About Ziana

About Ziana
Chapter 139



Sekitar jam 5 sore, semua orang tengah sibuk mencari mempelai pria yang tiba-tiba menghilang dari kamarnya. Sementara yang dicari masih asyik bergelut dalam mimpinya bersama sang istri, Ziana. Hingga ketukan di pintu berhasil menarik kesadaran keduanya dari alam mimpi l.


Perlahan kelopak mata Ziana terbuka. "siapa sih" gumamnya seraya mengucek mata, tanpa menoleh ke sampingnya.


"aaahhh" Ziana berteriak kaget ketika menyadari bahwa ada orang lain yang sedang bersamanya diatas tempat tidur.


Arash langsung bangun "kenapa?" serunya kaget karena mendengar teriakan nyaring dari perempuan disampingnya, begitupun orang-orang yang berada diluar kamar mereka.


"Ziana.. buka pintunya, kamu baik-baik saja kan sayang?" seru mama Arianna panik, namun sepasang manusia didalam tidak memperdulikan seruannya tersebut.


"kamu ngapain disini?" tanya Ziana waspada, sementara Arash malah terlihat bingung karena dirinya yang baru bangun tidur. "aku tidur disini" ujarnya dengan ekspresi yang biasa saja, berbeda dengan Ziana yang sudah melotot tajam.


"apa?" serunya kaget.


Arash menutup mulut Ziana menggunakan telapak tangannya "sshhh.. jangan teriak kencang-kencang" ucapnya sambil melirik kearah pintu. "kita udah resmi jadi suami istri jadi gak ada salahnya kan kalo aku tidur disini?" tanya Arash setelah melepaskan tangannya dari mulut Ziana.


Ziana terdiam mendengar perkataan Arash, perempuan itu lalu menunduk malu seraya meminta maaf "maaf" ucapnya setelah mengingat kejadian beberapa jam yang lalu, saat dimana Arash mengucapkan ijab kabul dengan lantang dihadapan papa Bagas dan para saksi yang hadir.


Arash yang merasa lucu namun juga kasihan lalu meraih kepala istrinya kemudian menempelkannya pada dada bidangnya, sambil tangannya mengusap-usap pelan kepala tersebut.


Saat keduanya larut dalam keadaan, gedoran pintu dari luar semakin terdengar kencang. Sepertinya bukan hanya 1 orang saja yang menggendor pintu namun ada beberapa orang, membuat Arash berdecak kesal.


"kamu bukain dulu pintunya, sementara aku akan sembunyi di bawah" kata Arash seraya bangkit dari duduknya, tidak lupa mengecup pucuk kepala Ziana, membuat perempuan itu tersentak kaget karena gerakan tiba-tiba yang dilakukan oleh suaminya, sungguh Ziana belum terbiasa dengan semua itu.


Setelah memastikan Arash masuk kedalam kolom tempat tidur barulah Ziana bangkit dari tempat tidurnya.


Cklek


"ada apa?" tanya Ziana sambil pura-pura menguap. "loh kamu baru bangun? terus Dimana anak nakal itu?" tanya mama Arianna sedangkan Ziana pura-pura tidak tahu.


"siapa yang mama maksud?" tanya Ziana yang pura-pura bego.


"siapa lagi, suami kamu lah"


"Tidak ada Arash disini ma, dari tadi aku sendirian" ujar Ziana berbohong, padahal dalam hatinya dia terus meminta maaf karena telah membohongi mertuanya.


"tapi tadi mama dengar kamu teriak" ucap mertuanya lagi sambil melirik kedalam kamar yang ditempati Ziana. Melihat kelakuan mertuanya itu akhirnya Ziana bergeser dan membiarkan sang mertua untuk melihat kedalam agar dia tidak curiga.


"Ma.. sudahlah sepertinya Arash memang tidak kesini, kan Ziana mengunci pintunya tadi" ucap papa yang sedari tadi hanya diam.


Sebenarnya bukan masalah bagi mama Arianna jika putranya itu tidur dikamar Ziana, toh mereka sudah resmi jadi suami istri, namun mama Arianna hanya kesal saja karena putranya tiba-tiba menghilang, sedangkan satu jam lagi acara resepsinya akan segera dimulai. Ditambah lagi dia melihat Ziana yang belum bersiap.


"ck..kemana sih anak itu" kata Arianna berdecak kesal. "yasudah mending sekarang kamu siap-siap, acara sebentar lagi akan dimulai, mama mau lanjut mencari anak nakal itu lagi" ujarnya lagi sambil tangannya mengusap pelan bahu Ziana.


"baik Ma" sahut Ziana, setelah itu mama Arianna berbalik dan pergi.


"lihat saja nanti kalau ketemu, akan mama tarik telinganya hingga putus" gumam Arianna sambil berjalan, membuat Ziana yang masih mendengarnya bergidik, setelah itu dia pun masuk kedalam kamarnya kemudian menguncinya kembali.


Arash keluar dari persembunyiannya setelah mendengar pintu tertutup "apa mama sudah pergi?" tanyanya.


"sudah..kamu juga sebaiknya cepat pergi dari sini, sebelum kita ketahuan" seru Ziana setengah mengusir.


"sayang kamu ngusir aku?" tanya Arash "iya" sahut Ziana cepat.


"kamu tega.." ucap Arash penuh drama membuat Ziana hanya memutar kedua bola matanya jengah.





Selang beberapa menit MUA itu pun pamit setelah selesai dengan tugasnya. Wanita yang duduk di kursi roda itu masih terlihat cantik meskipun di usianya yang sudah tidak muda lagi. Sehingga membuat MUA itu tidak perlu bekerja terlalu keras, hanya butuh beberapa menit saja wajah cantiknya sudah bertambah semakin cantik.



Wanita itu adalah Zara dan pria yang sejak tadi memperhatikan mereka adalah Luis.



Setelah MUA tersebut keluar, Luis pun mendekati kursi roda Zara, pria itu berjongkok dihadapan sang wanita. "are you ready?" tanyanya.



Zara hanya mengangguk pelan, dia ragu apakah anaknya akan memaafkannya atau malah sebaliknya.



"apa lagi yang kamu pikirkan?"



Menggeleng "entahlah, aku takut jika kehadiranku hanya akan merusak hari bahagia putriku sendiri" ujarnya jujur.



Luis meraih tangan wanita itu lalu menggenggamnya "apakah kamu percaya padaku?" Zara mengangguk "semua akan baik-baik saja, percayalah" ucap Luis meyakinkan, lagi-lagi Zara hanya mengangguk.



"semoga saja" ucapnya pelan.



Luis hanya tersenyum, kemudian ia bangkit "bersiaplah" ucapnya seraya memegang pegangan kursi roda yang duduki Zara kemudian mendorongnya pelan.



Sepanjang perjalanan menuju resepsi diadakan Zara terus menarik nafasnya dalam-dalam kemudian menghembuskan nya pelan, begitu seterusnya hingga tanpa disadari mereka sampai di tempat resepsi.



'*Tuhan..semoga kehadiranku tidak* **akan** *membuatnya semakin terluka*'



\*\*\*\*\*