
Ziana menatap punggung Arash yang berjalan kearah jendela untuk mengangkat panggilan dari sekertarisnya.
"apa kah aku sudah mengambil keputusan yang tepat?" gumam Ziana tanpa melepas pandangannya dari Arash yang nampak sedang membicarakan hal serius.
Arash tiba-tiba menoleh dan tersenyum manis kearah Ziana karena menyadari bahwa sejak tadi perempuan itu terus memperhatikannya.
Ziana membalas senyuman Arash dengan canggung karena ketahuan bahwa dirinya sedang memperhatikan laki-laki itu.
Ziana mengalihkan pandangannya sambil terus berfikir apakah dirinya tidak akan menyesal nantinya.
Arash laki-laki baik, namun karena perasaan kecewa yang dirasakan Ziana kepada laki-laki itu membuat Ziana dilema dengan perasaannya sendiri.
"sayang.. lagi mikirin apa sih?" tanya Arash seraya menggoyang-goyangkan tangannya didepan wajah Ziana yang sedang melamun.
"ehh..iya kenapa?" tanya Ziana gelagapan.
Arash terkekeh melihat ekspresi dan tingkah lucu Ziana.
Sementara Ziana hanya berdecak sebal karena ditertawakan oleh Arash.
"tadi katanya ada yang mau diomongin?" tanya Arash setelah tawanya reda.
Ziana nampak gelagapan membuat Arash mengernyit heran melihat perempuan itu.
"sebenarnya aku mau ngomongin soal..
"iya soal apa?" sela Arash karena Ziana tidak kunjung melanjutkan ucapannya.
Ziana menggeleng 'enggak ini bukan waktu yang tepat' batinnya.
"aku mau ngomongin soal souvenir"
"oh..itu, apa kamu tidak suka dengan yang kita pilih kemarin?" tanya Arash.
"kalau begitu aku akan meminta pihak WO untuk mengganti souvenir nya" lanjut Arash seraya merogoh ponselnya yang berada di saku celananya.
"bukan.. bukan begitu, aku suka tapi cuma mau mastiin aja kok" bohong Ziana.
Arash yang baru saja ingin mendial kontak WO menghentikan aksinya setelah mendengar jawaban Ziana.
Laki-laki itu menatap Ziana "kalau ada yang mau kamu ubah bilang saja, tidak perlu sungkan" ucap Arash masih terus menatap Ziana, membuat perempuan itu hanya mengangguk.
"yasudah kalau begitu aku pergi dulu ya, kamu istirahat" pamit Arash sambil bangkit dari duduknya diikuti oleh Ziana.
Sebelum pergi Arash memberanikan diri untuk mencuri satu kecupan di kening Ziana, membuat wajah perempuan itu langsung memerah karena gerakan tiba-tiba Arash.
Setelah itu Arash langsung pergi sebab bawah sudah ada sekertaris Jhon yang menunggunya.
"kita mau kemana dulu tuan?" tanya sekertaris Jhon setelah Arash duduk di kursi belakang.
"kita mampir ke cafe LLC dulu" pinta Arash.
"baik tuan"
"kita sudah sampai tuan" beritahu Jhon.
"saya tahu, kamu pikir saya buta tidak melihat papan nama yang sebesar itu" gerutu Arash seraya menunjuk papan besar yang bertuliskan LLC (Long Lasting Cafe).
"salah mulu gue.." Jhon ikut menggerutu setelah melihat Arash sudah memasuki cafe tersebut.
Entah apa yang akan dilakukan tuannya ditempat para anak muda itu Jhon pun tidak tahu dan tidak mau tahu, karena merasa kesal kepada Arash yang selalu memarahinya.
🌹🌹🌹
"sayang aku mau makan rujak deh tapi belinya harus dari abang-abang" ucap Valerie sambil menatap penuh harap kepada Lucas yang berbaring di sebelahnya.
"ini sudah malam sayang, mana ada penjual rujak jam segini, besok saja ya sayang" kata Lucas balas menatap Valerie.
"tapi aku maunya sekarang.." Valerie mulai mengeluarkan suara rengekannya.
"iya tapi mau gimana udah gak ada abang-abang yang jual rujak di jam segini sayang" Lucas berusaha menjelaskan sehalus mungkin karena takut istrinya itu akan menangis lagi seperti sebelum-sebelumnya jika tidak dituruti.
"kamu yang sabar ya nak, papa udah gak sayang lagi sama kita" ucap Valerie dramatis sambil sebelah tangan mengusap perutnya seolah sedang berbicara dengan anak yang ada didalam kandungannya, membuat Lucas mendesah pelan.
"sayang.. maafin papa ya, lihat ini, papa akan pergi cariin rujak buat kamu sama mama ok" Lucas ikut mengusap perut Valerie dan mengajak anak mereka berbicara.
Valerie tidak kuasa untuk tidak tersenyum melihat sikap Lucas yang selalu menuruti keinginannya dan calon anak mereka.
"makasih papa" ucap Valerie menirukan suara anak kecil membuat Lucas gemas dan langsung memeluk Valerie dan menghadiahi istrinya itu dengan kecupan bertubi-tubi sebelum beranjak dari tempat tidur.
Lucas mengambil jaket dan kunci motornya kemudian pamit untuk pergi menjalankan tugas dari ibu negaranya.
🌹🌹🌹
Sementara di apartemennya Ziana sedang bersiap karena tadi Arash menghubunginya untuk mengajaknya keluar.
Sebenarnya Ziana malas keluar malam-malam begini namun karena laki-laki itu mengatakan bahwa setengah jam lagi akan datang untuk menjemputnya, akhirnya Ziana terpaksa bersiap ala kadarnya.
Belum sampai setengah jam Arash sudah menelponnya lagi dan mengatakan bahwa dia sudah menunggunya di lobi.
"iya sebentar lagi aku turun" ucap Ziana melalui sambungan telepon.
"hahh.. salah sendiri kenapa tiba-tiba mengajak keluar secara dadakan" gerutu Ziana setelah mematikan sambungan teleponnya secara sepihak.
Selesai mengoleskan pewarna bibir agar tidak terlihat pucat, Ziana menyambar tasnya yang berada diatas meja kemudian segera turun.
Langsung saja Ziana masuk kedalam mobil Arash kemudian menutup pintunya dengan keras, membuat Arash berjengit kaget.
Sungguh Arash benar-benar kaget dengan perbuatan Ziana, namun ia hanya diam saja karena tidak ingin membuat perempuan itu bertambah kesal padanya.
****
Happy Reading 💞💞 💞