About Ziana

About Ziana
Chapter 116



Keesokan harinya Ziana memaksa untuk pulang ke apartemennya, ia bahkan mengancam untuk mogok bicara lagi seperti yang dilakukannya 2 hari yang lalu jika Arash tidak mengikuti keinginannya.


"baiklah kau menang sayang.." desah Arash frustasi.


Kali ini gantian Ziana yang tersenyum bahagia setelah kemarin Arash berhasil menahannya dirumah sakit.


"ayo.." ajak Ziana yang sudah berjalan lebih dahulu meninggalkan Arash yang masih menggerutu dibelakangnya.


Ziana memelototinya, membuat Arash menyusul langkah perempuan itu.


Mereka berjalan secara beriringan menuju ke mobil, dimana sekertaris Jhon sudah menunggu mereka.


"loh.. kok bukan sekertaris Dita sih.." protes Ziana setelah melihat bahwa bukan Dita yang menjemputnya melainkan seorang laki-laki botak.


"dia sekertaris aku, namanya Jhon"


"oohh.." Ziana ber oh ria lalu masuk kedalam mobil yang pintunya sudah dibukakan oleh sekertaris Jhon, kemudian Arash menyusul.


Selama di perjalanan tidak ada yang bersuara, mereka sepertinya asik dengan pikirannya masing-masing.


Setelah sampai di depan apartemen Ziana, Arash langsung turun dan membukakan pintu untuk Ziana.


"kamu langsung kembali ke kantor" perintah Arash kepada sekertarisnya.


"baik tuan" setelah itu Jhon kembali tancap gas dan kembali kekantor sesuai yang di perintahkan Arash.


"kamu mau ngapain?" tanya Ziana setelah melihat Arash yang menyusulnya.


"mau nemenin kamu"


"emang gak kerja?" kembali Ziana bertanya.


"aku libur" jawab Arash cuek.


Satu alis Ziana naik keatas "libur, atau meliburkan diri" celetuk Ziana.


Arash menggaruk kepalanya yang tidak gatal "ayo masuk.. panas banget disini" ucap Arash mengalihkan pembicaraan.


Ziana menggeleng kemudian berjalan mendahului Arash "ayo.." ucapnya.


Arash mengikuti langkah Ziana yang sudah beberapa langkah di depannya.


Hap


Arash berhasil menyamakan langkah dan tanpa aba-aba langsung saja ia merengkuh pinggang ramping Ziana.


Ziana menoleh dan hendak mengomel namun dengan cepat Arash meletakkan jari telunjuknya di depan bibir Ziana, membuat perempuan itu tidak jadi mengucapkan apapun.


🌹🌹🌹


Sementara itu Zara tengah berdiri tak jauh dari tempat Arash dan Ziana untuk melihat keadaan putrinya.


Zara hanya sendiri, sebab Luis sudah kembali ke negaranya 2 hari yang lalu karena ada pekerjaan penting yang harus ditanganinya.


Zara terus menatap kearah Ziana dan Arash, namun saat menoleh kesamping pandangannya tidak sengaja melihat seseorang yang gerak-geriknya mencurigakan.


Zara terus mengawasi orang tersebut sambil sesekali melihat kearah Ziana, sampai putrinya itu masuk kedalam lift.


Karena terlalu asyik melihat Ziana, Zara jadi kehilangan jejak orang misterius tadi.


"kemana dia?" gumam Zara.


Wanita itu terus mengedarkan pandangannya namun tidak menemukan keberadaan orang yang dianggapnya misterius tadi.


"sudahlah mungkin dia sudah pergi" kata Zara, sebelum ia meninggalkan tempat tersebut.


Setelah kepergian Zara, sosok misterius itu keluar dari persembunyiannya.


"hampir saja ketahuan" gumam orang misterius itu yang merupakan perempuan yang sama yang datang tempo hari di kantor Arash.


Sementara itu Agler yang juga berada di sekitaran apartemen Ziana melihat bahwa ada 2 orang mencurigakan yang sedang mengawasi Ziana.


"siapa mereka? dan apa tujuan mereka mengikuti Zizi?" batin Agler bertanya-tanya.


Agler terus memperhatikan kedua orang itu yang menurutnya sangat misterius "apakah mereka mata-mata yang dikirim seseorang untuk memata-matai Zizi? tapi siapa?" ucap Agler menerka-nerka.


Namun setelah melihat dua orang itu pergi, Agler sedikit menghela nafas lalu mulai menghidupkan mesin mobilnya dan pergi dari sana "mungkin hanya orang iseng" pikirnya.


🌹🌹🌹


Zara kembali ke rumah yang diberikan oleh Arash tempo hari kepadanya, setelah Luis pergi.


Sebenarnya Zara tidak ingin menerima pemberian calon menantunya itu karena merasa tidak pantas mendapatkannya, namun ia juga tidak ingin mengecewakan Arash yang sudah membantunya untuk kembali ke kota kelahirannya, dan terlepas dari suami gilanya.


"maafkan aku karena sudah mewariskan alergi itu.." lirih Zara menatap foto Ziana di layar ponselnya yang dia ambil secara diam-diam.


"Aku merasa lega karena kau memiliki orang-orang yang baik disisi mu" Zara menatap foto Ziana seolah sedang berbicara dengannya.


Tanpa sadar air mata Zara menetes.


Selama ini Zara menyesal karena telah meninggalkan anak dan suaminya hanya demi karir.


Dan kini tidak ada yang bisa Zara lakukan, bahkan untuk menemui putrinya dan meminta maaf pun Zara tidak berani.


Zara terlalu takut akan penolakan dari Ziana, seperti yang pernah ia lakukan dulu kepada putrinya.


Zara termenung, ia masih mengingat jelas perbuatan jahatnya dulu kepada Ziana dan Bagas hingga membuatnya menangis sesenggukan.


🌹🌹🌹


Setelah mengantar Ziana sampai kedalam apartemen, Arash kini sedang menikmati secangkir kopi panas buatan Ziana.


Sementara Ziana masuk kedalam kamarnya setelah menghidangkan kopi untuk Arash, entah apa yang dilakukan Ziana, Arash pun tidak tahu.


Selang beberapa menit Ziana kembali menemui Arash setelah berganti pakaian.


"mau ngomongin apa?" tanya Ziana setelah duduk disebelah Arash.


"soal persiapan pernikahan kita" jawab Arash setelah meneguk kopi buatan Ziana.


"owhh" ujar Ziana cuek.


Arash mengernyit mendengar jawaban Ziana yang terkesan datar dan cuek.


Baru saja Arash ingin berucap namun Ziana sudah lebih dulu memotongnya "aku juga mau ngomongin sesuatu.." ucap Ziana semakin datar.


Perasaan Arash sudah mulai tidak enak melihat ekspresi perempuan yang duduk disebelahnya.


Namun Arash tetap mengangguk "katakanlah" ucap Arash setenang mungkin.


"sebenarnya aku..


"tunggu.." ucapan Ziana terhenti karena ponsel Arash yang berbunyi.


Ziana menatap Arash seolah bertanya.


"sekertaris Jhon" kata Arash memperlihatkan ponselnya kearah Ziana.


"owhh"


"sebentar ya, aku angkat telepon dulu" pamit Arash seraya berdiri kemudian mengusap kepala Ziana.


Ziana hanya mengangguk.


****


Happy Reading 💞💞 💞