
Keesokan harinya pagi-pagi sekali Attar sudah bangun. Bocah laki-laki itu sudah rapi rapi dan wangi.
Kaki kecilnya mulai berjalan menuju kamar daddy nya yang bersebelahan dengan kamarnya. Setelah sampai didepan kamar Arash, tangan kecil Attar lalu mengetuk daun pintu seperti yang dilakukannya semalam.
Namun sama seperti semalam, pagi ini pun pintu kamar itu tidak terbuka.
Dengan inisiatifnya Attar mendorong pintu kayu tersebut dengan sekuat tenaga dan..
Terbuka
Melihat pintu itu terbuka Attar tersenyum senang, dengan cepat dia berlari masuk, namun langkahnya terhenti saat tidak melihat seorangpun didalam kamar kedua orangtuanya.
Attar berbalik, dia mengira bahwa Momzi nya sudah turun bersama sang Daddy, ia kemudian memutuskan untuk kebawah.
"Momzi..Momzi.." teriaknya mengundang perhatian seluruh anggota keluarga.
"eh.. cucu Oma sudah bangun" sapa Arianna.
"Oma..Oma liat Daddy sama Momzi?" bukannya menjawab Attar malah balik bertanya kepada Arianna yang sedang berada di dapur untuk menyiapkan sarapan.
"ee..enggak.." jawabnya gugup, "emangnya ada apa kok Attar nyari Daddy sama Momzi pagi-pagi begini?" tanya Arianna lagi sambil berjalan mendekati Attar.
"mau ngasih hadiah ini sama Momzi" ucapnya seraya mengangkat paper bag yang dari tadi dibawanya
Arianna menghela nafas "sini duduk dulu" ucapnya menarik kursi dan meminta Attar untuk duduk disana. Dengan patuh Attar mengikuti permintaan Arianna.
Setelah duduk, Arianna mengambilkan roti yang sudah diolesi dengan selai coklat kesukaan Attar, lengkap dengan segelas susu "sarapan dulu yuk setelah itu Oma kasih tahu dimana Daddy dan Momzi" ucap Arianna yang ikut duduk di kursi samping kanan Attar.
Attar mengangguk kemudian mulai melahap roti dan juga susunya dengan cepat.
Sedangkan Arianna memperhatikannya dengan perasaan bersalah.
"sudah Oma" seru Attar setelah roti dan susunya tandas.
"eh.. wah hebat banget cucu Oma" ujar Arianna tersenyum.
"momzi sama daddynya mana Oma?" tanya Attar yang tidak melupakan tujuannya.
Kembali Arianna menghela nafas yang terdengar berat sebelum menjawab pertanyaan dari sang cucu. "eemm.. sebelum itu Oma mau nanya dulu boleh?"
Meskipun sempat mengernyit namun Attar tetap mengangguk.
"Attar keberatan tidak kalau misalnya Attar punya adik?" tanya Arianna dengan sangat hati-hati.
Bocah laki-laki itu nampak berfikir sejenak "adik?" ulang Attar, yang langsung dijawab anggukan kepala oleh Arianna "iya adik"
"adik untuk apa Oma?" tanya Attar bingung karena sebelumnya tidak pernah ada pembicaraan seperti ini di rumah mereka.
"biar Attar ada temen mainnya dirumah" sahut Aruna yang tiba-tiba muncul dari arah belakang.
Attar terlihat berfikir sebentar, bocah itu terlihat mengangguk-angguk "Attar mau, tapi adiknya harus cowo, Attar gak mau adik cewe apalagi yang seperti Zoey" ujarnya sambil mengingat si kecil Zoey.
"memangnya kenapa sama Zoey?" tanya Aruna dengan wajah heran.
"ishh.. aunty dia itu manja, cengeng terus banyak maunya, Attar gak suka" sahut Attar dengan ekspresi kesalnya ketika mengingat gimana rewelnya Zoey kepadanya tempo hari.
