
Disebuah klub malam terlihat seorang pemuda yang terus meracau tak jelas tanpa memperdulikan sekitar.
Entah sudah berapa banyak minuman har*m yang pemuda itu teguk, hingga jalannya sempoyongan tak beraturan.
Tidak ada seorang pun yang peduli dengannya, semua yang ada di dalam sana tentu memiliki masalah dan urusannya masing-masing, hingga mereka tidak memiliki waktu untuk mengurus permasalahan orang lain.
Tapi itu tidak berlaku bagi Bryan, yang sejak awal masuk klub sudah memperhatikan pemuda mabuk itu wajahnya seperti tidak asing, tapi dimana aku pernah melihatnya batin Bryan tanpa melepaskan tatapannya.
"Aaarrrggghhh si*lan lo bang*at, liat aja gue gak akan diam aja setelah apa yang lo lakuin sama keluarga gue badjing*n" terdengar suara pemuda itu berteriak memaki salah seorang pengunjung yang tidak sengaja lewat dan menabraknya pelan, namun karena terlampau mabuk, sehingga pemuda itu jatuh terduduk
"Sorry gue gak sengaja" terdengar lelaki yang menabraknya meminta maaf kemudian kembali melanjutkan langkahnya dengan tergesa
Entah mendapat tenaga darimana, pemuda itu berdiri kemudian meraih kursi yang tak jauh darinya, lalu tanpa aba-aba ia langsung melemparkan kursi tersebut kearah lelaki yang tidak sengaja menabrak bahunya hingga ia terjatuh.
Tepat sasaran, kursi tersebut melayang dan tepat mengenai punggung lelaki tadi, telak.
Keadaan berubah menjadi tidak kondusif, lelaki itu berbalik badan dan menyerang pemuda mabuk yang dengan lancang membuat tulang belakangnya seperti ingin patah, akibat benturan keras dari kursi yang berbahan dasar besi, pada bagian rangkanya.
"Lo laki apa banci hah!! Beraninya nyerang dari belakang" cetus lelaki itu melotot, menatap nyalang pemuda mabuk tadi yang terduduk dilantai setelah mencicipi tendangannya.
Merasa direndahkan dengan kata banci yang lelaki itu lontarkan, membuat pemuda tadi sontak berdiri kasar dengan rahang yang mengeras, marah.
Selama beberapa bulan bergabung di Bloody Rose membuat pemuda yang tak lain adalah Panji, banyak belajar tentang ilmu beladiri dari sana, namun karena keadaannya yang sedang mabuk berat membuatnya tidak sanggup menghadapi lelaki itu.
Beruntung temannya segera datang dan melerai perkelahian mereka, sebab jika tidak maka bisa dipastikan bahwa wajah yang selalu Panji banggakan itu akan hancur menerima pukulan demi pukulan yang tidak bisa ia hindari.
Bryan yang masih berada di sana terkesiap manakala mendengar nama pemuda itu dari temannya yang tadi melerai
"Panji udah stop, Lo bisa mati konyol b3go" maki temannya tidak habis pikir dengan emosi Panji yang selalu tidak terkontrol
Meskipun sempat terkejut, namun itu tidak berlangsung lama Ternyata dia bocah ingusan yang sudah berani cari gara-gara itu batinnya tersenyum misterius, tanpa melepas pandangannya dari kedua pemuda yang hendak pergi itu.
Malam semakin larut namun Ziana masih terjaga. Setelah memastikan Arash sudah tertidur lelap, wanita itu perlahan melepaskan rengkuhan hangat sang suami dan beranjak meninggalkan kamar, setelah meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas.
Bukan bermaksud lain, namun Ziana masih mempunyai urusan yang tidak ingin melibatkan Arash. Sudah cukup suaminya itu terluka dan Ziana tidak ingin melihat sang suami terluka lagi untuk yang kesekian kali, *sudah cukup, jangan lagi* pikir Ziana.
