About Ziana

About Ziana
Panggilan baru



Matahari mulai terbit, bertukar tugas dengan sang bulan untuk menyinari bumi.


Nampaknya hari ini akan cerah, tak ada tanda hujan akan turun. Namun cerahnya matahari tak membuat seorang Dita yang biasanya ceria kala melihat prakiraan cuaca yang tidak ada prediksi hujan, tak bereaksi apa-apa.


Perempuan itu terlihat murung pagi ini, bahkan lipstik yang biasanya menyala tak lagi seterang biasanya. Bagaimana tidak, sejak semalam Dita tidak bisa tidur, perempuan itu memikirkan Dian yang tak ada kabar tentang dimana keberadaan adik perempuannya itu.


Pikirannya terus tertuju kepada Dian yang menghilang tanpa jejak.


Semuanya bermula saat salah satu teman Dian menghubunginya sebab ponsel sang adik tak bisa dihubungi.


Sesampainya di rumah, Dita mencari keberadaan Dian namun Ibu Dewi berkata bahwa adiknya izin menginap di rumah temannya untuk mengerjakan tugas bersama.


Dari sana mulai muncul kecurigaan sebab orang yang menghubunginya adalah orang yang sama yang ibunya sebut sebagai pemilik rumah tempat Dian akan menginap. Namun Dita tidak berani memberitahu sang ibu, khawatir jika Ibu Dewi akan kepikiran dan membuat kesehatan wanita paruh baya itu kembali bermasalah, dan berujung di rumah sakit.


Singkat cerita, Dian menghubungi balik teman Dita untuk memastikan kecurigaannya, namun apa yang perempuan itu takutkan terjadi Dian memang tidak ada di sana, bahkan ponselnya tidak bisa dihubungi sejak pulang sekolah tadi


Dita berusaha tenang meskipun khawatir luar bisa dengan adik perempuannya, yang ia anggap polos dan kutu buku.


Bagaimana jika Dian diculik dan di perkoas setelah itu dijual, pikiran-pikiran itu yang selalu muncul dalam otaknya, meskipun mencoba ia tepis.


Ini ibukota dan banyak hal yang bisa terjadi. Di tengah kerasnya hidup di ibukota, banyak insan maupun oknum yang akan menghalalkan segala cara demi mencari sesuap nasi.


Membayangkannya saja Dita enggan, apalagi jika sampai menjadi kenyataan, pasti ayahnya akan sangat kecewa karena ia gagal melindungi sang adik, sebagaimana wasiat ayahnya sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.


Namun ditengah kekalutannya memikirkan sang adik, satu nama yang akhir-akhir ini dekat layaknya sahabat muncul dalam otaknya Dia punya banyak kenalan, pasti dia bisa membantuku batinnya tersenyum seakan mendapat secercah harapan.


Setelah berbicara melalui sambungan telepon dengan orang yang dia maksud, Dita tak tinggal diam saja, perempuan itu ikut mencari setelah memastikan ibunya telah tertidur lelap.


Kembali ke masa sekarang, saat ini Dita bingung harus berbuat apa. Jika biasanya Dita memiliki Ziana sebagai tempatnya bercerita tanpa beban, namun semenjak Ziana menikah, Dian tidak ingin lagi membebaninya, kali ini perempuan itu benar-benar sendiri, bahkan apakah Ziana akan masuk hari ini atau tidak, sekretaris tersebut tak tahu.




Berbeda dengan sekretaris Dita yang murung, hal sebaliknya justru dirasakan oleh Attar.



Senyum bocah laki-laki itu tidak pernah luntur sejak awal naik ke mobil hingga sampai didepan gerbang tempatnya menimba ilmu.



Bagaimana tidak, untuk pertama kali setelah Daddy-nya menikah lagi, Attar diantar oleh orang tua lengkap, seperti teman-temannya.



Kerap mendapat perundungan dari teman sekelasnya sebab tidak memiliki orang tua lengkap, membuat Attar menjadi tertutup dan pendiam. Namun hari ini bocah itu nampak berbeda.



Attar seolah ingin menunjukkan pada semua orang bahwa ia juga memiliki ibu hebat seperti mereka, Attar ingin membungkam mulut-mulut jahat yang selalu menghinanya.



