About Ziana

About Ziana
Chapter 114



"Bagaimana keadaannya dok?" tanya orang tersebut saat dokter yang menangani Ziana baru saja keluar dari ruang IGD.


"apa anda keluarga pasien?" tanya dokter memastikan.


Tidak punya pilihan lain orang itu mengangguk saja.


"untuk saat ini tidak ada yang perlu di khawatirkan" jawab dokter tersebut dengan tenang.


"tapi dia alergi dengan air hujan dok, dan juga kepalanya tadi sempat terbentur"


Dokter tersebut tersenyum tipis sebelum menjawab "saya mengerti bahwa pasien memiliki alergi yang sangat jarang ditemui, namun untuk saat ini tidak ada yang perlu di khawatirkan, tubuhnya sudah di bersihkan oleh suster, dan kami juga sudah memberinya obat, dalam waktu 30-45 menit ruam nya akan reda" ujar dokter menjelaskan panjang lebar.


"tapi bagaimana dengan kepalanya?"


"kita akan menunggu pasien sadar dulu baru bisa memeriksanya lebih lanjut, apakah lukanya fatal atau tidak"


Setelah menjelaskan, dokter tersebut terlihat melirik arloji nya "jika tidak ada lagi yang ingin di tanyakan saya ijin pamit, permisi" ujarnya.


"silahkan dok, dan terimakasih"


Dokter tersebut hanya menjawab dengan anggukan dan senyum singkat kemudian berlalu pergi dari sana.


🌹🌹🌹


Ziana sudah dipindahkan ke ruang rawat, dan orang tersebut masih setia menunggunya di sana.


"eeennghh" terdengar lenguhan panjang dari Ziana, menandakan bahwa perempuan itu telah siuman.


Orang tersebut langsung bangkit dan menghampiri Ziana "udah sadar? disebelah mana yang sakit?" tanyanya secara beruntun.


"ngapain lo disini?"


"gue disini karena khawatir"


Ziana tersenyum miring "setelah semua yang lo perbuat, lo masih bisa khawatir" ujarnya.


orang tersebut menunduk "gue tau gue salah dan gak pantas mendapat maaf dari lo dan semuanya" akunya.


"bagus kalau lo sadar" sarkas Ziana.


Orang itu tersenyum getir "karena lo udah sadar, gue pamit." ucapnya seraya memutar badannya membelakangi Ziana.


Ziana tidak mengucapkan apapun, ia hanya berdehem.


Setelah orang itu menghilang di balik pintu, Ziana menghela napas berat.


Ziana kembali menangis setelah mengingat banyak kejadian hari ini yang cukup menguras tenaga dan emosinya, belum lagi pertemuannya dengan orang itu, dan juga sensasi rasa gatal, nyeri dan panas yang telah lama tidak pernah dirasakannya kini kembali terasa akibat alerginya yang kembali kambuh setelah sekian lama, menjadi pelengkap penderitaannya hari ini.


🌹🌹🌹


Sementara itu setelah mendapat support dari mama Arianna, kini Arash kembali menyusuri jalanan yang mungkin saja dilewati Ziana.


Arash sangat berharap bahwa perempuan itu baik-baik saja.


Matahari telah bertukar posisi dengan sang bulan, bahkan hujan deras pun telah reda, namun Arash tidak juga menemukan tanda-tanda keberadaan Ziana.


Sejak tadi siang nomor Ziana tidak bisa dihubungi, jadi Arash memutuskan untuk menghubungi sekertaris Dita untuk menanyakan apakah Ziana ada dikantornya atau tidak.


("halo") sapa sekertaris Dita di seberang sana.


"halo sekertaris Dita.." sapa Arash balik.


("iya pak saya, ada yang bisa saya bantu?")


"anu..kamu dimana?" tanya Arash lagi.


"sebelum pulang tadi, apa kamu sempat bertemu dengan Ziana?"


("tidak, bukannya bos sedang ada janji dengan anda tadi siang?")


"oh.. baiklah kalau begitu, saya tutup"


("tunggu pak.. ini ada apa sebenarnya? apa kalian sedang ada masalah?")


"panjang ceritanya, saya tutup dulu, saya mau lanjut nyari Ziana.."


Tut..


Arash mematikan sambungan teleponnya secara sepihak.


Laki-laki itu kembali menyalakan mesin mobilnya dan lanjut mencari Ziana, Arash sudah berjanji kepada mama Arianna untuk menemukan calon menantu mamanya tersebut, dan menjelaskan kesalahpahaman mereka tadi siang.


Saat sedang fokus berkendara notifikasi pesan masuk membuat Arash menepikan mobilnya.


(Rumah sakit Medistra ruangan mawar kamar VIP no 27. Orang yang lo cari ada disana).


"siapa sih yang ngirim pesan kayak gini" gumam Arash seraya menggeleng.


Arash memilih tidak percaya, karena jaman sekarang sedang marak penipuan yang serupa dengan apa yang dialami Arash kini.


Namun orang tersebut kembali mengirim sebuah foto.


Deg


Jantung Arash seolah berhenti berdetak ketika melihat photo yang dikirimkan oleh orang misterius itu.


"nggak..nggak mungkin.." Arash berusaha untuk tidak percaya dengan photo tersebut, namun nalurinya tidak bisa dibohongi.


Arash memutar balik arah dan segera menuju ke alamat yang dikirimkan oleh sosok misterius itu.


🌹🌹🌹


Ternyata orang misterius yang mengirim pesan kepada Arash adalah orang yang sama yang membawa Ziana ke rumah sakit, dan orang itu adalah Agler.


Saat ini Agler sedang memperhatikan mobil Arash yang sudah pergi setelah dia mengirimkan photo Ziana yang sempat diambilnya di rumah sakit ketika perempuan itu masih belum siuman.


"kamu sudah melakukan hal yang benar" ujar seseorang yang duduk disebelahnya yang tidak lain adalah kakek Abian.


Agler tidak menjawab, pria itu menghidupkan mesin mobilnya dan mulai membelah jalanan yang masih basah setelah hujan mengguyurnya.


Pasti kalian bertanya-tanya, bagaimana bisa Agler tiba-tiba bersama dengan kakek Abian kan?


Oke kita flashback satu jam yang lalu.


Saat itu kakek Abian baru saja menjenguk teman lamanya yang kebetulan di rawat dirumah sakit yang sama.


Tidak sengaja kakek Abian melihat cucunya itu saat sedang mengurus berkas dan administrasi Ziana, jadi kakek Abian mengikutinya, dan mendapati Agler memasuki sebuah ruangan VIP.


Karena penasaran akhirnya dia mengintip, dan mendapati perempuan yang sangat dikenalnya, yaitu Ziana sedang terbaring di brankar dalam keadaan tidak sadarkan diri dan merah-merah di bagian tubuhnya.


Kakek Abian mendengar semua obrolan antara cucunya dan Ziana, mantan muridnya.


pria yang sudah tidak muda lagi itu akhirnya menunggu hingga Agler keluar untuk menghibur cucunya.


Flashback Off.


***


Happy Reading 💞💞 💞