Ziana meneguk air dingin yang diambilnya dari dalam lemari es, *kabur dari dekapan Arash ternyata lebih menegangkan daripada kabur dari sekapan musuh* batin Ziana menghela nafas panjang
Setelah membasahi tenggorokannya yang serasa tercekat, wanita itu meraih ponselnya dari saku piyama yang dia kenakan, seraya mendaratkan bokongnya di kursi.
Jemari tangannya dengan cepat mencari kontak Jessica, sebelum Arash terbangun danย sadar dengan ketidakadaan dirinya disisi sang suami.
Namun sayang, Ziana harus menelan kekecewaan sebab sudah panggilan yang hampir ke sepuluh namun Jessica tak kunjung mengangkat panggilannya "CK..kemana dia? Apa terjadi sesuatu padanya?" Gumamnya bertanya dalam hati.
Ziana menggeleng menepis pikirannya yang terlalu jauh, kemudian kembali mencoba untuk yang kesekian, *semoga kali ini bisa* ucapnya optimis, akan tetapi masih sama seperti sebelumnya, tidak diangkat.
Wanita itu menyerah, dan dengan terpaksa dia kembali ke kamar sambil menggerutu dalam hati karena tidak mendapatkan info yang dia inginkan.
*Ck, kalau seperti ini percuma saja aku kabur, awas saja kau Jess kalau besok ketemu*
Ucap Ziana dalam hati, kesal sendiri mengingat perjuangannya untuk keluar dari kamar yang hanya berujung sia-sia
Jessica memang jago dalam beladiri, musuh seperti apapun tidak pernah membuatnya gentar, namun perempuan itu memiliki ketakutan berlebih terhadap makhluk tak kasat mata. Meskipun banyak yang beranggapan bahwa makhluk tersebut tidak benar ada, namun Jessica beranggapan lain.
Makhluk seperti itu benar-benar ada, dan Jessica amat percaya, karena ia pernah beberapa kali mengalami kejadian tak terduga saat masih kecil yang berhubungan dengan makhluk seperti itu, dan itu meninggalkan trauma dalam hidup Jessica.
Baginya lebih baik dia berhadapan dengan musuh paling kejam daripada harus berhadapan dengan makhluk tak kasat mata yang sudah pernah mengalami kematian sebelumnya.
Perempuan itu mulai gelisah, mencari-cari ponselnya untuk menghubungi siapa saja, namun sial karena sepertinya benda pipih berbentuk persegi itu tertinggal di apartemennya kala ia terlalu terburu-buru setelah mendapat telepon dari sekertaris Dita yang menanyakan keberadaan Dian, adiknya.
*kenapa harus tertinggal disaat genting seperti ini sih, Tuhan*. keluhnya berusaha untuk tetap tenang meskipun tidak segampang itu
Meninggalkan Jessica dengan ketakutannya, kita beralih kekediaman Wijaya dimana Ziana terlihat mengendap-endap bak maling kala memasuki kamarnya sendiri, ralat kamar suaminya.
Cklek
Berusaha se-pelan mungkin memutar kenop pintu agar tidak sampai mengganggu tidur nyenyak sang suami adalah tujuan Ziana.
Huuffftt
Ziana menghembuskan nafas lega sebelum membaringkan tubuhnya di samping Arash yang nampak tak terganggu sedikitpun.
Dia tertidur seperti bayi batin Ziana menatap wajah tenang dan damai Arash dalam jarak yang sangat dekat.
Puas menatapi wajah tampan sang suami, Ziana kemudian menelusup kan wajahnya di dada bidang Arash yang terekspos, mencari kenyamanan di sana seraya melingkarkan tangannya di pinggang kokoh itu.
Tidak butuh waktu lama kantuk pun menyerang, Ziana terlelap hanya dalam beberapa menit saja di dalam dekapan hangat Arash yang juga membalas pelukannya.
Kedua kelopak mata yang sejak tadi terpejam itu perlahan terbuka, kala mendengar dengkuran halus dari bibir Ziana.
Arash melonggarkan pelukannya, menatap lekat wajah cantik yang hanya berjarak beberapa centi saja dari wajahnya, dengan pandangan rumit.
Sebenarnya apa yang sedang kamu *tutupi* dariku, Sayang...
\*\*\*\*\*