Ziana.


Regan tidak sendiri, dia datang bersama istrinya yaitu Gretha.


"lo ngapain disini" balas Ziana.


"ya mau makanlah, masa tidur ada-ada aja kamu" celetuk Regan tertawa kecil.


Sementara Ziana tidak merespon celetuk Regan.


"btw kamu sendiri? kok pesanannya banyak banget" tanya Regan lagi.


"aku bertiga sama Arash sama Attar, tapi gak tau deh mereka kemana."


"cie lagi ngedate ya" celetuk Regan lagi.


Ziana tidak menjawab, dia hanya mendengus.


"yaudah deh selamat ngedate, aku kesana dulu ya" pamit Regan seraya mengacak rambut Ziana.


Ziana berdecak "apaan sih Re.."


Regan dan Gretha berlalu dengan tawa Regan yang terdengar lirih.


Arash memperhatikan Ziana dari kejauhan dengan tangan mengepal, ia merasa tidak suka melihat kedekatan Ziana dengan Regan, meskipun dirinya tahu hubungan keduanya hanya sebatas teman.


"dad.. sampai kapan kita harus berdiri disini, Attar laper dad" protes Attar kepada sang Daddy.


"tunggu sebentar lagi ya boy"


Arash menunggu Zara untuk berbicara berdua dengan Ziana, namun wanita itu malah pergi dan menjauh dari tempat Ziana duduk.


"kenapa Tante Zara pergi?" gumam Arash bertanya kepada dirinya sendiri.


"sepertinya dia belum siap menemui anaknya" jawab Luis yang mendengar gumaman Arash.


"sebaiknya kau kembali sebelum wanita mu itu kesal, lihatlah wajahnya yang sudah memerah itu" ujar Luis menunjuk kearah Ziana dengan dagunya.


Arash mengikuti arah yang di tunjuk Luis "baiklah, kalau begitu saya kesana dulu, kau juga pergilah dan bujuk wanita mu" ucapnya dengan nada mengejek.


"sialan" celetuk Luis dibalas kekehan oleh Arash.


Setelah berpamitan Arash dan Attar pun menemui Ziana yang sudah sejak tadi menunggu.


Ziana menatap Arash dengan tatapan menyelidik, setelah mereka kembali duduk dihadapan Ziana.


Arash tersenyum kikuk melihat tatapan itu.


"mommy ayo kita makan, Attar sudah sangat lapar setelah tadi menunggui Daddy di depan toilet"


"iya sayang ayo kita mulai makan" kata Ziana memutus pandangan lasernya kepada Arash, membuat laki-laki itu bernafas lega.


Mereka menikmati makanan sore itu dengan perasaan yang berbeda-beda.


*****


Happy Reading 💞💞 💞