Dengan diapit oleh kedua orangtuanya, Attar melangkah pasti menuju kelas, semua mata tertuju pada keluarga kecil itu.



Bagaimana tidak, si kecil Attar yang memiliki paras tampan saja sudah membuat para guru heboh sejak pertama kali bersekolah, dan sekarang ada Arash yang tampan, gagah dan berwibawa ditambah Ziana yang teramat cantik, lembut, dan dari caranya berjalan terlihat berkelas, sungguh keluarga yang sangat sempurna, bukan.



"thanks Dad, Momzi sudah mau anterin Attar sampai kelas" ucap Attar tersenyum, menampilkan giginya yang putih dan rapi.



"its ok, anything for you boy" ucap santai Arash sambil mengacak pelan rambut Attar.



Biasanya bocah laki-laki itu akan marah jika sang Daddy melakukan hal demikian, tapi kali ini justru sebaliknya, Attar nampak senang dengan perlakuan Arash.




Setelah itu mereka pun pamit, karena Arash masih harus mengantar Ziana ke Callista Group terlebih dahulu sebelum ke kantornya sendiri.



"padahal tidak perlu mengantarku juga tidak masalah, by, aku bisa berangkat sendiri" entah sudah berapa kali Ziana mengucapkan kalimat itu, membuat Arash gemas saja dengan sikap cerewet tiba-tiba, istrinya itu.



Arash menarik sudut bibirnya mendengar panggilan yang diberikan Ziana untuknya, meskipun sebenarnya Arash yang memaksa Ziana untuk memanggilnya Hubby.



Meski Ziana menolak pada awalnya, namun setelah perdebatan panjang akhirnya wanita itu mengalah dan mengikuti permintaan sang suami.



"Sayang.. harus berapa kali sih aku bilang? kamu cukup duduk manis, dan aku akan mengantarmu kemana pun kau mau" ucap Arash lembut, dengan tangan yang sesekali menggenggam tangan sang istri.



Ziana mendesah pelan, tidak ada gunanya berdebat dengan Arash, karena pria itu selalu punya jawaban untuk membalas semua ucapannya, jadi mengalah adalah pilihan terbaik.



Perempuan itu merogoh tas tangannya demi mengambil ponsel, lebih baik ia mengecek kerjaan daripada berdebat, hal yang sebenarnya tidak terlalu penting.



Arash melirik, laki-laki itu tersenyum, memperhatikan sang istri yang selalu membuatnya jatuh cinta setiap harinya oleh wanita itu.



Waktu terasa cepat berlalu, hingga kini keduanya tiba di kantor Ziana. Setelah berpamitan kepada sang suami, wanita itu lalu turun, melambaikan tangan hingga mobil Arash melesat, membelah jalanan kota.



"selamat pagi, Bu" sebuah ucapan yang selalu Ziana dengar, mulai dari loby hingga naik ke ruangannya.



Namun sebelum benar-benar masuk kedalam ruangannya, wanita itu menghentikan langkahnya, menoleh memperhatikan sang sekretaris Dita yang nampak murung, tidak seperti Dita yang ia kenal.



"Heeemmm..." Biasanya sekretaris Dita akan bereaksi hanya dengan mendengar suara deheman Ziana. Tapi kali ini jiwa perempuan itu seakan tak berada ditempat.



"ANANDITA.." dan percobaan kedua berhasil, akhirnya sekretarisnya itu bereaksi



"eh..ayam.. ayam..ayam" entah karena terlalu asyik melamun atau apa, sekretaris Dita tiba-tiba jadi latah, sehingga membuat Ziana tidak mampu menahan tawanya.



Tanpa sadar, tawa wanita itu pecah, beruntung di sana hanya ada mereka berdua sehingga Ziana tidak perlu merasa khawatir jika ada karyawannya yang akan melihat.



"Aseeemmm... Tau ah kakak gak asik" celetuk Dita seraya mendudukkan dirinya kasar, dengan bibir yang mengerucut, tanda bahwa perempuan itu tengah kesal saat ini. Sekretaris Dita bahkan melupakan sikap formalnya, saking kesalnya.



"hahahaha" namun Ziana hanya tertawa tanpa dosa, tanpa memperdulikan tatapan sang sekretaris yang sedang menatap marah.