Aruna tersedak oleh air yang diminumnya mendengar kekesalan Attar kepada gadis kecil yang bernama Zoey, yang merupakan adik kecilnya Ziana.
"Nah karena Attar sudah setuju buat punya adik, gimana kalau sekarang kita telpon Daddy sama Momzi" ujar Arianna.
"emangnya Daddy kemana?" tanya Attar dengan raut bingung, sebab ia memang belum tahu keberadaan kedua orangtuanya.
"nanti kamu akan tahu sendiri, sekarang kita telpon mereka dulu" ucap Arianna yang hanya diangguki oleh keduanya.
Sementara itu disebuah Villa terlihat sepasang suami istri yang masih bergelut didalam selimut dengan posisi yang saling memeluk.
Keduanya masih kelelahan setelah penyatuan mereka tadi malam.
Ya, Arash telah mendapatkan haknya sebagai suami dari Ziana, yang dengan suka rela dan tanpa paksaan apapun. Dan proses penyatuan itu baru berakhir saat jam 3 pagi, itulah sebabnya yang membuat keduanya masih berada di alam mimpi saat matahari sudah bersinar terik.
Suara dering ponsel Arash membuat Ziana yang peka terhadap suara langsung terbangun dari tidur lelapnya.
Perlahan kelopak mata dengan bulu yang lentik itu terbuka, saat kedua kelopak mata itu telah terbuka sepenuhnya, Ziana lalu meraba perutnya yang terasa seperti ditimpa sesuatu yang berat.
Hal itu sontak membuat wajah Ziana menjadi panas dan memerah.
Saat masih sibuk dengan pikirannya, suara dering ponsel Arash kembali terdengar sehingga membuat Ziana tersadar dari pemikirannya.
Ziana berniat meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas samping Arash namun tidak bisa, karena bagian bawah tubuhnya terasa sakit dan perih
"Aaawww.." pekik Ziana agak keras hingga membuat Arash yang masih tertidur langsung membuka matanya cepat.
"kenapa sayang?" tanyanya lembut sambil menatap sang istri dengan penuh cinta.
Ziana tidak melihat tatapan Arash karena sedang memejamkan matanya seraya menggeleng pelan "aku gapapa.. itu ponsel kamu bunyi terus" ucapnya meringis pelan.
"biarkan saja.." jawab Arash masih terus menatap Ziana lekat, karena ia merasa khawatir.
"apakah itu mu sakit?" tanya Arash kembali setelah melihat Ziana sudah kembali membuka mata
Ziana hanya mengangguk pelan, dengan wajah yang merona karena malu akibat pertanyaan yang dilontarkan Arash.
"maafkan aku.." ucap Arash dengan ekspresi wajah yang terlihat bersalah dan menyesal.
Ziana tidak menjawab iya hanya mengangguk sambil tersenyum.
Untuk yang kesekian kalinya ponsel Arash kembali berbunyi. Dengan malas Arash meraih ponsel tersebut dan melihat siapa yang telah berani mengganggunya.
Ziana menatap Arash dengan pandangan yang seolah bertanya 'siapa'
"mama video call.." ucap Arash santai, berbeda dengan Ziana yang sudah melotot panik begitu mendengar kata video call.
"jangan..tunggu.." pekik Ziana yang langsung menghentikan pergerakan tangan Arash yang ingin menggeser tombol hijau.
Arash menatap Ziana bingung.
"baju.." kata Ziana yang membuat Arash tersadar bahwa saat ini mereka sedang tidak menggunakan apapun, kecuali selimut yang mereka gunakan untuk menutupi tubuh.
Buru-buru Arash turun dari ranjang dan memungut pakaiannya dan milik Ziana yang berserakan di lantai.
Setelah memberikan pakaian Ziana, dan juga menggunakan pakaian miliknya, Arash segera berjalan menuju balkon kamarnya untuk mengangkat panggilan dari sang mama yang pasti akan mengomel karena sudah membuatnya menunggu terlalu lama.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...