
Pagi menyapa, di kediaman Wijaya terlihat Ariana tengah berkutat di dapur, wanita paruh baya itu sedang sibuk membuat sarapan untuk seluruh anggota keluarganya.
Setelah selesai dengan kegiatannya, Ariana kembali ke kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian. barulah kemudian wanita itu membangunkan semua anggota keluarga.
Di mulai dari papa Arnan, setelah papa Arnan bangun, Ariana berjalan ke kamar cucunya, namun wanita itu tidak mendapati keberadaan sang cucu.
Ariana mencoba berfikir positif, mungkin cucunya tidur di kamar Arash pikirnya.
jadilah wanita itu menghampiri kamar Arash, setelah beberapa kali mengetuk pintu tapi tak ada jawaban, akhirnya Ariana membuka pintu kamar anaknya dan ternyata kosong, tidak ada siapa-siapa.
"apa anak itu gak pulang ya, semalem?" tanya Ariana pada dirinya sendiri.
Kini Ariana berpindah ke kamar anak perempuannya, satu-satunya kamar yang sering di datangi oleh Attar.
setelah mengetuk pintu beberapa kali hasilnya tetap sama, tidak ada yang menjawab. Alhasil Ariana membuka pintu tersebut yang ternyata tidak terkunci.
Cklek
Ariana mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan namun kosong, tidak ada siapa-siapa di kamar itu. mengecek kamar mandi tetap sama tidak ada siapa-siapa.
Ariana panik, karena dirinya tidak mendapati siapapun baik di kamar cucunya maupun kamar kedua anaknya.
"pa...papa.." Ariana berlari menuruni tangga sambil berteriak.
Arnan yang sudah rapi dan duduk di meja makan terkejut mendengar teriakan istrinya itu.
Bergegas pria paruh baya itu menghampiri sang istri.
"ya ampun ma stop, jangan berlari di tangga" peringat Arnan ikut panik melihat kelakuan Ariana.
"Pa.. anak-anak Pa.." ucapan Ariana tersendat sehabis berlari.
Arnan memegang kedua bahu wanita yang sangat dicintainya itu dan menuntunnya untuk duduk di sofa ruang tamu.
"mama tenang dulu, setelah itu baru jelasin pelan-pelan" kata Arnan ikut duduk di samping Ariana.
setelah menarik nafas Ariana mulai mengatakan bahwa dirinya tidak mendapati Attar dan juga kedua anaknya.
"permisi tuan, nyonya" sela seorang ART yang semalem mengangkat telepon dari Aruna.
"saya minta maaf tuan, nyonya, saya lupa menyampaikan pesan dari nona Aruna" ucapnya bersimpuh di hadapan kedua majikannya.
"berdirilah" titah Ariana, wanita itu tidak suka di perlakukan seperti seorang ratu yang harus di sembah oleh para pekerjanya.
"katakan, sebenarnya ada apa" ujar Arnan.
ART itu pun lalu menjelaskan bahwa semalam tuan Arash dan nona Aruna membawa Attar kerumah sakit karena demam tinggi.
"saya benar-benar minta maaf, karena saya lupa menyampaikan pesan penting ini kepada tuan dan nyonya" kata sang ART memohon.
"sudah bi, kembalilah bekerja, saya dan istri saya akan kerumah sakit sekarang juga" ucap Arnan tidak ingin ART tersebut menyalahkan dirinya terus menerus.
"baik tuan terimakasih, saya permisi" pamit sang ART sopan.
Setelah kepergian ART tersebut, Arnan meraih tangan istrinya kemudian mengajaknya untuk kerumah sakit melihat keadaan cucu kesayangannya.
Sesampainya di rumah sakit, Ariana langsung berlari ke arah cucu kesayangannya yang masih tertidur nyenyak di atas bed hospital.
Sementara Arash yang baru bisa tidur setelah adzan berkumandang kini masih tertidur di kursi yang berada di samping ranjang dengan posisi kepala menyender ke tembok.
Ariana yang tadinya ingin memarahi anaknya mengurungkan niatnya karena merasa kasihan melihat keadaan anaknya itu.
"Mama sama papa sudah sampai" sapa Aruna ketika keluar dari kamar mandi. tidak lupa gadis itu menyalami kedua orangtuanya.
"Maafin Aruna ya Ma, Pa, semalem kita panik jadi gak sempat bangunin kalian" ucap Aruna menatap kedua orangtuanya secara bergantian.
"tidak apa sayang, tapi lain kali kalau ada apa-apa bilang ya, kamu tidak tau betapa khawatirnya mama sama papa" ujar Ariana dan diangguki oleh Arnan.
"iya sayang, kalau ada apa-apa lain kali bilang sama papa sama mama" timpal Arnan mengusap bahu Aruna.
"iya Pa"
Beberapa menit kemudian Arash terbangun ketika mendengar suara Mama sama Papanya.
Lelaki itu pun bergegas masuk ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya.
"Mama sama Papa kapan datang?" tanya Arash sambil melap wajahnya dengan tisu.
"baru saja" jawab Arnan.
"kalian berdua pulanglah dulu, Aruna juga kan harus sekolah" titah sang Mama yang kini duduk di kursi samping tempat tidur.
"tapi Ma.."
"Benar kata mama kamu Rash, kamu pulanglah dulu, sekalian antar adikmu" Sela Arnan bijak.
Arash tidak punya pilihan selain mengikuti ucapan kedua orangtuanya itu.
"titip Attar ya Pa, Ma" kata Arash sebelum meninggalkan ruangan anaknya. Tidak lupa laki-laki itu menyalami tangan kedua orangtuanya begitu juga dengan Aruna.
******
Happy Reading 💕💕💕