About Ziana

About Ziana
Chapter 36



Beberapa hari berlalu setelah kejadian Leon di keroyok oleh Gerald dan gengnya. Kini cowok itu berlatih keras ilmu beladiri. cowok itu tidak ingin kejadian beberapa hari yang lalu terulang lagi, dirinya tidak ingin menjadi pecundang untuk sang kekasih.


Di tengah padatnya jadwal sekolahnya dan juga waktunya yang tersita untuk bekerja sepulang sekolah, namun cowok itu tetap latihan ilmu beladiri sehabis bekerja. Bahkan terkadang juga ketika sedang tidak banyak pelanggan Leon sesekali berlatih di tempat kerjanya.


Saking seriusnya berlatih Leon kadang lupa untuk menghubungi sang kekasih.


Hal itulah yang membuat Aruna sering uring-uringan sendiri baik di sekolah maupun ketika berada di rumah. sama seperti saat ini, karena kelakuan Leon yang jarang sekali mengabarinya Aruna sampai tidak sengaja membentak keponakannya Attar yang sedari tadi rewel meminta untuk menghubungi aunty Zi.


"Aunty jahat Attar benci sama Aunty" teriak Attar dengan air mata yang hampir tumpah. Setelah itu berlari dari kamar sang Aunty.


"Attar.. sayang maafin aunty, aunty gak bermaksud untuk membentak mu" Ucap Aruna di penuhi rasa bersalah yang kentara, dengan cepat gadis itu mengejar sang keponakan.


"lepasin..Attar gak mau sama Aunty" teriak Attar saat Aruna berhasil memegang pergelangan tangannya, diikuti dengan lelehan air mata yang jatuh membasahi pipinya.


"sayang dengerin aunty dulu"


"gak mau aunty jahat" sentaknya berusaha melepaskan diri dari cekalan tangan Aruna.


"sayang.. Aunty gak sengaja" Aruna memelas di hadapan bocah laki-laki itu berharap sang keponakan mau memaafkannya.


Namun Attar tidak mau terpengaruh dengan nada memelas Aruna. Di hentakkan nya tangan Aruna yang memegang pergelangan tangannya hingga terlepas.


Kemudian bocah laki-laki berlari menjauhi Aruna yang masih berusaha meminta maaf. Gadis itu benar-benar merasa bersalah karena telah membentak keponakannya.


Mama Ariana yang tidak sengaja berpapasan dengan sang cucu pun menegur cucunya itu dengan suara yang di buat selembut mungkin.


"Attar sayang.. kamu kenapa nangis? siapa yang udah jahatin kamu sayang" heboh Ariana ketika melihat sang cucu menangis


Sedangkan yang di tanya hanya berlalu begitu saja tanpa menjawab pertanyaan sang Oma. membuat Ariana mengernyit bingung dengan sikap cucunya yang tidak biasa itu.


"loh.. Attar.. jangan lari sayang nanti kamu jatuh" teriak Ariana panik melihat tingkah ajaib cucu satu-satunya itu.


"Ma udah jangan teriak-teriak" tegur Aruna yang berdiri tidak jauh dari tempat Ariana.


"itu anak kenapa sih, Ar" tanya Ariana.


Aruna mendekat kearah Mama "Attar marah sama Aruna mam" paparnya dengan wajah lesu.


"kok bisa.. kan kalian dekat banget" tanya Ariana dengan wajah bingung.


ditanya seperti itu Aruna hanya menghela nafas panjang. "Aruna salah ma, Aruna gak sengaja membentaknya" ucapnya menunduk.


"udah biarin aja dulu, nanti juga baik lagi kok" ucap Ariana, wanita itu tahu banget sifat cucunya.


Aruna lagi-lagi menghela nafas kemudian mengangguk.


"Aruna gapapa kok ma" gadis itu mendongak sambil berusaha tersenyum kepada sang mama.


Mama Ariana tertawa, membuat Aruna menatapnya bingung.


"kamu tuh gak bisa bohongin mama, kamu lupa, 9 bulan kamu di perut mama." ujar Ariana menunjuk perutnya sendiri.


Aruna langsung memeluk mama Ariana, "mama benar, Aruna gak bisa bohong sama mama" tutur Aruna menyusupkan kepalanya ke leher sang mama mencari kenyamanan.


"jadi.."


"Aruna lagi sedih ma, pacar Aruna gak ada ngabarin Aruna. di sekolah juga gak ada nyamperin sama sekali" adunya seperti anak kecil.


tangan Mama Ariana tidak lepas membelai bahu anak gadisnya itu tanpa mengatakan apapun, mama Ariana ingin memberikan waktu untuk Aruna mengeluarkan semua beban yang ada di hatinya.


"kalo Aruna punya salah seenggaknya bilang, jangan buat Aruna pusing sendiri. hiks..hiks" akhirnya air mata yang sedari beberapa hari di tahannya tumpah juga membuat mama Ariana tidak tega melihat anak gadisnya menangis.


"sshhh.. udah sayang, kalo ada masalah di omongin baik-baik. kalau laki-lakinya gak nyamperin, kan bisa Aruna yang nyamperin duluan, terus tanya baik-baik" ucap mama Ariana menasehati.


"tapi kan Ariana cewek ma, malu lah nyamperin duluan, lagian kan di sekolah kita backstreet"


"terus kalo cewek kenapa, mama kasih tau ya, laki-laki itu kadang punya rasa tidak percaya diri, apalagi kalau dia udah tau latar belakang keluarga kita. jadi kita sebagai perempuan gapapa agresif sekali kali, daripada di pendam sendiri bikin sakit hati." ujar mama Ariana panjang lebar mengemukakan pendapatnya.


Aruna melerai pelukannya. "udah jangan nangis lagi, bukan anak mama ah kalo cengeng gini" gurau mama Ariana sembari menghapus lelehan air mata yang membasahi pipi sang anak.


"mama.." rengek Aruna manja.


"haha iya iya mama bercanda, udah dong jangan nangis lagi, mending kamu hubungi pacar kamu itu, ajak ketemu sekalian kalo perlu tapi gak boleh jauh-jauh"


Aruna mengangguk "makasih ya ma" ucapnya sambil mengecup pipi sang mama.


"ya udah Aruna balik ke kamar dulu ya ma" pamitnya kepada sang mama tercinta.


Mama Ariana mengangguk.


"nanti kalo udah baikan jangan lupa kenalin sama mama ya" teriak mama Ariana iseng ketika Aruna sudah beberapa langkah meninggalkannya.


"siap komandan, doain ya" seloroh Aruna membalas gurauan sang mama. kemudian berbelok ke arah pintu kamarnya.


Mama Ariana akhirnya bernafas lega melihat anak gadisnya itu kembali tersenyum.


*****


Happy Reading 💞💞