
Ziana memutar otak untuk bisa menyusul ke alamat yang sudah Bryan kirimkan tanpa membuat sang mertua curiga.
Wanita itu tidak ingin membuat mama dan papa mertuanya khawatir jika dirinya jujur, bahkan hal yang tidak Ziana inginkan yaitu tidak mendapat izin untuk pergi sudah pasti akan terwujud jika ia memberi tahu yang sebenarnya.
Sebelum melangkahkan kakinya menuju ruangan Aruna, terlebih dahulu wanita itu mengirim pesan kepada sang suami tentang rencananya untuk menyusul tanpa ketahuan, tentu saja.
Drrtt..drrtt..
"pesan dari siapa?" mama Arianna memperhatikan gerak-gerik Arash yang tampak mengepalkan tangannya setelah mengecek ponsel.
"bukan dari siapa-siapa kok, Ma"
"Dari Siapa??" nada bicara mama Arianna sudah mulai naik 1 oktaf membuat Arash mengelus dadanya pelan
"dari..dari jasa pinjaman online, Ma, akhir-akhir ini tuh banyak banget pesan random kayak gitu" suara Arash bergetar karena tidak biasa berbohong kepada sang mama, meski yang dia katakan mengenai pesan random memang benar ada dan sering dia alami.
Mama Arianna menatap Arash untuk memastikan bahwa putranya mengatakan yang sesungguhnya, beruntung Ziana segera masuk dan membuat sang mama melupakan pertanyaan dan kecurigaannya barusan.
Ziana melirik suaminya seolah memberi kode untuk memulai rencananya. Arash yang sudah mengerti harus melakukan apa, langsung saja berdiri "kenapa sayang? apa sudah ketemu pelakunya?" tanyanya sambil berjalan menghampiri sang istri.
Wanita itu menggeleng dan memasang wajah sedih, Arash dengan sigap merengkuh tubuh mungil Ziana kedalam pelukannya modus teruuuss Ziana mendengus kesal dalam hati.
"pelaku apa yang kalian bicarakan?" akhirnya papa Arnan yang sejak tadi diam di sisi Aruna, ikut menimpali.
"eemmm..itu Pa, di kantor Zizi ada seorang mata-mata yang telah mencuri data-data perusahaan, tapi sampai sekarang pelakunya masih belum tertangkap" jelas Arash
"benar seperti itu, Zi?" sela sang mama yang seolah tidak percaya dengan cerita Arash.
"Iya Ma, Pa, ini juga sekalian Zizi mau pamit untuk ke kantor"
"kalian berdua pergilah ada papa sama Mama disini yang jagain Aruna, Arash temani istri kamu" ucap papa Arnan bijak, dan meminta sang putra untuk menemani Ziana. Sebagai sesama pebisnis, papa Arnan mengerti bagaimana perasaan menantunya.
"siap, Pa" dengan sigap Arash menjawab.
"terimakasih Pa, Ma"
Keduanya pun berlalu usai berpamitan
Papa Arnan menatap punggung anak dan menantunya hingga hilang di balik pintu 'Ya Tuhan, kenapa begitu banyak cobaan yang datang bertubi-tubi menimpa keluarga kami. putriku bahkan belum sadar, cucuku belum ditemukan keberadaannya, dan sekarang menantuku pun kau uji' keluhnya dalam hati karena Benny belum menemukan jejak penculik yang telah menculik cucunya.
Mama Arianna yang sengaja tidak diberi tahu perihal cucu kesayangannya yang sedang diculik, memang terlihat lebih tenang, tidak se-khawatir suaminya.
-
-
"jangan terlalu dipikirkan sayang, kita berbohong juga demi kebaikan bersama" sejak keluar dari ruangan Aruna hingga meninggalkan pelataran rumah sakit Arash terus berusaha menenangkan istrinya yang merasa bersalah setelah membohongi kedua mertuanya.
Meski terlihat dingin, namun sebenarnya Ziana memiliki hati yang lembut dan hangat, apalagi jika menyangkut dengan keluarganya.
"atau kita pulang saja dan tidak usah menyusul Bryan ke lokasi?" ujar Arash asal ceplos saja sebenarnya.
