
Sekembalinya dari mengantar Ziana, Arash tidak henti-hentinya tersenyum seperti seorang laki-laki yang baru saja mengenal cinta.
Sambil bersenandung kecil laki-laki itu berjalan di lobi perusahaan sambil menyapa semua karyawan yang berpapasan dengannya.
Semua karyawan kantor merasa heran melihat perilaku CEO mereka pagi ini yang wajahnya nampak berseri-seri.
"si bos kenapa sih?" bisik salah satu karyawannya.
"gak tau, abis dapat jackpot kali" jawab temannya ikut berbisik.
"tingkah bos aneh banget tapi lucu hihi" celetuk yang lainnya.
"hus..hus..kalian ini malah ngegosip aja, ayo masuk, kedengaran sama orangnya baru tahu rasa" sahut temannya yang lain, satu-satunya cowok diantara mereka.
Mendengar sahutan cowok itu mereka pun akhirnya bubar dan melanjutkan aktivitasnya masing-masing.
Setibanya di ruang kerjanya, John sekertarisnya sudah mengikutinya untuk memberikan jadwal dan mengantarkan berkas yang harus ditandatangani nya.
Setelah duduk, Arash langsung menandatangani berkas tersebut tanpa membacanya terlebih dahulu.
"gak dibaca dulu pak.." ujar John yang melihat Arash langsung tanda tangan saja tanpa mengetahui isi dari berkas tersebut.
Arash mendongak "kan sudah kamu baca, jadi apa bedanya?" laki-laki itu balik bertanya dengan nada cuek.
"bapak tidak takut, kalau saya berkhianat" celetuk sang sekertaris spontan.
Arash hanya menanggapinya enteng "gampang..tinggal saya minta anak buah saya untuk memenggal kepalamu dan mengirimnya ke keluargamu"
Mendengar itu John langsung keringat dingin, sekertaris itu sudah pernah melihat betapa menyeramkannya Arash ketika marah, dan John tidak ingin apa yang diucapkan oleh bosnya itu mejadi kenyataan.
"ampun bos.. saya hanya bercanda. kalau begitu saya permisi" ujar John meraih berkasnya dengan cepat dan keluar dari ruangan Arash dengan terburu-buru.
Arash tertawa kecil seraya menggeleng melihat John yang ketakutan, lalu laki-laki itu memulai pekerjaannya sambil terus bersenandung.
Sementara itu kini Ziana sudah berada dirumah sakit tempat Regan di rawat. didalam ruangan sudah terlihat Fero dan Tristan yang sedang berbincang dengan Regan tentang kejadian semalam.
"permisi" ucap Ziana tiba-tiba, membuat ketiga pria itu mendadak bisu.
Ziana mendekat kearah Regan dan mencengkeram bahu pria itu, sengaja karena merasa kesal dengan Regan yang telah menyembunyikan kebenaran darinya.
Perempuan itu telah mengetahui tentang luka-luka yang dialami Regan dibagian mana saja, karena sebelumnya perempuan itu sudah terlebih dahulu menemui dokter Valerie sebelum keruangan Regan.
Pria itu meringis sembari memejamkan matanya erat karena Ziana dengan sengaja menekan keras bahu yang tulangnya retak akibat dibanting oleh Agler.
"sshhh..ampun Zi sakit" ucap Regan mendesis "aahh iyaa iya aku minta maaf" mohon pria itu.
"bagus kalau kau menyadari kesalahanmu.."
"kalian berdua..berhenti disana" sentak Ziana ketika ekor matanya melihat pergerakan kedua pria yang tadi berdiri dibelakngnya ingin kabur darinya.
Tristan dan Fero mematung ditempatnya, mereka menyadari kesalahannya yang telah menyembunyikan kebenaran tentang Agler selama ini.
"kami minta maaf, tolong ampuni kami queen" ucap keduanya berlutut dan mengiba, berharap Ziana akan memaafkannya.
"saya tidak butuh permintaan maaf kalian" ujar Ziana dengan nada tegas membuat keduanya langsung terdiam masih dengan posisi yang sama.
Tiba-tiba pintu ruangan Regan terbuka, menampilkan Lucas dengan pakaian santainya.
"ohh maaf mengganggu" ucap Lucas mundur setelah sadar apa yang terjadi.
"saya ada perlu dengan Regan" kata Lucas jujur.
"katakan" ucap Ziana singkat namun tegas membuat Lucas tidak bisa untuk menolak.
"saya cuma ingin mengatakan kalau saya akan ke kota S untuk menyelidiki sesuatu, dan jika dalam 3 hari saya tidak kembali, tolong kirimkan bala bantuan, karena firasat saya tidak enak tentang kasus ini" ujar Lucas dengan lugasnya.
"kasus apa itu?" tanya Ziana penasaran.
Lucas pun menceritakan tentang Leon yang notabenenya adalah kekasih dari Aruna, dan beberapa waktu yang lalu dirinya pernah berjanji kepada pemuda itu untuk membantunya mencari tahu tentang keberadaan kakaknya.
Tidak lupa Lucas pun menceritakan tentang sosok Lyan yang merupakan asisten dari Alex Fernandez.
Ziana terlihat serius mendengar penjelasan Lucas. '*Alex Fernandez, hemm..menarik*' gumam perempuan itu menyeringai tipis
"kalian berdua.." ujar Ziana tiba-tiba menunjuk Fero dan Tristan.
"siap queen" jawab mereka secara serempak
"sebagai hukuman karena telah membohongi saya, kalian berdua saya tugaskan untuk menemani Lucas ke kota S dan laporkan apa saja yang kalian ketahui, mengerti?" Ujar Ziana datar.
"baik queen kami mengerti" jawab keduanya menunduk sementara Lucas merasa bersyukur karena Ziana mencarikan teman untuknya kesana.
"bagus, pergilah" kata Ziana lagi.
"baik queen kami permisi"
Sementara itu diluar Lucas tidak sengaja berpapasan dengan Valerie yang juga ingin masuk keruangan Regan.
Pandangan mereka bertemu, terkunci untuk beberapa saat sebelum akhirnya Lucas membuang pandangannya terlebih dahulu.
"permisi" ujar dokter Valerie menunduk dan berlalu meninggalkan Lucas yang masih berdiri ditempatnya.
Lelaki itu berbalik dan menatap punggung dokter Valerie hingga punggung itu tidak terlihat lagi karena telah masuk kedalam ruangan.
"Woii cepetan" teriak Fero membuat lamunan Lucas buyar, Lelaki itu menggelengkan kepalanya untuk mengembalikan kesadarannya yang telah terbuai oleh pesona dokter Valerie.
Ketiganya pun meninggalkan area rumah sakit tersebut untuk bersiap sebelum berangkat ke kota S.
\*\*\*
Happy Reading 💞💞 💞