
Arash tiba di perusahaan Callista Group saat jam menunjuk angka 12.
Karena sudah sering datang, semua karyawan Ziana sudah mengenali wajah Arash, yang merupakan calon suami dari atasan mereka, hingga Arash pun langsung dipersilahkan untuk naik keruangan Ziana.
Saat tiba didepan pintu ruangan Ziana, Arash melihat sekertaris Dita yang sepertinya juga ingin masuk kedalam ruangan Ziana.
Sekertaris Dita terlihat membuka pintu ruangan Ziana namun secepat mungkin kembali mundur dan menutup pintu itu lagi.
"kenapa tidak jadi masuk?" tanya Arash yang tiba-tiba saja sudah berada dibelakang sekertaris Dita dan membuatnya kaget.
"ehh copot.." latah sekertaris Dita karena kaget. "pak Arash maaf.." ujarnya tertunduk malu dihadapan calon suami dari bosnya.
"saya tanya kenapa tidak jadi masuk" Arash mengulangi kembali pertanyaannya tadi.
"ohh itu.. Bu Ziana sedang tidur, jadi saya tidak ingin mengganggunya" jawab sekertaris Dita dengan lugas. "kalau begitu saya permisi pak" pamitnya kemudian yang hanya dijawab anggukan oleh Arash.
Setelah sekertaris Dita berlalu ke meja kerjanya dan meletakkan kembali berkas yang ingin dia antar keruangan Ziana, setelahnya perempuan itu pergi, mungkin ingin mencari makan karena saat ini memang sudah jam istirahat.
Arash pun memutuskan untuk masuk saja keruangan Ziana, karena ini jam istirahat jadi Arash ingin mengajak perempuan itu untuk makan diluar bersamanya.
Cklek
pintu terbuka, Arash pun melangkahkan kakinya perlahan, ia lalu duduk di sofa yang ditempati tidur oleh Ziana,Arash duduk disebelah kaki Ziana.
Laki-laki itu tersenyum sambil memperhatikan Ziana yang terlihat nyenyak, cukup lama Arash diposisi itu, hingga akhirnya dia berpindah tempat dan berjongkok tepat di dekat kepala Ziana yang kebetulan tidur menyamping.
Lagi-lagi Arash tersenyum, namun hanya sesaat, karena jam istirahat tinggal sebentar lagi, jadi mau tidak mau Arash terpaksa membangunkan Ziana.
"sayang.." panggil Arash dengan pelan dan lembut, namun tidak ada pergerakan dari seorang Ziana.
Kembali Arash memanggil untuk yang kedua kalinya "sayang.." ucapnya lembut seraya menggoyangkan bahu Ziana pelan.
mungkin karena efek obat sakit kepala yang tadi diminumnya, Ziana sama sekali tidak terganggu, hingga panggilan keempat disertai dengan guncangan ditubuhnya yang sedikit keras, membuat Ziana akhirnya bangun juga.
"eeennghh.. apa sih.." keluhnya dengan mata yang masih tertutup rapat.
"bangun yuk.. temenin aku makan diluar.." ajak Arash. Mendengar suara laki-laki itu membuat Ziana langsung membuka kelopak matanya dan duduk.
"kamu.. sejak kapan ada disini.?" tanya Ziana.
"eemmhh.. sekitar 17 menit yang lalu" jawab Arash sambil menatap jam tangan mewahnya.
Ziana menghela nafas mendengar jawaban laki-laki itu sebelum akhirnya berdiri "mau kemana?" tanya Arash.
"cuci muka, mau ikut?" jawab Ziana cuek sedangkan Arash hanya tersenyum mendengar nada perempuan itu "boleh kalau diijinkan" balasnya sambil berteriak karena Ziana sudah hampir masuk kedalam kamar mandi yang ada di ruangannya.
Perempuan itu hanya menoleh sesaat seraya melotot tajam, sebelum akhirnya kembali melanjutkan langkahnya. Sementara Arash tersenyum simpul, laki-laki itu paling suka melihat Ziana jika perempuan itu sudah mulai kesal, karena terkesan lucu dimatanya.
Kini kedua manusia itu sudah berada didalam mobil milik Arash, untuk makan diluar sesuai keinginan Arash yang ingin makan di restoran favorit si laki-laki pemaksa itu.
Sepanjang perjalanan Ziana hanya diam dan menatap lalu-lalang kendaraan yang begitu padat merayap di siang yang terik ini, sedangkan Arash memilih fokus dengan kemudi, karena perutnya yang sudah minta diisi sejak tadi.
Ini adalah pertama kali bagi Arash mendengar perempuan itu bernyanyi, dan tanpa sadar laki-laki itu menarik kedua sudut bibirnya membentuk sebuah lengkungan senyum, karena suara Ziana yang merdu dan sangat enak didengar oleh telinganya.
Beberapa saat setelah lagu itu habis, mereka pun sampai ditempat tujuan, Arash langsung memarkirkan mobilnya.
Restoran tersebut merupakan salah satu restoran favorit, jadi tempat parkir disana sangat penuh, jadilah Arash memarkirkan mobilnya diseberang jalan, yang memang disiapkan si pemilik restoran jika sedang ramai pengunjung seperti ini.
Keduanya lalu berpegangan tangan untuk sampai ke restoran tersebut yang berada diseberang jalan, namun karena ada telpon penting yang masuk di ponsel Arash, jadi laki-laki itu meminta Ziana untuk duluan.
Ziana pun mengangguk karena sepertinya yang menelpon merupakan rekan bisnis laki-laki itu.
Ziana yang sedang tidak fokus itu mulai menengok ke kanan dan ke kiri sebelum menyeberang, setelah menengok berkali-kali namun tidak ada kendaraan, perempuan itu pun mulai melangkah.
Namun entah datang dari mana, tiba-tiba saja saat Ziana sudah berada tepat ditengah jalan, sebuah mobil hitam melaju dengan kecepatan tinggi, membuat seorang Ziana tidak bisa berfikir cepat.
"aaaarrghhh.."
Arash yang sedang berbicara ditelpon pun menoleh dengan cepat ketika mendengar suara teriakan Ziana yang begitu keras.
Ponsel yang ada ditangannya pun terlepas dari genggaman dan jatuh begitu saja. laki-laki itu segera berlari dan menghampiri suara tersebut namun terlambat.
*Bruukkk*
Suara benturan yang sangat keras itu seakan meruntuhkan langit Arash Wijaya..
\*\*\*\*\*
Happy Reading 💞💞 💞