Plak
"aaauuuuhhh.. sakit yang" Arash mengeluh sambil memegangi bibirnya yang menjadi korban kekesalan sang istri.
Tidak terima dengan pernyataan Arash, wanita itu langsung saja memukul mulut suaminya yang suka berbicara semaunya Enak saja, udah berbohong sejauh ini masa pulang, omelnya dalam hati, melirik kesal suaminya yang sedang mengusap bibir.
"ya kan niat Mas baik sayang, biar kamu gak merasa bersalah terus-menerus" seloroh Arash yang tentu saja tidak pernah mau jika dirinya disalahkan.
"yasudah kalau mas mau pulang, tapi turunkan aku disini" entah harus dengan kalimat apa agar suaminya berhenti membuatnya kesal.
"tidak kok sayang..kan kita akan menyelamatkan putra kita sama-sama" Ziana hanya mendelik mendengar ucapan manis suaminya.
"yasudah cepetan ngebut, Bryan dan yang lain sudah hampir sampai di lokasi"
"siap kapten, pegangan, Attar.. we come.." Arash langsung tancap gas setelah memberi aba-aba.
_________________________
"detak jantung pasien yang diruang VVIP melemah" beritahu salah seorang suster yang memang ditugaskan untuk menjaga pasien tersebut melalui alat yang bernama Call nurse
Tidak sampai 1 menit para suster dan seorang dokter segera masuk kedalam ruangan VVIP tersebut.
"siapkan pacemaker (alat kejut jantung) titah dokter setelah memeriksa kondisi pasien tersebut.
tiiiitt
Setelah beberapa saat terdengar helaan nafas berat dari sang dokter, bahkan terlihat butiran-butiran keringat yang membasahi kening dokter tersebut "innalilahi wa innailaihi Raji'un.. dimana keluarga pasien? kita harus menyampaikan kabar duka ini" meski bukan kali pertama, tapi tetap saja menyampaikan kabar duka kepada keluarga pasien merupakan hal yang berat bagi setiap dokter.
"maaf dok, tapi dari kemarin tidak ada keluarga maupun kerabat yang menemani, beliau hanya menitipkan surat ini untuk keluarga pasien yang tempo hari ia donorkan darahnya" jelas suster yang menjaga sambil memberikan surat yang dimaksud.
dokter tersebut mengangguk dan meraih surat yang di ulurkan "terimakasih sus" ucapnya kemudian meninggalkan ruangan.
~
~
~
Di ruangan berbeda, Aruna telah sadar dan membuka matanya tepat beberapa saat setelah Arash dan Ziana pamit pergi.
Setelah di periksa oleh tim medis, baik Mama Arianna dan Papa Arnan saling berebut untuk bisa memeluk kembali putri mereka yang telah berhasil melalui masa-masa kritisnya, kedua insan itu bahkan meneteskan air mata saking bahagianya.
Namun kebahagiaan itu tidak bertahan lama ketika seorang dokter masuk membawa berita duka beserta sebuah surat.
"apa ini, dok?" papa Arnan bertanya karena tidak begitu paham.
"sebelumnya maaf jika berita ini akan mengejutkan anda dan keluarga..."
"beberapa menit yang lalu seorang pria tua yang semalam dengan suka rela menjadi pendonor darah bagi putri anda, telah menghembuskan nafas terakhirnya"
Jedeerrr
Aruna bagai disambar petir mendengar berita tersebut. Demi menyelamatkan nyawanya, seseorang justru harus kehilangan nyawanya sendiri.
Di tempatnya berbaring, gadis itu menangis dalam diam, meratapi takdir yang telah Tuhan berikan padanya. Bahkan jika di suruh memilih, mungkin sedari awal Aruna akan lebih memilih untuk tidak diselamatkan, jika tahu bahwa sang pendonor yang akan kehilangan nyawa karena dirinya.
Karena diriku seseorang kehilangan nyawanya, tuhan, apakah aku adalah seorang pembun*h??
Sang dokter tersebut menghampiri Aruna yang menangis "kata suster, beliau menitipkan surat ini untuk anda.. permisi.." pamitnya setelah meletakkan surat tersebut tepat di samping Aruna yang terlihat sesenggukan karena tangisnya.
******